Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Kalori Tersembunyi

Lifestyle Anindya Kirana Putri 25 Mei 2026 06:08 WIB 5
Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Kalori Tersembunyi

Ubi cream cheese belakangan ramai diburu di media sosial dan pusat perbelanjaan karena dianggap sebagai camilan yang lebih sehat. Di sebuah pusat perbelanjaan di Kabupaten Tangerang, Kamis (14/5/2026), pengunjung terlihat rela mengantre untuk mendapatkan dessert tersebut. Popularitasnya muncul karena bahan utama ubi kerap dipersepsikan sebagai real food yang lebih baik dibanding dessert berbasis roti. Namun, ahli gizi mengingatkan bahwa kesan sehat itu bisa menyesatkan jika topping yang digunakan terlalu berlebihan.

Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, menegaskan bahwa ubi memang mengandung karbohidrat kompleks dan serat. Meski demikian, olahan ubi dengan tambahan cream cheese, gula, atau topping tinggi lemak tetap dapat meningkatkan total kalori. Menurutnya, status bahan utama yang sehat tidak otomatis membuat seluruh produk olahannya menjadi lebih sehat. Karena itu, konsumen perlu melihat komposisi secara utuh, bukan hanya bahan dasarnya.

Ubi cream cheese viral

Ubi cream cheese menjadi sorotan karena tampil sebagai dessert yang mengikuti tren makanan kekinian. Teksturnya yang lembut dan cita rasanya yang manis-gurih membuat produk ini mudah diterima banyak orang. Di beberapa lokasi, antrean pembeli menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap camilan tersebut. Kondisi itu sekaligus memperkuat persepsi bahwa makanan berbahan ubi identik dengan pilihan yang lebih baik.

Persepsi tersebut muncul karena ubi selama ini dikenal sebagai sumber karbohidrat yang lebih alami. Banyak konsumen menganggap ubi lebih dekat dengan real food dibandingkan olahan tepung atau roti. Padahal, nilai gizi akhir sangat bergantung pada cara penyajian dan bahan tambahan yang dipakai. Jika topping dan sausnya tinggi gula, manfaat dari bahan dasar bisa tertutupi oleh kandungan lainnya.

Tren makanan viral seperti ini kerap memanfaatkan citra sehat untuk menarik perhatian pembeli. Dalam praktiknya, label sehat tidak selalu sejalan dengan kandungan energi yang rendah. Konsumen perlu lebih cermat membaca porsi dan komposisi sebelum membeli. Dengan begitu, pilihan camilan tetap bisa disesuaikan dengan kebutuhan gizi harian.

Ahli gizi beri peringatan

Dr Raissa menilai, tambahan cream cheese dapat menaikkan kadar lemak dan kalori secara signifikan. Ia menjelaskan bahwa ubi memang sehat, tetapi tambahan topping justru bisa mengubah profil gizinya. Dalam konteks ini, makanan yang tampak sederhana dapat menjadi tinggi energi. Karena itu, penilaian terhadap makanan tidak boleh berhenti pada bahan utamanya saja.

Ia juga menekankan bahwa konsumsi berlebihan berisiko terjadi ketika makanan sudah terlanjur diberi label sehat. Banyak orang merasa aman mengonsumsi lebih banyak karena mengira camilan berbahan ubi tidak seberat dessert lain. Anggapan itu, menurutnya, tidak selalu benar karena total gula dan lemak tetap harus dihitung. Jika porsinya besar, dampaknya bisa setara dengan makanan manis pada umumnya.

Penjelasan tersebut penting agar masyarakat tidak salah kaprah dalam memilih camilan. Makanan berbahan dasar ubi tetap perlu dilihat sebagai bagian dari pola makan seimbang. Kehati-hatian dibutuhkan terutama saat produk tersebut dipadukan dengan saus, keju, atau taburan manis. Dengan kontrol porsi yang tepat, ubi cream cheese masih dapat dinikmati tanpa berlebihan.

Bahaya porsi berlebihan

Masalah utama dari makanan viral bukan hanya pada bahan, tetapi juga pada cara konsumsi. Saat pembeli menganggap produk tertentu sehat, mereka cenderung tidak membatasi porsi. Kebiasaan ini berisiko menambah asupan kalori harian tanpa disadari. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat mengganggu pengaturan berat badan.

Tambahan gula dan lemak dari topping juga perlu diperhitungkan dengan serius. Meski tampak kecil, kontribusi kalorinya bisa besar jika digunakan dalam jumlah banyak. Hal ini membuat dessert yang awalnya terlihat ringan berubah menjadi camilan padat energi. Karena itu, konsumen sebaiknya tidak hanya terpaku pada rasa, tetapi juga komposisi nutrisi.

Dr Raissa mengingatkan bahwa makanan sehat tetap harus dikonsumsi secara proporsional. Ubi sebagai bahan dasar memang memberi nilai tambah dari sisi serat dan karbohidrat kompleks. Namun, manfaat tersebut dapat berkurang jika dilengkapi bahan tinggi gula dan lemak. Prinsip utamanya adalah menyeimbangkan antara kenikmatan dan kebutuhan tubuh.

Pilih camilan lebih bijak

Masyarakat dapat menikmati tren kuliner baru tanpa mengabaikan aspek kesehatan. Kuncinya adalah memilih porsi kecil, membatasi topping manis, dan tidak menjadikannya konsumsi harian. Dengan cara itu, ubi cream cheese masih bisa menjadi pilihan sesekali tanpa membebani asupan kalori. Langkah sederhana ini membantu menjaga pola makan tetap terkendali.

Konsumen juga sebaiknya membandingkan kandungan gizi antarproduk sebelum membeli. Informasi tentang gula, lemak, dan ukuran sajian menjadi penting untuk membaca risiko konsumsi. Kebiasaan membaca komposisi dapat membantu menghindari salah persepsi terhadap makanan viral. Di tengah maraknya tren dessert kekinian, literasi gizi menjadi semakin relevan.

Pada akhirnya, camilan berbahan ubi tidak otomatis lebih sehat hanya karena berasal dari bahan alami. Yang menentukan tetaplah keseluruhan resep, porsi, dan frekuensi konsumsi. Dengan pemahaman itu, masyarakat bisa menikmati makanan viral secara lebih cerdas. Ubi cream cheese pun bisa diposisikan sebagai hiburan kuliner, bukan makanan sehat yang bebas batas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!