Telkom Indonesia mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun untuk tahun buku 2025 di Indonesia, dengan laba bersih Rp17,8 triliun dan normalized net income Rp22,7 triliun. EBITDA konsolidasi mencapai Rp72,2 triliun, dengan margin EBITDA 49,2 persen, sedangkan normalized EBITDA mencapai Rp73,2 triliun dengan margin 49,9 persen. Secara Total Shareholder Return (TSR), Telkom membukukan 35,7 persen sepanjang 2025, terdiri dari capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.
Seiring akselerasi transformasi, Telkom meningkatkan nilai kepada pemegang saham melalui payout ratio sebesar 89 persen untuk tahun buku 2024. Program buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun juga dilanjutkan hingga Mei 2026. Kebijakan ini dinilai memperkuat profil pengembalian modal perseroan di tengah tekanan makroekonomi.
Transformasi TLKM 30
TLKM 30 adalah kerangka transformasi jangka menengah yang menjadi arah strategis perseroan. Dian Siswarini menegaskan fokus utama adalah mempercepat visi menjadi penggerak ekosistem digital nasional. Program ini dirancang untuk memperkuat posisi Telkom sebagai penggerak ekosistem digital dengan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
Pilar pertama, Operational & Service Excellence, menekankan tata kelola yang kuat, disiplin organisasi, budaya kerja unggul, efisiensi proses, serta peningkatan kualitas layanan. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan serta menurunkan biaya operasional secara berkelanjutan. Pelaksanaan pilar ini menjadi fondasi bagi transformasi yang lebih terstruktur.
Pilar kedua, Streamlining, menata portofolio non-core untuk mendorong kontribusi core business serta efisiensi operasional. Telkom juga menandai proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika melalui perjanjian CSPA menuju divestasi penuh pada paruh pertama 2026. Langkah ini diharapkan memperkuat aliran dividend serta memperbaiki profil risiko perusahaan.
Nilai Tambah Infrastruktur
Pilar ketiga Unlock Value difokuskan pada penguatan fondasi infrastruktur digital, khususnya konektivitas fiber. Telkom memperkuat aset melalui backbone serat optik, layanan data center, dan solusi cloud untuk memperluas kapasitas layanan. Strategi ini dirancang untuk meningkatkan utilisasi aset serta Return on Assets (ROA), sambil memperluas kontribusi terhadap konektivitas nasional.
Langkah penting adalah pemisahan sebagian bisnis Wholesale Fiber Connectivity ke InfraNexia melalui Conditional Spin-off Agreement (CSA) yang ditandatangani Desember 2025. CSA menandai fase carve-out awal menuju struktur strategic holding yang lebih fokus. Divestasi ini diharapkan meningkatkan arus dividend bagi pemegang saham dan memperkuat ekosistem digital nasional.
Segmen operasional akan diperkaya melalui delayering dan fokus pada empat operating company: B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International. Langkah ini menegaskan arah Telkom sebagai strategic holding dengan tata kelola yang lebih terintegrasi. Telkom juga menilai manfaat InfraNexia untuk memperluas jaringan nasional dan layanan digital.
Kebijakan Akuntansi & Laba
Dalam rangka total governance reset, Telkom melakukan penyesuaian kebijakan akuntansi untuk meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan. Langkah ini memperkuat tata kelola, kehati-hatian, dan disiplin pengelolaan aset perseroan. Penyesuaian mengenai estimasi masa manfaat dan klasifikasi aset menjadi fokus utama perubahan.
Akibatnya, laba bersih perseroan tercatat kontraksi sekitar 9,5 persen secara year-on-year. Telkom juga melakukan restatement atas laporan keuangan 2023 dan 2024 sebagai bagian dari proses perbaikan. Meskipun demikian, arus informasi ke pemangku kepentingan tetap dijaga melalui praktik keterbukaan.
Perubahan kebijakan akuntansi sejalan dengan pilar Operational & Service Excellence TLKM 30. Kebijakan baru diharapkan memperkuat persepsi pasar terkait tata kelola dan kapasitas perusahaan. Investasi jangka panjang tetap didorong, meski kinerja laba bersih menunjukkan dinamika tertentu.
