Ubi Ungu Dinilai Lebih Sehat untuk Olahan Kekinian

Lifestyle Clara Monica 31 Mei 2026 23:03 WIB 2
Ubi Ungu Dinilai Lebih Sehat untuk Olahan Kekinian

Olahan ubi kembali menjadi tren di media sosial, mulai dari ubi panggang hingga ubi dengan cream cheese dan aneka topping kekinian. Di tengah banyaknya pilihan, dokter gizi menyarankan masyarakat untuk mempertimbangkan ubi ungu karena kandungan antosianinnya yang tinggi.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa warna ungu pada ubi berasal dari antosianin, yakni pigmen alami yang juga banyak ditemukan pada blueberry dan anggur ungu. Senyawa ini dikaitkan dengan aktivitas antioksidan dan anti-peradangan yang bermanfaat bagi kesehatan.

Manfaat Ubi Ungu

Menurut dr Tjandra, ubi ungu dapat menjadi pilihan yang baik bagi masyarakat yang ingin mengonsumsi sumber karbohidrat dengan nilai tambah gizi. Kandungan antosianin di dalamnya membuat ubi ini menonjol dibandingkan jenis ubi lainnya.

Ia menyebut antosianin sebagai zat warna alami yang mengandung banyak flavonoid dan polifenol. Kedua senyawa tersebut dikenal memiliki sifat anti-peradangan yang mendukung kesehatan tubuh.

Manfaat ubi ungu juga disebut berkaitan dengan perlindungan terhadap stres oksidatif. Kondisi ini penting karena dapat memengaruhi berbagai fungsi organ jika berlangsung terus-menerus.

Dengan kandungan tersebut, ubi ungu dinilai cocok sebagai bagian dari pola makan seimbang. Namun, manfaat ini tetap bergantung pada cara pengolahan dan porsi yang dikonsumsi.

Kandungan Antosianin Ubi

Sebuah ulasan yang dipublikasikan dalam jurnal Molecules pada 2019 mencatat kandungan antosianin ubi ungu dapat mencapai sekitar 218 hingga 244 mg per 100 gram. Besaran ini dapat berbeda tergantung varietas dan metode pengolahan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa ubi ungu memiliki potensi gizi yang cukup kuat. Karena itu, bahan pangan ini semakin banyak diperhatikan dalam kajian kesehatan dan nutrisi.

Antosianin juga kerap dikaitkan dengan efek antioksidan yang membantu menangkal radikal bebas. Dalam jangka panjang, senyawa ini dinilai mendukung upaya menjaga kesehatan metabolik.

Selain itu, warna alami pada ubi ungu membuatnya menarik secara visual tanpa perlu tambahan pewarna. Hal ini menjadi nilai tambah bagi konsumen yang mencari makanan sehat sekaligus menarik.

Relevan untuk Risiko Penyakit

dr Tjandra menyebut ubi ungu bermanfaat bagi orang yang berisiko mengalami penyakit tidak menular, seperti diabetes dan hipertensi. Kandungan antosianin di dalamnya dinilai dapat mendukung pola makan yang lebih sehat.

Ia menegaskan bahwa pilihan makanan tetap penting dalam pencegahan penyakit kronis. Konsumsi bahan pangan yang tepat dapat membantu menjaga kondisi tubuh lebih stabil.

Bagi masyarakat yang memiliki risiko metabolik, ubi ungu bisa dijadikan alternatif camilan atau pengganti sumber karbohidrat tertentu. Meski demikian, pilihan penyajian tetap perlu diperhatikan agar manfaatnya tidak berkurang.

Dengan pengolahan yang tepat, ubi ungu dapat menjadi bagian dari menu harian yang lebih sehat. Konsumsi ini akan lebih optimal bila disesuaikan dengan kebutuhan gizi masing-masing orang.

Perhatikan Topping Dan Porsi

Meski sehat, manfaat ubi ungu dapat menurun jika ditambahkan topping tinggi gula dan lemak jenuh secara berlebihan. Tambahan seperti itu justru bisa meningkatkan asupan kalori secara signifikan.

dr Tjandra mengingatkan masyarakat agar tetap bijak dalam memilih topping saat mengonsumsi olahan ubi yang sedang viral. Prinsip ini penting agar makanan tetap lezat tanpa mengorbankan kualitas gizi.

Porsi juga perlu dijaga agar konsumsi ubi tidak berlebihan. Makanan sehat sekalipun tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan energi harian.

Dengan pilihan topping yang lebih ringan, ubi ungu bisa tetap menjadi camilan sehat dan menarik. Masyarakat disarankan mengutamakan bahan tambahan yang sederhana, rendah gula, dan rendah lemak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!