Olahan ubi dengan topping cream cheese tengah ramai di media sosial karena dinilai praktis, mengenyangkan, dan mudah dibuat. Namun, ahli gizi mengingatkan agar masyarakat tidak hanya mengikuti tren, melainkan juga memperhatikan keseimbangan zat gizi dalam satu sajian.
Dokter spesialis gizi klinik dr. Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa kombinasi karbohidrat dan cream cheese bukanlah hal baru. Menurutnya, agar lebih lengkap, menu viral tersebut sebaiknya ditambah sumber protein seperti telur, edamame, atau kacang-kacangan.
Ubi Cream Cheese dan Gizi
dr. Tjandraningrum menilai ubi dengan cream cheese pada dasarnya merupakan variasi menu yang menggabungkan karbohidrat dan lemak. Ia menyebut konsep tersebut mirip dengan kebiasaan lama saat cream cheese lebih sering dipadukan dengan roti. Karena itu, tren ubi cream cheese bukan sesuatu yang benar-benar baru dalam pola konsumsi masyarakat.
Meski demikian, ia menyoroti bahwa kandungan protein pada kombinasi ubi dan cream cheese cenderung rendah. Bila hanya mengandalkan dua bahan tersebut, kebutuhan gizi dalam sekali makan belum terpenuhi secara seimbang. Kondisi ini membuat menu tersebut lebih cocok dilengkapi bahan lain yang bernutrisi.
Menurut dr. Tjandra, masyarakat perlu melihat menu viral ini sebagai dasar, bukan hidangan yang sudah sempurna. Ubi memang menyumbang karbohidrat, sedangkan cream cheese memberi tambahan lemak dan rasa gurih. Akan tetapi, tanpa protein tambahan, komposisi gizinya masih kurang ideal untuk konsumsi harian.
Protein Bantu Seimbangkan Menu
Dokter menyarankan masyarakat menambahkan sumber protein pada olahan ubi cream cheese agar nilai gizinya lebih lengkap. Pilihan yang dapat digunakan antara lain telur, edamame, atau kacang-kacangan. Bahan-bahan tersebut juga dapat memberikan variasi rasa dan tekstur pada sajian.
Ia menjelaskan bahwa protein berperan penting dalam menjaga massa otot dan memperbaiki jaringan tubuh. Selain itu, protein juga membantu memberikan rasa kenyang lebih lama setelah makan. Dengan demikian, menu akan terasa lebih seimbang dibanding hanya mengandalkan karbohidrat dan lemak.
Penambahan protein juga dinilai membantu masyarakat mengelola porsi makan dengan lebih baik. Saat rasa kenyang bertahan lebih lama, keinginan untuk makan berlebihan dapat berkurang. Pola ini dinilai mendukung kebiasaan makan yang lebih teratur dan sehat.
Pengaruh Pada Gula Darah
Temuan dalam jurnal Diabetes Care menunjukkan bahwa konsumsi protein bersama makanan sumber karbohidrat dapat memperlambat pengosongan lambung. Proses ini membuat kenaikan gula darah setelah makan berlangsung lebih bertahap. Karena itu, kombinasi protein dan karbohidrat dinilai lebih aman dibanding menu tinggi gula.
dr. Tjandraningrum menilai prinsip tersebut relevan diterapkan pada olahan ubi cream cheese. Bila menu hanya berisi karbohidrat dan lemak, tubuh tidak memperoleh manfaat tambahan yang cukup dari protein. Akibatnya, kandungan gizi makanan menjadi kurang optimal untuk kebutuhan sekali makan.
Ia menambahkan bahwa masyarakat perlu lebih cermat saat memilih topping makanan yang sedang tren. Popularitas di media sosial tidak selalu sejalan dengan nilai gizi yang dibutuhkan tubuh. Oleh sebab itu, penyusunan menu tetap harus mengutamakan keseimbangan nutrisi.
Pilihan Menu Lebih Sehat
Untuk menjadikan ubi cream cheese lebih sehat, masyarakat dapat menyesuaikan isian sesuai kebutuhan gizi harian. Telur rebus, kacang, atau edamame dapat menjadi pilihan sederhana yang mudah ditemukan. Dengan tambahan tersebut, menu yang viral bisa berubah menjadi hidangan yang lebih lengkap.
Jika ingin tetap mempertahankan rasa manis dan gurih, porsi cream cheese juga sebaiknya tidak berlebihan. Penggunaan bahan secukupnya dapat membantu mengurangi asupan lemak yang terlalu tinggi. Langkah ini penting agar sajian tetap nikmat tanpa mengorbankan kualitas gizinya.
Secara keseluruhan, ubi cream cheese masih boleh dikonsumsi selama porsinya terkontrol dan komposisinya seimbang. Kuncinya adalah menambahkan protein agar menu tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mendukung kebutuhan tubuh. Dengan cara itu, tren makanan dapat diikuti tanpa mengabaikan aspek kesehatan.
