Ubi Cream Cheese Viral, Dokter Ingatkan Risiko Kalori

Lifestyle BRH 21 Mei 2026 14:21 WIB 6
Ubi Cream Cheese Viral, Dokter Ingatkan Risiko Kalori

Ubi cream cheese tengah menjadi camilan yang ramai diburu di media sosial dan pusat perbelanjaan. Di sebuah mal di Kabupaten Tangerang, pengunjung tampak rela mengantre pada Kamis, 14 Mei 2026, untuk mendapatkan dessert yang sedang naik daun itu. Popularitasnya muncul karena bahan dasar ubi dinilai lebih dekat dengan makanan utuh dan dianggap lebih ringan dibanding dessert manis lain.

Meski demikian, anggapan bahwa ubi cream cheese otomatis sehat tidak sepenuhnya tepat. Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, menegaskan bahwa tambahan topping tinggi lemak dan gula dapat meningkatkan total kalori secara signifikan. Menurutnya, makanan berbahan dasar ubi tetap perlu dilihat dari komposisi keseluruhan, bukan hanya dari bahan utamanya.

Ubi Jadi Daya Tarik

Ubi cream cheese menarik perhatian karena menggabungkan tren kuliner kekinian dengan citra bahan yang lebih alami. Banyak konsumen menilai ubi sebagai real food yang lebih sehat daripada olahan berbasis tepung atau roti. Persepsi ini membuat dessert tersebut mudah diterima sebagai pilihan camilan harian.

Di lapangan, minat pembeli terhadap produk ini terlihat dari antrean panjang di gerai penjualan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa daya tarik makanan viral tidak hanya berasal dari rasa, tetapi juga dari narasi kesehatannya. Ketika sebuah produk dianggap lebih baik bagi tubuh, konsumen cenderung lebih cepat tertarik mencoba.

Namun, popularitas tidak selalu sejalan dengan kualitas gizi. Ubi memang mengandung karbohidrat kompleks dan serat, tetapi nilai itu bisa berubah ketika dipadukan dengan bahan tambahan yang padat kalori. Karena itu, publik perlu lebih cermat membaca komposisi sebelum menganggapnya sebagai makanan sehat.

Catatan Dari Ahli Gizi

dr Raissa menjelaskan bahwa tambahan cream cheese dapat membuat kadar lemak dalam sajian meningkat. Bila porsinya besar dan disajikan dengan gula tambahan, total energi yang masuk ke tubuh juga ikut bertambah. Kondisi ini membuat ubi cream cheese berpotensi setara dengan dessert lain dari sisi kalori.

Ia menekankan, label sehat kerap membuat seseorang lengah saat mengonsumsinya. Akibatnya, porsi yang dimakan bisa menjadi berlebihan karena merasa makanan tersebut lebih aman bagi tubuh. Padahal, total gula, lemak, dan kalorinya tetap perlu diperhitungkan dengan serius.

Dengan demikian, ubi cream cheese sebaiknya dinikmati sebagai camilan sesekali, bukan konsumsi rutin tanpa kendali. Pilihan yang lebih bijak adalah menjaga porsi dan memperhatikan tambahan topping yang digunakan. Jika ingin lebih sehat, konsumen dapat meminta tambahan manis dan krim yang lebih sedikit.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!