Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 26 Mei 2026 12:14 WIB 3
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp17,8 triliun dengan margin laba bersih 12,1 persen, sementara normalized net income mencapai Rp22,7 triliun.

Kinerja tersebut ditopang EBITDA konsolidasi Rp72,2 triliun dengan margin 49,2 persen, serta normalized EBITDA Rp73,2 triliun dengan margin 49,9 persen. Di tengah tekanan makroekonomi dan persaingan industri telekomunikasi, Telkom tetap menunjukkan respons pasar yang positif melalui Total Shareholder Return sebesar 35,7 persen sepanjang 2025.

Transformasi Telkom Perkuat Kinerja

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. Melalui TLKM 30, Telkom menata arah bisnis secara lebih terstruktur untuk memperkuat daya saing dan menciptakan nilai jangka panjang.

Strategi tersebut juga ditopang kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham. Telkom mencatat payout ratio sebesar 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024, serta menjalankan program share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun hingga Mei 2026.

Capaian Total Shareholder Return sebesar 35,7 persen terdiri dari capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen. Angka ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap eksekusi transformasi yang dilakukan perseroan.

Manajemen menilai kinerja yang stabil pada 2025 menjadi fondasi penting bagi akselerasi transformasi di tahun berikutnya. Dengan arah yang lebih terstruktur, Telkom menargetkan penguatan peran sebagai penggerak ekosistem digital nasional.

Telkom Susun Portofolio Bisnis

Dalam TLKM 30, Telkom mengusung empat pilar utama untuk memperkuat organisasi dan bisnis. Pilar pertama adalah Operational & Service Excellence yang menekankan tata kelola, efisiensi proses, budaya kerja unggul, dan kualitas layanan.

Pilar kedua adalah Streamlining, yakni penataan portofolio non-core business agar kontribusinya lebih optimal. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat daya saing di bisnis inti telekomunikasi serta digital.

Implementasi pilar tersebut terlihat dari proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang telah memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement. Divestasi penuh ditargetkan rampung pada akhir paruh pertama 2026 dan diharapkan memperkuat arus dividen.

Pilar ketiga adalah Unlock Value melalui penguatan bisnis infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Inisiatif ini ditujukan untuk meningkatkan utilisasi aset dan memaksimalkan Return on Assets secara berkelanjutan.

Telkom Genjot Segmen Digital

Pada pilar keempat, Telkom menjalankan modus-operandi shift dari operating holding menjadi strategic holding. Perubahan ini ditempuh melalui delayering untuk memperjelas fokus bisnis pada empat segmen OpCo, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Di segmen B2C, Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun pada 2025. Kenaikan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital berkualitas masih terus meningkat.

Average Revenue Per User juga mulai pulih sejak paruh kedua 2025 dan diperkirakan membaik bertahap. Pada 2026, Telkomsel akan menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran dan penguatan kualitas jaringan.

Pada segmen B2B Infrastructure, pendapatan mencapai Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan itu didorong bisnis data center dan ekspansi jaringan fiber, dengan dukungan aset backbone lebih dari 210.000 kilometer serta infrastruktur satelit dan menara di seluruh Indonesia.

Belanja Modal Telkom Tetap Disiplin

Di segmen B2B ICT, Telkom membukukan pendapatan Rp15,3 triliun dari bisnis konektivitas, Managed Solution, dan digital. Perseroan menilai efisiensi pemerintah berdampak pada permintaan solusi korporasi, namun peluang pertumbuhan masih terbuka melalui layanan Connectivity+, Cybersecurity, dan Artificial Intelligence.

Sementara itu, bisnis Wholesale & International Service menghasilkan pendapatan Rp10,7 triliun. Melalui Telin, TelkomGroup kini tergabung dalam 27 sistem kabel laut internasional untuk memperluas jangkauan konektivitas global.

Telkom juga mencatat kinerja kuat pada bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower melalui Mitratel, dengan pendapatan Rp9,5 triliun. Emiten menara tersebut membukukan net income margin 22,2 persen dan EBITDA margin 82,2 persen, didukung 40.230 menara dan rasio penyewa 1,57 kali.

Sepanjang 2025, realisasi belanja modal Telkom mencapai Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari pendapatan. Sebanyak 93 persen dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International, sehingga perseroan optimistis melanjutkan pertumbuhan yang sehat pada 2026.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!