Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun Sepanjang 2025

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 26 Mei 2026 18:57 WIB 2
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun Sepanjang 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp17,8 triliun, dengan margin laba bersih 12,1 persen, di tengah tekanan makroekonomi dan dinamika industri telekomunikasi. Capaian tersebut ditopang oleh normalisasi kinerja, efisiensi operasional, serta eksekusi strategi transformasi yang berjalan sepanjang tahun. Selain itu, Telkom mencatat total shareholder return sebesar 35,7 persen yang mencerminkan respons positif pasar terhadap langkah strategis perusahaan.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyebut transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025 melalui strategi TLKM 30. Pendekatan ini diarahkan untuk memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan daya saing, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan. Perseroan juga menegaskan komitmen pengembalian nilai kepada pemegang saham lewat payout ratio sebesar 89 persen dan program share buyback senilai maksimal Rp3 triliun. Kebijakan tersebut mempertegas posisi Telkom sebagai emiten telekomunikasi dengan agenda transformasi yang terukur dan berkelanjutan.

Transformasi Telkom dan Kinerja

Telkom mencatat EBITDA konsolidasi sebesar Rp72,2 triliun dengan margin EBITDA 49,2 persen pada 2025. Sementara itu, normalized EBITDA tercatat Rp73,2 triliun dengan margin 49,9 persen. Dari sisi laba, normalized net income perseroan mencapai Rp22,7 triliun dengan margin 15,4 persen. Angka tersebut menunjukkan penguatan kinerja operasional di tengah penyesuaian kebijakan akuntansi.

Perseroan menjelaskan bahwa penurunan laba bersih secara tahunan sebesar 9,5 persen terjadi akibat peningkatan beban percepatan depresiasi. Penyesuaian itu dilakukan sebagai tindak lanjut agenda total governance reset yang diamanatkan Danantara Indonesia. Melalui penyelarasan kebijakan akuntansi, Telkom berupaya meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan dan klasifikasi aset. Langkah ini sekaligus memperkuat prinsip kehati-hatian serta transparansi tata kelola.

Dian menegaskan bahwa TLKM 30 disusun untuk mempercepat terwujudnya visi Telkom sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global. Dalam strategi tersebut, perseroan menempatkan empat pilar utama sebagai arah transformasi jangka menengah. Pilar itu mencakup operational and service excellence, streamlining, unlock value, serta modus-operandi shift. Keempatnya dirancang untuk mendorong efisiensi, fokus bisnis, dan penciptaan nilai berkelanjutan.

Telkom juga melakukan restatement atas laporan keuangan tahun 2023 dan 2024 sebagai bagian dari penyesuaian akuntansi. Manajemen menyebut langkah ini penting untuk menjaga konsistensi pencatatan dan meningkatkan kualitas pelaporan. Di saat yang sama, perusahaan menegaskan komitmen terhadap disiplin pengelolaan aset dan penguatan kontrol internal. Dengan fondasi tersebut, Telkom berharap kualitas kinerja ke depan semakin solid.

Langkah Divestasi dan Spin-off

Pilar streamlining menjadi salah satu fokus utama Telkom dalam menata portofolio bisnis non-core. Melalui langkah ini, perseroan berupaya meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat kontribusi pada bisnis inti telekomunikasi serta digital. Salah satu implementasinya adalah proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang telah mencapai Conditional Sale and Purchase Agreement. Divestasi penuh ditargetkan rampung pada akhir paruh pertama 2026.

Manajemen menyebut divestasi tersebut juga diharapkan memperkuat dividend stream perseroan. Dengan portofolio yang lebih ramping, Telkom dapat memusatkan sumber daya pada lini usaha yang memiliki potensi pertumbuhan lebih besar. Langkah ini sejalan dengan strategi optimalisasi aset dan penguatan daya saing jangka panjang. Dalam jangka menengah, struktur bisnis yang lebih sederhana diharapkan membuat pengambilan keputusan menjadi lebih cepat.

Pilar unlock value juga ditempuh melalui penguatan bisnis infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Telkom menilai inisiatif itu penting untuk meningkatkan utilisasi aset dan memaksimalkan return on assets. Pada Desember 2025, perseroan menandatangani Conditional Spin-off Agreement untuk pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia. Tahap awal carve-out ini menjadi bagian dari transisi menuju strategic holding.

Pilar keempat, modus-operandi shift, diarahkan untuk mengubah Telkom dari operating holding menjadi strategic holding. Transformasi tersebut ditempuh melalui delayering agar fokus bisnis lebih tajam pada empat segmen operating company. Segmen itu meliputi B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International. Dengan struktur baru ini, Telkom menargetkan sinergi yang lebih kuat antarentitas dan tata kelola yang lebih efektif.

Penguatan Bisnis Konsumen

Segmen B2C masih menjadi salah satu kontributor utama pendapatan Telkom pada 2025. Telkomsel, sebagai entitas yang menangani segmen ini, membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun. Kinerja tersebut ditopang meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital yang andal. Trafik data juga tumbuh 15 persen secara tahunan seiring meningkatnya konsumsi layanan digital.

Average Revenue Per User menunjukkan perbaikan bertahap, terutama sejak paruh kedua 2025. Pergerakan tersebut dinilai mencerminkan pemulihan yang lebih sehat di tengah kompetisi industri yang mulai lebih rasional. Untuk 2026, Telkomsel akan fokus menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran. Penguatan kualitas jaringan juga menjadi prioritas untuk menekan perpindahan pelanggan.

Selain itu, perseroan tetap memperhatikan perluasan layanan internet rumah secara selektif. Strategi tersebut disesuaikan dengan kemampuan belanja masyarakat dan efektivitas pemanfaatan modal. Telkom ingin memastikan pertumbuhan bisnis tetap sehat tanpa mengorbankan kualitas portofolio. Pendekatan ini diharapkan menjaga keseimbangan antara ekspansi dan profitabilitas.

Penguatan ekosistem digital juga terus dilakukan agar layanan Telkomsel tetap relevan bagi masyarakat. Di tengah perubahan perilaku pelanggan, perseroan menekankan pentingnya inovasi layanan dan pengalaman pengguna. Fokus ini menjadi bagian dari upaya mempertahankan posisi di pasar ritel digital. Dengan basis pelanggan yang besar, segmen B2C tetap menjadi penopang penting kinerja grup.

Infrastruktur dan Investasi Telkom

Pada segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional dengan basis aset yang luas. Infrastruktur tersebut mencakup backbone serat optik lebih dari 210.000 kilometer, menara telekomunikasi, layanan data center dan cloud, serta konektivitas satelit. Kehadiran aset itu dirancang untuk menjangkau wilayah blank spot dan area dengan tantangan geografis tinggi. Dari sisi pendapatan, segmen ini membukukan Rp8,9 triliun, tumbuh 9,2 persen secara tahunan.

Pertumbuhan segmen infrastruktur terutama didorong bisnis data center dan ekspansi fiber. TelkomGroup mengoperasikan dua hyperscale data center di Cikarang dan Singapura, tiga enterprise data center di Serpong, Surabaya, dan Sentul, serta dua fasilitas co-location data center di Singapura melalui NeutraDC. Selain itu, terdapat 28 edge data center NeuCentrIX yang mendukung layanan lebih dekat ke pengguna. Portofolio ini memperkuat posisi Telkom dalam rantai nilai ekonomi digital.

Pada bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower, Mitratel mencatat pendapatan Rp9,5 triliun. Perusahaan ini juga membukukan net income margin 22,2 persen dan EBITDA margin 82,2 persen. Kinerja tersebut ditopang rasio jumlah penyewa 1,57 kali dari kepemilikan 40.230 menara telekomunikasi. Dengan skala itu, Mitratel tetap menjadi perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara.

Sementara itu, bisnis Wholesale dan International Service menghasilkan pendapatan Rp10,7 triliun. Melalui Telin, TelkomGroup telah tergabung dalam 27 sistem kabel laut internasional. Pada segmen B2B ICT, perseroan membukukan pendapatan Rp15,3 triliun dari konektivitas, managed solution, dan layanan digital. Perseroan juga menyiapkan inovasi melalui layanan Connectivity+, Cybersecurity, Artificial Intelligence, serta kemitraan strategis dengan pemain teknologi global.

KomponenCapaian 2025
Pendapatan konsolidasiRp146,7 triliun
Net incomeRp17,8 triliun
Normalized net incomeRp22,7 triliun
EBITDA konsolidasiRp72,2 triliun
Belanja modalRp27,5 triliun

Realisasi belanja modal TelkomGroup pada 2025 mencapai Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan. Sebanyak 93 persen dari belanja modal itu dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International. Sisanya digunakan untuk mendukung pengembangan platform digital dengan tetap menjaga sinergi antarlini bisnis. Manajemen menilai disiplin investasi menjadi kunci menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.

Dian menutup pernyataannya dengan optimisme bahwa Telkom berada pada fase penting untuk mengakselerasi transformasi pada 2026. Perseroan meyakini disiplin operasional akan memperkuat daya saing dan menciptakan nilai yang lebih berkelanjutan. Dengan arah bisnis yang lebih terstruktur, Telkom menargetkan kinerja yang semakin solid di seluruh segmen. Perusahaan juga berharap hasil transformasi memberi manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!