Produk UMKM Indonesia kembali menunjukkan daya saing di pasar global, kali ini melalui sarung tenun Kainnesia yang berhasil menarik pembeli dari Malaysia. Nilai pesanan tersebut mencapai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta, dan menjadi bukti bahwa produk berbasis budaya memiliki peluang besar di pasar ekspor.
Kisah ini datang dari Kainnesia, atau Kain Tenun Indonesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024. Melalui pendampingan tersebut, Kainnesia berhasil menggandeng ratusan penenun dari berbagai daerah, sekaligus membawa tenun nusantara menembus panggung internasional.
Tenun Kainnesia Tembus Ekspor
Founder sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, menyampaikan bahwa permintaan dari Malaysia menjadi pencapaian penting bagi pengembangan usaha. Pesanan itu membuktikan bahwa tenun Indonesia memiliki nilai jual yang kuat di luar negeri. Menurut dia, kualitas produk dan narasi budaya menjadi kombinasi yang menarik bagi buyer internasional. Karena itu, Kainnesia terus menjaga standar produksi agar tetap konsisten.
Selain pesanan dari Malaysia, produk Kainnesia juga hadir di berbagai ajang internasional. Beberapa di antaranya adalah Osaka World Expo Japan 2025 dan Korea Import Fair di Seoul. Kehadiran di pameran tersebut membuka ruang temu dengan buyer dari Jepang, Australia, hingga Malaysia. Peluang itu sekaligus memperluas jejaring pemasaran bagi tenun Indonesia.
Nur menegaskan bahwa tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang harus terus dikembangkan. Ia menilai keberlanjutan usaha tenun sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha membaca perubahan pasar. Karena itu, Kainnesia mendorong inovasi desain tanpa meninggalkan nilai tradisi. Upaya ini dilakukan agar tenun tetap relevan dengan generasi muda.
Dalam pandangan Kainnesia, pasar ekspor tidak hanya soal volume penjualan, tetapi juga soal reputasi produk. Setiap pesanan yang datang dari luar negeri memperkuat kepercayaan terhadap kualitas tenun Indonesia. Kondisi tersebut memberi sinyal positif bagi pelaku UMKM lain yang bergerak di sektor kriya. Dengan strategi yang tepat, produk lokal dinilai mampu bersaing di tingkat global.
UMKM Binaan Naik Kelas
Nur Salam menjelaskan bahwa dampak program Pertapreneur Aggregator tidak berhenti pada Kainnesia sebagai penerima manfaat utama. Program itu juga memberi efek berantai kepada UMKM binaan yang terlibat dalam rantai usaha. Saat ini, total tenaga kerja dari 37 UMKM mitra telah mencapai lebih dari 400 orang. Angka tersebut mencerminkan perluasan manfaat ekonomi di tingkat lokal.
Menurut Nur, peningkatan kapasitas UMKM binaan terlihat dari sisi produksi maupun manajemen. Para pelaku usaha mendapat pendampingan agar mampu memenuhi standar pasar yang lebih luas. Mereka juga didorong untuk memperbaiki tata kelola agar usaha lebih berkelanjutan. Dengan cara itu, pertumbuhan tidak hanya terjadi pada satu perusahaan, tetapi menyebar ke ekosistem sekitarnya.
Ia menilai keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan kolaboratif lebih efektif untuk mendorong UMKM naik kelas. Kainnesia tidak hanya membeli bahan atau jasa dari mitra, tetapi juga membangun hubungan usaha yang saling menguatkan. Pola ini membuat UMKM lain ikut menikmati peningkatan permintaan. Pada akhirnya, manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh lebih banyak keluarga.
Pertumbuhan tenaga kerja juga menjadi indikator bahwa rantai usaha tenun memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Ketika pesanan meningkat, kebutuhan produksi ikut naik dan membuka lapangan kerja baru. Hal ini penting bagi daerah yang memiliki basis pengrajin dan penenun tradisional. Dengan demikian, industri tenun dapat menjadi penggerak ekonomi lokal yang nyata.
Panggung Internasional untuk Tenun
Partisipasi Kainnesia dalam berbagai ajang internasional memberi ruang promosi yang lebih luas bagi tenun Indonesia. Pameran seperti Osaka World Expo Japan 2025 dan Inacraft 2025 menjadi sarana untuk memperkenalkan produk kepada pembeli potensial. Setiap pertemuan dengan buyer membuka peluang kerja sama baru yang lebih berkelanjutan. Dari situ, produk tenun memperoleh eksposur yang sulit didapat jika hanya mengandalkan pasar domestik.
Keikutsertaan dalam Korea Import Fair di Seoul juga mempertegas posisi tenun sebagai produk yang siap bersaing. Buyer dari berbagai negara menaruh perhatian pada kualitas, desain, dan kisah di balik produk. Unsur budaya menjadi nilai tambah yang membedakan tenun Indonesia dari produk serupa di pasar global. Karena itu, pengemasan cerita produk menjadi bagian penting dari strategi ekspor.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, pelaku UMKM dituntut memahami selera pasar internasional. Kainnesia membaca kebutuhan itu dengan menghadirkan desain yang tetap berakar pada tradisi, namun mengikuti tren. Langkah tersebut membuat tenun lebih mudah diterima oleh segmen pasar yang lebih luas. Pendekatan seperti ini dinilai penting untuk menjaga kesinambungan permintaan.
Dengan tampil di panggung internasional, tenun Indonesia tidak hanya diposisikan sebagai produk fesyen, tetapi juga sebagai identitas bangsa. Hal itu memberikan nilai tambah yang besar bagi pelaku usaha dan daerah penghasil. Semakin sering produk lokal tampil di forum global, semakin tinggi pula kepercayaan terhadap kualitasnya. Pada titik ini, tenun menjadi simbol kekuatan ekonomi kreatif berbasis budaya.
Pertapreneur Dorong Ekonomi Lokal
Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyebut Kainnesia sebagai contoh nyata tujuan Pertapreneur Aggregator. Program tersebut dirancang untuk menciptakan lebih banyak UMKM aggregator yang mampu mengangkat usaha lain di sekitarnya. Semakin banyak aggregator terbentuk, semakin besar pula peluang UMKM untuk naik kelas. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi lokal dapat berjalan lebih merata.
Rudi mengatakan bahwa UMKM binaan Kainnesia diharapkan dapat menjadi penggerak nilai tambah yang lebih besar. Ia menilai bahwa usaha yang tumbuh bersama akan lebih tahan menghadapi perubahan pasar. Selain menciptakan lapangan kerja, model ini juga memperkuat kapasitas produksi daerah. Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti pada bantuan awal semata.
Program Pertapreneur Aggregator sendiri telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Para peserta memperoleh dukungan teknis, manajerial, hingga akses pasar yang lebih luas. Dukungan tersebut menjadi fondasi penting agar pelaku usaha kecil dapat berkembang secara terukur. Dalam jangka panjang, pembinaan yang konsisten akan meningkatkan daya saing UMKM Indonesia.
Keberhasilan Kainnesia menunjukkan bahwa penguatan ekosistem usaha membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan. Ketika pelaku usaha, pendamping, dan mitra pasar bergerak bersama, hasilnya dapat melampaui target awal. Model seperti ini berpotensi direplikasi di sektor lain yang memiliki basis UMKM kuat. Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi tidak hanya berbicara soal angka, tetapi juga soal pemerataan manfaat bagi masyarakat.
