Ubi Cream Cheese Ramai, Ahli Gizi Sarankan Tambahan Protein

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 18:14 WIB 2
Ubi Cream Cheese Ramai, Ahli Gizi Sarankan Tambahan Protein

Olahan ubi dengan topping cream cheese belakangan ramai dibicarakan di media sosial karena tampilannya menarik dan rasanya dianggap cocok di lidah banyak orang. Di tengah tren itu, dokter spesialis gizi klinik dr. Tjandraningrum, SpGK mengingatkan bahwa kombinasi tersebut tetap perlu dilihat dari sisi kandungan gizi. Menurut dia, mengandalkan ubi dan cream cheese saja belum cukup seimbang untuk sekali makan. Masyarakat disarankan menambahkan sumber protein agar menu lebih lengkap.

Dr. Tjandraningrum menjelaskan bahwa perpaduan karbohidrat dan lemak seperti ubi dengan cream cheese sebenarnya bukan hal baru. Sebelum tren ini muncul, cream cheese lebih sering dipadukan dengan roti. Ia menilai variasi menu semacam ini sah-sah saja selama komposisinya diperhatikan. Kuncinya ada pada keseimbangan zat gizi dalam satu porsi.

Ubi Cream Cheese dan Gizi

Menurut dr. Tjandraningrum, ubi dan cream cheese pada dasarnya adalah variasi menu yang menggabungkan karbohidrat dan lemak. Ia menyebut, perpaduan tersebut tidak menjadi masalah jika dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang beragam. Namun, pilihan topping sebaiknya tidak hanya fokus pada rasa dan tren. Asupan gizi tetap perlu menjadi pertimbangan utama.

Ia menambahkan, olahan ubi cream cheese cenderung rendah protein bila hanya mengandalkan dua bahan itu. Dalam satu kali makan, kandungan protein dari kombinasi tersebut dinilai belum memadai. Padahal, protein penting untuk membantu tubuh bekerja optimal. Karena itu, menu ini sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya sumber nutrisi.

Protein memiliki peran penting dalam menjaga massa otot dan memperbaiki jaringan tubuh. Selain itu, protein juga membantu memberi rasa kenyang lebih lama. Kondisi ini penting agar seseorang tidak cepat lapar setelah makan. Dengan begitu, pola makan harian bisa menjadi lebih terkendali.

Dr. Tjandraningrum menegaskan bahwa ubi dan cream cheese saja belum cukup memenuhi kebutuhan protein dalam sekali makan. Ia menyebut kebutuhan protein per porsi makan umumnya berkisar 10 hingga 20 gram. Sementara kandungan protein pada ubi dan cream cheese diperkirakan hanya sekitar 2 gram. Selisih itu menunjukkan perlunya tambahan bahan lain yang lebih bernutrisi.

Tambahan Protein yang Dianjurkan

Untuk membuat menu lebih seimbang, dr. Tjandraningrum menyarankan penambahan sumber protein lain. Edamame dan kacang dapat menjadi pilihan yang praktis untuk melengkapi ubi. Telur juga bisa digunakan karena mengandung protein dan lemak baik. Kombinasi ini dinilai lebih mendukung kebutuhan tubuh saat makan.

Menurut dia, tambahan protein akan membantu memperbaiki kualitas gizi dari olahan ubi cream cheese. Menu yang semula hanya dominan karbohidrat dan lemak dapat menjadi lebih lengkap. Hal ini penting terutama bagi orang yang ingin menjaga pola makan sehat. Rasa enak tetap bisa diperoleh tanpa mengorbankan keseimbangan nutrisi.

Ia juga menilai pilihan topping yang lebih bernutrisi tidak harus sulit disiapkan. Bahan seperti kacang, edamame, atau telur relatif mudah ditemukan. Masyarakat bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan kebiasaan makan masing-masing. Dengan demikian, makanan tetap praktis sekaligus lebih bermanfaat.

Dalam pandangan gizi, tren makanan yang populer sebaiknya tidak hanya dilihat dari tampilannya. Setiap bahan perlu diperhitungkan agar tubuh memperoleh zat gizi yang sesuai. Ubi dan cream cheese masih bisa dinikmati, asalkan tidak berdiri sendiri. Penambahan protein menjadi langkah sederhana untuk membuatnya lebih seimbang.

Protein dan Gula Darah

Temuan dalam jurnal Diabetes Care menunjukkan konsumsi protein bersama makanan sumber karbohidrat dapat membantu memperlambat pengosongan lambung. Proses ini membuat kenaikan gula darah setelah makan berlangsung lebih bertahap. Dengan kata lain, tubuh tidak menerima lonjakan gula secara cepat. Efek ini dinilai lebih menguntungkan bagi metabolisme.

Karbohidrat yang dikonsumsi bersama protein juga cenderung memberi rasa kenyang yang lebih stabil. Kondisi tersebut dapat membantu mengurangi keinginan makan berlebihan setelahnya. Bagi sebagian orang, hal ini penting untuk menjaga kontrol asupan harian. Karena itu, komposisi menu menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan.

Jika hanya mengandalkan topping tinggi lemak atau gula, menu bisa terasa menarik tetapi kurang ideal dari sisi gizi. Konsumsi seperti itu berisiko tidak memberi keseimbangan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Sebaliknya, protein dapat membantu menutup kekurangan tersebut. Pilihan makanan yang lebih bijak akan memberi manfaat jangka panjang.

Dr. Tjandraningrum menilai masyarakat perlu lebih cermat saat mengikuti tren makanan di media sosial. Tren boleh diikuti, tetapi komposisi gizi tetap harus diperhatikan. Ubi cream cheese dapat menjadi menu yang enak, namun perlu pelengkap agar lebih sehat. Dengan tambahan protein, olahan ini bisa menjadi pilihan yang lebih seimbang untuk dikonsumsi.

Tren Makanan dan Pilihan Sehat

Popularitas ubi cream cheese menunjukkan bahwa masyarakat kini mudah tertarik pada menu yang visualnya menarik. Namun, popularitas tidak selalu sejalan dengan kualitas gizi. Karena itu, edukasi soal komposisi makanan tetap dibutuhkan. Informasi dari tenaga kesehatan dapat membantu publik membuat pilihan yang lebih tepat.

Dalam praktik sehari-hari, masyarakat bisa menyesuaikan menu dengan kebutuhan masing-masing. Jika ingin mengonsumsi ubi, pilihan topping sebaiknya diarahkan pada bahan yang memberi manfaat lebih besar. Protein, serat, dan lemak baik dapat menjadi kombinasi yang lebih ideal. Pola seperti ini membantu makanan tetap lezat sekaligus bernilai gizi.

Ahli gizi menekankan bahwa tujuan utama makan bukan hanya kenyang, tetapi juga memenuhi kebutuhan tubuh. Setiap porsi sebaiknya mengandung unsur yang mendukung energi, pemulihan, dan kenyamanan setelah makan. Ubi cream cheese masih dapat masuk dalam menu, asalkan ada penyeimbangnya. Prinsip sederhana ini dapat diterapkan tanpa harus mengubah kebiasaan makan secara drastis.

Dengan tambahan protein dari edamame, kacang, atau telur, olahan ubi cream cheese bisa menjadi lebih sehat dan mengenyangkan. Masyarakat juga dapat mengurangi ketergantungan pada topping yang terlalu manis atau tinggi lemak. Pilihan tersebut membuat tren kuliner tetap bisa dinikmati tanpa mengabaikan gizi. Pada akhirnya, keseimbangan tetap menjadi kunci utama dalam memilih makanan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!