Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun Sepanjang 2025

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 28 Mei 2026 04:20 WIB 2
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun Sepanjang 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp17,8 triliun dengan margin laba bersih 12,1 persen, di tengah agenda transformasi dan tekanan makroekonomi yang masih berlangsung. Kinerja tersebut menjadi sorotan karena didorong penguatan fundamental, efisiensi operasional, serta kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham.

Selain laba bersih, Telkom mencatat normalized net income sebesar Rp22,7 triliun dengan margin 15,4 persen, serta EBITDA konsolidasi Rp72,2 triliun dengan margin 49,2 persen. Total Shareholder Return selama 2025 mencapai 35,7 persen, terdiri atas capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen, seiring eksekusi strategi transformasi TLKM 30.

Transformasi Telkom Mendorong Kinerja

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyatakan eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. Melalui TLKM 30, Telkom menata arah perubahan secara lebih terstruktur untuk memperkuat posisinya sebagai penggerak ekosistem digital nasional.

Strategi tersebut dirancang agar perseroan mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan. Menurut Dian, langkah ini juga ditujukan untuk menjaga daya saing Telkom di tengah perubahan industri telekomunikasi yang semakin cepat.

Capaian kinerja 2025 dinilai mencerminkan respons positif pasar terhadap arah transformasi yang dijalankan. Dukungan lain datang dari payout ratio sebesar 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024 dan program share buyback senilai maksimal Rp3 triliun.

Program buyback itu masih berlangsung hingga Mei 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor. Telkom menilai kombinasi transformasi, efisiensi, dan kebijakan pengembalian nilai telah memperkuat fundamental perusahaan.

Empat Pilar TLKM 30

Melalui TLKM 30, Telkom menegaskan empat pilar utama transformasi yang menjadi panduan bisnis ke depan. Pilar pertama adalah Operational & Service Excellence yang menekankan tata kelola, disiplin organisasi, efisiensi proses, dan kualitas layanan.

Pilar kedua adalah Streamlining, yakni penataan portofolio non-core business agar kontribusi usaha menjadi lebih optimal. Langkah ini diharapkan memperkuat fokus perseroan pada bisnis inti telekomunikasi dan digital.

Implementasi Streamlining tercermin dari proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang telah mencapai Conditional Sale and Purchase Agreement. Transaksi tersebut ditargetkan menuju divestasi penuh pada akhir paruh pertama 2026.

Pilar ketiga adalah Unlock Value, yang diarahkan pada penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Sementara pilar keempat adalah Modus-operandi shift, yaitu perubahan dari operating holding menjadi strategic holding melalui delayering.

Segmen B2C Mulai Pulih

Segmen B2C tetap menjadi salah satu penopang utama pendapatan Telkom melalui layanan mobile dan fixed broadband. Telkomsel sebagai OpCo di segmen ini mencatat pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun pada tahun buku 2025.

Kenaikan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan menunjukkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital berkualitas. Di saat yang sama, Average Revenue Per User mulai bergerak positif, terutama sejak paruh kedua 2025.

Telkomsel akan menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran dan peningkatan kualitas jaringan. Perseroan juga memperkuat ekosistem digital agar layanan tetap relevan di tengah persaingan industri yang lebih sehat.

Di sisi lain, ekspansi layanan internet rumah dijalankan secara selektif. Langkah ini dilakukan dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat serta efektivitas penggunaan modal agar pertumbuhan tetap sehat dalam jangka panjang.

Infrastruktur Digital Jadi Andalan

Pada segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup terus mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional. Aset yang dimiliki mencakup backbone serat optik lebih dari 210.000 kilometer, menara telekomunikasi, data center, cloud, dan konektivitas satelit.

Pendapatan segmen ini mencapai Rp8,9 triliun, tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan ditopang bisnis data center dan ekspansi layanan fiber yang menjadi bagian penting dari strategi transformasi.

Bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower juga mencatat kinerja solid melalui Mitratel. Perusahaan membukukan pendapatan Rp9,5 triliun dengan net income margin 22,2 persen dan EBITDA margin 82,2 persen.

Sementara itu, segmen Wholesale & International Service menghasilkan pendapatan Rp10,7 triliun, sedangkan B2B ICT membukukan Rp15,3 triliun. Telkom menegaskan akan terus mendorong inovasi melalui Connectivity+, Cybersecurity, Artificial Intelligence, dan kemitraan strategis global.

Belanja Modal Tetap Disiplin

Pertumbuhan bisnis infrastruktur juga ditopang disiplin investasi yang dijaga TelkomGroup sepanjang 2025. Realisasi belanja modal tercatat Rp27,5 triliun, atau setara 18,8 persen dari total pendapatan.

Sebanyak 93 persen belanja modal dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International. Sisanya digunakan untuk mendukung pengembangan platform digital dengan tetap mengoptimalkan nilai sinergi.

Telkom menyebut kebijakan investasi yang disiplin penting untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi dan profitabilitas. Pendekatan ini juga mendukung agenda transformasi agar kinerja perusahaan tetap stabil di tengah dinamika pasar.

Memasuki 2026, Telkom menilai perusahaan berada pada fase penting untuk mempercepat eksekusi transformasi. Perseroan optimistis arah strategi yang lebih terstruktur akan memperkuat daya saing dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemegang saham.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!