Tujuh Jenis Istirahat untuk Atasi Lelah

Lifestyle Clara Monica 24 Mei 2026 08:47 WIB 6
Tujuh Jenis Istirahat untuk Atasi Lelah

Banyak orang mengeluhkan tubuh tetap terasa lelah saat bangun tidur, meski sudah beristirahat delapan jam. Kondisi ini mendorong Dr. Saundra Dalton-Smith, dokter spesialis penyakit dalam, meneliti jenis kelelahan yang tidak selalu teratasi oleh tidur semata.

Melalui pengalamannya merawat pasien, dokter asal Alabama itu menemukan bahwa rasa lelah bisa muncul dari berbagai kebutuhan yang belum terpenuhi. Dalam buku Sacred Rest yang terbit pada 2017, ia menjelaskan tujuh jenis istirahat yang dapat disesuaikan dengan sumber kelelahan masing-masing orang.

Istirahat fisik dan mental

Istirahat fisik tidak selalu berarti tidur lebih lama, karena tubuh juga membutuhkan jeda dari aktivitas yang menguras tenaga. Dr. Dalton-Smith menjelaskan bahwa yoga, stretching, dan pijat dapat menjadi bentuk istirahat aktif yang membantu tubuh pulih.

Aktivitas ringan seperti itu dapat mengurangi stres dan melancarkan aliran darah ke otot. Dengan tubuh yang lebih rileks, seseorang biasanya lebih mudah kembali fokus menjalani rutinitas harian.

Istirahat mental dibutuhkan ketika pikiran terasa penuh dan sulit berhenti bekerja meski tubuh sudah berhenti beraktivitas. Salah satu cara yang disarankan adalah menulis jurnal sebelum tidur agar beban pikiran lebih tertata.

Sejumlah orang juga merasa lebih segar setelah berolahraga ringan, seperti berlari atau jogging. Saat bergerak, perhatian ikut tertuju pada ritme tubuh sehingga pikiran yang semrawut perlahan mereda.

Istirahat spiritual dan emosional

Istirahat spiritual berkaitan dengan kebutuhan batin yang berbeda pada setiap orang. Seseorang dapat mencarinya melalui komunitas keagamaan yang sejalan dengan keyakinan masing-masing.

Kegiatan seperti beribadah, berdoa, dan berbagi kepada sesama juga bisa memberi ketenangan batin. Saat kebutuhan spiritual terpenuhi, tubuh dan pikiran kerap terasa lebih ringan menghadapi tekanan hidup.

Istirahat emosional diperlukan ketika seseorang lelah harus tampil ramah dan menyembunyikan perasaan sebenarnya. Keadaan ini kerap muncul saat terlalu sering berinteraksi tanpa ruang untuk jujur pada diri sendiri.

Membuka cerita kepada orang terdekat yang dipercaya dapat membantu emosi lebih seimbang. Jika dibutuhkan, konsultasi dengan terapis profesional juga dapat menjadi langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan mental.

Istirahat sensorik dan sosial

Istirahat sensorik dibutuhkan ketika tubuh dan otak terlalu lama terpapar rangsangan dari gadget, musik, atau keramaian. Paparan laptop, ponsel, dan headset yang terus-menerus dapat membuat indera seolah tidak pernah berhenti bekerja.

Dr. Dalton-Smith menyebut otak pun membutuhkan jeda dari rangsangan tersebut, termasuk dari hal yang disukai seperti buku favorit. Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah memejamkan mata dan duduk tenang selama beberapa saat.

Istirahat sosial penting bagi orang yang merasa lelah karena harus terus bersosialisasi. Walau manusia adalah makhluk sosial, terlalu banyak interaksi tetap bisa menguras energi.

Memprioritaskan waktu bersama orang-orang terdekat dapat membantu menjaga keseimbangan emosi. Mengatur ulang jadwal agar tidak terlalu padat juga menjadi langkah yang relevan untuk memulihkan tenaga.

Istirahat kreatif yang dibutuhkan

Istirahat kreatif diperlukan ketika seseorang kesulitan memecahkan masalah atau kehilangan kemampuan bertukar pikiran dengan jernih. Kondisi ini sering muncul saat otak dipaksa bekerja tanpa jeda dalam waktu lama.

Untuk memulihkannya, seseorang bisa melakukan aktivitas artistik yang tidak terlalu membebani pikiran. Mengunjungi museum atau menonton pertunjukan musik dapat memberi ruang bagi imajinasi untuk beristirahat.

Konsep tujuh jenis istirahat ini menunjukkan bahwa kelelahan tidak selalu bisa diatasi dengan tidur semalam penuh. Setiap orang perlu mengenali sumber lelahnya agar langkah pemulihan yang dipilih lebih tepat sasaran.

Dengan memahami perbedaan antara istirahat fisik, mental, spiritual, emosional, sensorik, sosial, dan kreatif, seseorang bisa lebih peka terhadap kebutuhan tubuhnya sendiri. Pendekatan ini dapat membantu menjaga kebugaran sekaligus kualitas hidup dalam jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!