Ubi cream cheese tengah ramai diburu pengunjung di pusat perbelanjaan dan media sosial, termasuk di Kabupaten Tangerang pada Kamis, 14 Mei 2026. Popularitasnya muncul karena banyak orang menilai camilan ini lebih sehat dibanding dessert manis lain, lantaran berbahan dasar ubi.
Meski demikian, dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, mengingatkan bahwa olahan ubi dengan topping kekinian tidak otomatis sehat. Menurut dia, tambahan cream cheese dan bahan manis lain dapat menaikkan kalori, lemak, serta gula secara signifikan.
Ubi Cream Cheese dan Persepsi Sehat
Ubi cream cheese menjadi populer karena tampil sebagai camilan yang dianggap lebih ringan. Banyak konsumen mengaitkannya dengan bahan dasar ubi yang dinilai lebih alami.
Persepsi itu mendorong anggapan bahwa dessert tersebut lebih baik daripada kudapan berbasis tepung. Padahal, penilaian sehat tidak cukup hanya dilihat dari bahan utamanya.
Di sejumlah gerai, minat pembeli terlihat tinggi karena tren di media sosial ikut membentuk rasa penasaran. Situasi ini membuat antrean panjang menjadi pemandangan yang umum.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa label sehat sering kali terbentuk dari kesan visual dan narasi populer. Konsumen kemudian terdorong membeli tanpa menimbang komposisi lengkap produk.
Pandangan Dokter Gizi
dr Raissa menegaskan bahwa ubi memang termasuk bahan pangan yang baik. Ubi mengandung karbohidrat kompleks dan serat yang bermanfaat bagi tubuh.
Namun, manfaat itu bisa berubah ketika olahan ditambahkan topping tinggi lemak dan gula. Dalam kondisi tersebut, nilai gizi keseluruhan perlu dihitung secara utuh.
Ia menilai banyak orang terjebak pada asumsi bahwa bahan dasar sehat otomatis menjadikan produknya sehat. Menurut dia, anggapan itu tidak selalu tepat.
Karena itu, masyarakat perlu melihat komposisi, porsi, dan cara penyajian sebelum membeli. Kebiasaan membaca kandungan produk dapat membantu mencegah konsumsi berlebihan.
Kalori Topping Perlu Diwaspadai
Tambahan cream cheese menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh pada peningkatan kalori. Semakin banyak topping yang digunakan, semakin besar pula asupan lemak yang masuk ke tubuh.
Selain cream cheese, pemakaian saus manis atau taburan gula juga dapat menambah beban energi pada satu porsi sajian. Kondisi ini membuat dessert tersebut tidak jauh berbeda dari camilan manis lain.
dr Raissa mengingatkan bahwa makanan yang terlihat sederhana belum tentu rendah kalori. Penampilan yang menarik sering kali menutupi kandungan gula dan lemak yang tinggi.
Hal itu penting diperhatikan oleh konsumen yang sedang menjaga berat badan atau pola makan. Jika tidak dibatasi, asupan harian bisa melampaui kebutuhan tubuh.
Cermat Memilih Camilan Viral
Konsumen disarankan tidak menjadikan istilah sehat sebagai alasan untuk makan tanpa batas. Semua makanan tetap perlu dilihat dari jumlah dan frekuensi konsumsinya.
Ubi cream cheese boleh saja dinikmati sesekali, selama porsinya wajar. Pilihan ini akan lebih aman bila diimbangi dengan pola makan harian yang seimbang.
Ahli gizi juga mendorong masyarakat untuk tidak mudah tertarik pada tren kuliner hanya karena viral. Keputusan membeli sebaiknya tetap mempertimbangkan kebutuhan tubuh, bukan sekadar popularitas.
Dengan sikap cermat, masyarakat dapat menikmati makanan kekinian tanpa mengabaikan kesehatan. Prinsip utamanya adalah memahami bahwa sehat tidak hanya ditentukan oleh bahan utama, tetapi juga keseluruhan komposisi sajian.
