Ubi Cream Cheese Viral, Pakar Ingatkan Risiko Kalori

Lifestyle Clara Monica 22 Mei 2026 09:37 WIB 6
Ubi Cream Cheese Viral, Pakar Ingatkan Risiko Kalori

Ubi cream cheese tengah menjadi camilan yang ramai diburu di pusat perbelanjaan dan media sosial. Di sebuah mal di Kabupaten Tangerang, antrean pembeli terlihat mengular pada Kamis, 14 Mei 2026, karena makanan ini dianggap lebih sehat dibanding dessert manis lain. Namun, di balik popularitasnya, ahli gizi mengingatkan bahwa tampilan sehat tidak selalu sejalan dengan kandungan gizinya.

Ubi sebagai bahan dasar memang memiliki citra sebagai real food yang lebih baik dibanding olahan tepung. Meski begitu, tambahan cream cheese dan topping manis dapat membuat total kalori, gula, serta lemak meningkat. Karena itu, konsumen perlu lebih cermat agar tidak terjebak pada anggapan bahwa semua olahan ubi otomatis menyehatkan.

Ubi Cream Cheese dan Kandungan Gizi

Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, menegaskan bahwa ubi memang tergolong bahan pangan yang baik. Ubi mengandung karbohidrat kompleks dan serat yang bermanfaat bagi tubuh. Akan tetapi, manfaat tersebut bisa berubah saat diolah dengan tambahan bahan tinggi kalori.

Menurut dr Raissa, persepsi sehat sering muncul karena bahan utamanya adalah ubi. Padahal, proses pengolahan dapat menambah lemak dan gula secara signifikan. Akibatnya, camilan yang terlihat sederhana bisa menjadi lebih padat energi daripada yang diperkirakan.

Ia menjelaskan bahwa tambahan cream cheese menjadi salah satu sumber lemak yang perlu diperhatikan. Jika porsinya besar, kandungan kalori pada satu porsi juga ikut naik. Kondisi ini membuat ubi cream cheese tidak bisa langsung disebut sebagai snack sehat.

Karena itu, masyarakat disarankan memahami komposisi makanan sebelum membelinya. Pilihan bahan dasar yang sehat tidak otomatis menghasilkan makanan sehat secara keseluruhan. Pemahaman ini penting agar konsumsi camilan tetap sesuai kebutuhan tubuh.

Alasan Ubi Cream Cheese Diburu

Popularitas ubi cream cheese tidak lepas dari tren kuliner yang cepat menyebar di media sosial. Tampilan yang menarik dan rasa manis gurih membuat camilan ini mudah menarik perhatian konsumen. Faktor tersebut kemudian mendorong pembeli untuk ikut mencoba meski sebelumnya tidak mengenalnya.

Di lapangan, antusiasme masyarakat terlihat dari panjangnya antrean di sejumlah gerai. Banyak pengunjung rela menunggu demi mencicipi makanan yang sedang viral tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa tren visual dan rekomendasi publik masih sangat berpengaruh terhadap pilihan konsumsi.

Selain itu, ubi cream cheese sering dipersepsikan lebih aman karena memakai bahan yang akrab di masyarakat. Ubi selama ini identik dengan makanan rumahan yang sederhana dan mengenyangkan. Persepsi tersebut membuat produk ini lebih mudah diterima sebagai camilan harian.

Namun, popularitas tidak selalu sejalan dengan kualitas gizi. Konsumen perlu membedakan antara makanan yang sedang tren dan makanan yang benar-benar menyehatkan. Tanpa kehati-hatian, kebiasaan membeli camilan viral bisa menambah asupan kalori berlebih.

Risiko Jika Dimakan Berlebihan

Dr Raissa mengingatkan, konsumsi berlebihan menjadi masalah utama pada makanan yang dianggap sehat. Saat porsi tidak dikontrol, total kalori dari ubi cream cheese bisa setara dengan dessert lain. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat mengganggu pola makan seimbang.

Masalah lain muncul dari kandungan gula dan lemak yang berasal dari topping. Penambahan bahan tersebut sering kali tidak disadari karena tertutup oleh citra sehat dari ubi. Padahal, justru komponen tambahan itulah yang sering meningkatkan nilai energi secara signifikan.

Konsumen juga cenderung merasa aman lalu makan tanpa batas. Anggapan bahwa makanan berbahan dasar ubi pasti lebih baik dapat memicu konsumsi yang berlebihan. Sikap ini berisiko membuat asupan harian melampaui kebutuhan tubuh.

Untuk itu, porsi perlu dijaga dan frekuensi konsumsi sebaiknya tidak terlalu sering. Masyarakat dapat menjadikan ubi cream cheese sebagai camilan sesekali, bukan menu rutin. Dengan begitu, risiko kelebihan kalori bisa ditekan.

Cara Bijak Menyantap Ubi Cream Cheese

Langkah paling sederhana adalah memperhatikan ukuran porsi sebelum membeli. Porsi kecil akan membantu menjaga asupan kalori tetap terkendali. Selain itu, konsumen juga sebaiknya tidak menambah topping yang terlalu banyak.

Pilihan bahan tambahan yang lebih ringan dapat menjadi alternatif. Pengurangan gula dan pembatasan cream cheese dapat menekan kandungan lemak pada makanan. Dengan demikian, cita rasa tetap ada tanpa membuat beban kalori melonjak terlalu tinggi.

Konsumen juga perlu menyeimbangkan camilan dengan makanan utama yang bergizi. Asupan harian akan lebih baik bila tetap mencakup protein, sayur, buah, dan cairan yang cukup. Pola makan semacam ini membantu tubuh tetap sehat meski sesekali menikmati makanan viral.

Tren ubi cream cheese menunjukkan bahwa masyarakat mudah tertarik pada makanan yang tampilannya menggoda. Namun, pilihan yang bijak tetap menjadi kunci agar tren tidak mengganggu kesehatan. Memahami isi makanan jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti popularitasnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!