Ubi Cream Cheese Viral, Ini Saran Dokter agar Lebih Seimbang

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 02:51 WIB 2
Ubi Cream Cheese Viral, Ini Saran Dokter agar Lebih Seimbang

Olahan ubi dengan topping cream cheese tengah ramai dibicarakan di media sosial karena dianggap praktis dan lezat. Namun, di balik tren tersebut, dokter mengingatkan bahwa kombinasi ubi dan cream cheese belum tentu cukup seimbang dari sisi gizi.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa perpaduan karbohidrat dan lemak seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Ia menyarankan masyarakat menambah sumber protein agar menu tersebut lebih lengkap dan bermanfaat bagi tubuh.

Ubi Cream Cheese Seimbang

Menurut dr Tjandraningrum, ubi dengan cream cheese pada dasarnya merupakan variasi menu yang menggabungkan karbohidrat dan lemak. Ia menilai tren ini mirip dengan kebiasaan lama saat cream cheese lebih sering dipadukan dengan roti. Kombinasi tersebut tidak keliru, tetapi tetap perlu diperhatikan komposisi gizinya. Karena itu, masyarakat disarankan tidak hanya terpaku pada cita rasa yang sedang populer.

Dalam konteks makan harian, isi piring ideal semestinya tidak didominasi satu kelompok zat gizi saja. Ubi memang memberi energi, sementara cream cheese menambah rasa dan tekstur yang creamy. Meski demikian, keduanya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh secara menyeluruh. Keseimbangan menjadi penting agar menu viral tetap mendukung kesehatan.

Dokter juga menekankan bahwa tren makanan kekinian sebaiknya tidak membuat masyarakat mengabaikan prinsip gizi seimbang. Pilihan topping yang tampak menarik belum tentu memberikan manfaat yang memadai. Karena itu, menu ubi dengan cream cheese perlu dilengkapi bahan lain yang lebih bernutrisi. Dengan begitu, makanan tetap enak sekaligus lebih bermanfaat.

Protein Masih Kurang

dr Tjandraningrum menilai olahan ubi dengan cream cheese cenderung rendah protein jika hanya mengandalkan dua bahan tersebut. Padahal, protein berperan penting dalam menjaga massa otot dan memperbaiki jaringan tubuh. Selain itu, protein juga membantu tubuh merasa kenyang lebih lama. Kondisi ini membuat konsumsi protein perlu diperhatikan dalam setiap kali makan.

Ia menyebut kandungan protein pada ubi dan cream cheese sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan tubuh. Dalam satu kali makan, kebutuhan protein umumnya berada pada kisaran yang lebih tinggi. Jika hanya mengandalkan menu tersebut, asupan harian berisiko tidak tercapai. Karena itu, tambahan protein menjadi langkah yang lebih bijak.

Fungsi protein tidak berhenti pada pembentukan otot saja, tetapi juga membantu proses metabolisme tubuh secara keseluruhan. Asupan yang cukup dapat mendukung aktivitas harian agar tubuh tetap bugar dan tidak cepat lapar. Sebaliknya, menu yang minim protein cenderung kurang mengenyangkan. Hal ini dapat mendorong seseorang mencari camilan tambahan di luar jam makan.

Tambahan Menu Lebih Lengkap

Untuk membuat olahan ubi lebih seimbang, dr Tjandraningrum menyarankan tambahan sumber protein dari bahan lain. Ia menyebut edamame atau kacang sebagai pilihan yang mudah ditemui. Telur juga bisa menjadi alternatif karena mengandung protein dan lemak baik. Dengan tambahan tersebut, kandungan gizi menu akan terasa lebih lengkap.

Penambahan protein juga membantu memperlambat pengosongan lambung sehingga kenaikan gula darah setelah makan berlangsung lebih bertahap. Temuan dalam jurnal Diabetes Care menunjukkan bahwa kombinasi karbohidrat dan protein dapat memberi respons yang lebih stabil bagi tubuh. Karena itu, pilihan topping sebaiknya tidak hanya berfokus pada rasa manis atau gurih. Komposisi yang tepat akan memberi manfaat yang lebih besar.

Jika diolah dengan cermat, ubi tetap bisa menjadi menu yang sehat dan mengenyangkan. Kuncinya ada pada pemilihan pendamping yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Masyarakat dapat menyesuaikan bahan tambahan sesuai selera dan ketersediaan. Namun, prinsip utamanya tetap sama, yaitu menghadirkan keseimbangan gizi dalam satu sajian.

Tren Viral Perlu Bijak

Popularitas ubi dengan cream cheese menunjukkan bahwa masyarakat mudah tertarik pada makanan yang terlihat menarik di media sosial. Meski begitu, tren kuliner tetap perlu disikapi dengan bijak agar tidak mengorbankan kualitas gizi. Makanan viral bukan berarti selalu lebih sehat daripada pilihan lain. Evaluasi terhadap kandungan nutrisinya tetap diperlukan.

Dalam pola makan sehari-hari, masyarakat dianjurkan memahami bahwa rasa enak dan gizi seimbang harus berjalan beriringan. Pilihan makanan yang tepat dapat membantu menjaga energi, rasa kenyang, dan kesehatan tubuh. Sebaliknya, menu yang kurang lengkap bisa membuat asupan menjadi tidak optimal. Karena itu, edukasi gizi menjadi bagian penting dalam memilih makanan.

Olahan ubi dengan cream cheese masih bisa dinikmati selama porsinya terkontrol dan komposisinya diperbaiki. Menambahkan protein dan menjaga keseimbangan bahan akan membuat hidangan ini lebih bernilai. Dengan langkah sederhana, menu kekinian dapat berubah menjadi pilihan yang lebih sehat. Tren pun tetap bisa dinikmati tanpa mengabaikan kebutuhan tubuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!