Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun Sepanjang 2025

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 16:54 WIB 4
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun Sepanjang 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp17,8 triliun dengan margin laba bersih 12,1 persen, di tengah agenda transformasi dan tekanan makroekonomi yang masih berlangsung.

Di saat yang sama, normalized net income Telkom mencapai Rp22,7 triliun dengan margin 15,4 persen, sementara EBITDA konsolidasi tercatat Rp72,2 triliun. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa strategi TLKM 30 mulai memberi dampak pada kinerja operasional, arus nilai, dan kepercayaan pasar.

Telkom dan transformasi TLKM

Telkom menyebut kinerja 2025 sebagai hasil dari eksekusi strategi transformasi yang lebih terstruktur. Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa fokus utama perseroan sejak 2025 adalah memperkuat fundamental bisnis dan tata kelola.

Melalui TLKM 30, Telkom mengarahkan transformasi untuk menjadi penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global. Strategi ini juga ditujukan agar perseroan mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Capaian tersebut turut tercermin dari Total Shareholder Return sebesar 35,7 persen sepanjang 2025. Angka itu terdiri atas capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.

Selain itu, Telkom menjalankan kebijakan pengembalian nilai melalui payout ratio 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024. Perseroan juga masih melanjutkan program share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun hingga Mei 2026.

Telkom dan pembenahan portofolio

Dalam strategi TLKM 30, Telkom menempatkan Operational and Service Excellence sebagai pilar pertama. Fokusnya mencakup penguatan tata kelola, disiplin organisasi, budaya kerja unggul, efisiensi proses, dan peningkatan kualitas layanan.

Pilar berikutnya adalah Streamlining, yakni penataan portofolio non-core business agar kontribusi usaha menjadi lebih optimal. Langkah ini diharapkan memperkuat daya saing bisnis inti telekomunikasi dan digital.

Implementasi strategi tersebut terlihat dari proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang telah memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement. Telkom menargetkan divestasi penuh dapat rampung pada akhir paruh pertama 2026.

Perseroan menilai penataan portofolio itu berpotensi menambah dividend stream secara berkelanjutan. Di sisi lain, langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur bisnis yang lebih efisien dan fokus.

Telkom dan penguatan infrastruktur

Pilar ketiga TLKM 30 adalah Unlock Value, dengan fokus pada penguatan bisnis infrastruktur digital. Salah satu prioritas utamanya adalah konektivitas fiber untuk meningkatkan utilisasi aset dan return on assets.

Telkom juga menandatangani Conditional Spin-off Agreement pada Desember 2025 terkait pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia. Proses ini menjadi fase awal carve-out menuju pembentukan strategic holding.

Langkah tersebut diarahkan untuk memperluas kontribusi Telkom terhadap konektivitas nasional. Perseroan menilai transformasi ini akan membuat pengelolaan portofolio bisnis menjadi lebih fokus dan bernilai tambah.

Pada pilar keempat, Telkom melakukan perubahan dari operating holding menjadi strategic holding melalui delayering. Struktur baru ini akan memperkuat fokus bisnis pada empat segmen Operating Company, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Telkom dan prospek bisnis

Di segmen B2C, Telkomsel masih menjadi kontributor utama pendapatan dengan capaian Rp109,2 triliun. Trafik data naik 15 persen secara tahunan, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital berkualitas.

Perseroan juga melihat average revenue per user mulai pulih sejak paruh kedua 2025. Pada 2026, Telkomsel akan menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran serta penguatan kualitas jaringan.

Pada segmen B2B Infrastructure, pendapatan mencapai Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Kinerja ini ditopang oleh bisnis data center dan ekspansi jaringan fiber yang terus diperluas.

TelkomGroup juga mencatat belanja modal sebesar Rp27,5 triliun sepanjang 2025, atau 18,8 persen dari total pendapatan. Manajemen menilai disiplin investasi, transformasi bisnis, dan penguatan tata kelola akan menjadi modal penting untuk menjaga kinerja yang lebih solid pada 2026.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!