PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga mencatat laba bersih Rp17,8 triliun dengan margin 12,1 persen, di tengah agenda transformasi dan tekanan industri telekomunikasi. Kinerja tersebut diperkuat normalized net income Rp22,7 triliun serta normalized EBITDA Rp73,2 triliun. Capaian itu menjadi sinyal bahwa strategi penguatan fundamental Telkom mulai menunjukkan hasil nyata.
Selain kinerja keuangan, Telkom mencatat Total Shareholder Return sebesar 35,7 persen sepanjang 2025. Angka itu terdiri atas capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen. Respons pasar dinilai positif karena perseroan menjalankan kebijakan pengembalian nilai melalui payout ratio 89 persen untuk tahun buku 2024. Telkom juga masih menjalankan program share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun hingga Mei 2026.
Transformasi Telkom Makin Terarah
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama sejak 2025. Melalui strategi TLKM 30, perseroan menata arah bisnis agar lebih terstruktur dan berdaya saing global. Langkah ini dirancang untuk mendukung visi Telkom sebagai penggerak ekosistem digital nasional. Perseroan juga menargetkan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
TLKM 30 bertumpu pada empat pilar utama yang saling melengkapi. Pilar pertama adalah Operational & Service Excellence, yang menekankan tata kelola, efisiensi proses, dan kualitas layanan. Pilar kedua adalah Streamlining, yakni penataan portofolio non-core business agar bisnis inti semakin kuat. Dua pilar ini diharapkan meningkatkan efisiensi sekaligus memperbaiki pengalaman pelanggan.
Pilar ketiga adalah Unlock Value melalui penguatan fondasi infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Inisiatif ini ditujukan untuk meningkatkan utilisasi aset dan memaksimalkan return on assets. Pilar keempat adalah pergeseran dari operating holding menjadi strategic holding. Perubahan ini dilakukan lewat delayering agar fokus bisnis lebih tajam pada empat segmen operasi utama.
Laba Bersih Terkoreksi
Telkom melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi sebagai tindak lanjut agenda total governance reset dari Danantara Indonesia. Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan, termasuk masa manfaat dan klasifikasi aset. Penyesuaian tersebut berdampak pada kinerja laba bersih yang terkoreksi 9,5 persen secara tahunan. Koreksi itu terjadi akibat meningkatnya beban percepatan depresiasi.
Seiring penerapan kebijakan baru, Telkom juga melakukan restatement atas laporan keuangan tahun 2023 dan 2024. Perseroan menegaskan langkah ini penting untuk memperkuat transparansi dan prinsip kehati-hatian. Penyesuaian akuntansi tersebut sejalan dengan pilar pertama TLKM 30. Dengan demikian, tata kelola dan disiplin pengelolaan aset dapat semakin diperkuat.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa Telkom tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga kualitas pelaporan. Perseroan ingin memastikan setiap aset dan beban dicatat secara lebih tepat. Di tengah tantangan sektor telekomunikasi, pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor. Langkah tersebut juga menjadi dasar bagi pengambilan keputusan bisnis yang lebih akurat.
Bisnis Inti Telkom Menguat
Segmen B2C, yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband, masih menjadi kontributor utama pendapatan Telkom. Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun pada tahun buku 2025. Trafik data naik 15 persen secara tahunan seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital. Average Revenue Per User juga mulai pulih sejak paruh kedua 2025.
Untuk 2026, Telkomsel akan menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran. Perseroan juga memperkuat kualitas jaringan untuk menekan perpindahan pelanggan. Di saat yang sama, pengembangan ekosistem digital terus diperluas agar layanan tetap relevan. Ekspansi internet rumah dilakukan lebih selektif sesuai kemampuan belanja masyarakat.
Pada segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup mencatat pendapatan Rp8,9 triliun dengan pertumbuhan 9,2 persen. Kinerja ini ditopang data center dan ekspansi bisnis fiber. Sementara itu, bisnis Wholesale & International Service membukukan pendapatan Rp10,7 triliun. Di segmen B2B ICT, perseroan mencatat pendapatan Rp15,3 triliun dari konektivitas, managed solution, dan layanan digital.
Belanja Modal Dorong Ekspansi
Pertumbuhan bisnis infrastruktur turut ditopang disiplin investasi TelkomGroup sepanjang 2025. Realisasi belanja modal mencapai Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan. Sebanyak 93 persen dari capex dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International. Sisanya digunakan untuk mendukung pengembangan platform digital.
Telkom juga melanjutkan berbagai inisiatif untuk memperkuat struktur bisnis dan arus nilai. Proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika telah mencapai tahap Conditional Sale and Purchase Agreement. Di sisi lain, pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia ditandai dengan Conditional Spin-off Agreement pada Desember 2025. Langkah ini menjadi bagian dari pembentukan strategic holding yang lebih fokus.
Dian menyebut 2026 sebagai fase penting untuk mempercepat eksekusi transformasi. Dengan disiplin operasional, Telkom optimistis dapat memperkuat daya saing dan menciptakan nilai berkelanjutan. Perseroan akan terus mengarahkan bisnis secara lebih terstruktur agar kinerja semakin solid. Telkom menargetkan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan.
