Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, merespons pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan yang terjadi setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Ia menilai tekanan pasar tidak semata dipengaruhi kebijakan baru, melainkan juga faktor teknikal dan sentimen global yang sedang membayangi bursa.
IHSG tercatat melemah 0,82 persen ke level 6.318,50 pada penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei. Pada Kamis, 21 Mei 2026, indeks kembali turun 233 poin atau 3,54 persen ke level 6.094, seiring kekhawatiran investor atas rebalancing MSCI dan pengeluaran sejumlah saham Indonesia dari indeks tersebut.
IHSG dan Sentimen Pasar
Rosan menyebut pelemahan IHSG tidak bisa dibaca hanya dari satu peristiwa, karena pasar saham bergerak oleh banyak faktor. Menurut dia, tekanan yang muncul saat ini juga terkait pergerakan teknikal yang membuat investor lebih berhati-hati.
Ia menegaskan, sentimen global turut memberi pengaruh besar terhadap arah perdagangan di dalam negeri. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar cenderung mengambil sikap defensif sambil menunggu kepastian lanjutan.
Rosan juga menyoroti respons investor asing yang biasanya lebih sensitif terhadap perubahan indeks global. Ketika ada saham yang keluar dari indeks acuan, tekanan jual kerap meningkat di pasar domestik.
Karena itu, pelemahan indeks dinilai sebagai kombinasi antara faktor teknikal, persepsi, dan sentimen eksternal. Ia menilai pasar sedang berada pada fase penyesuaian yang wajar setelah munculnya berbagai katalis.
Rebalancing MSCI Jadi Sorotan
Salah satu faktor yang disebut Rosan adalah rebalancing Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Penyesuaian tersebut berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026.
Dalam hasil rebalancing terbaru, tercatat 18 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI. Kondisi ini dinilai berpotensi memicu tekanan karena investor institusional biasanya menyesuaikan portofolionya.
Rosan mengatakan, perubahan komposisi indeks kerap berdampak pada aliran dana asing. Menurut dia, hal itu menjadi salah satu alasan mengapa pasar saham mengalami penekanan dalam jangka pendek.
Ia menilai investor perlu memahami bahwa rebalancing adalah bagian normal dari mekanisme pasar. Meski demikian, dampaknya tetap bisa terasa pada saham-saham yang terdampak langsung.
Fundamental BUMN Tetap Kuat
Di tengah tekanan pasar, Rosan mengajak investor melihat fundamental perusahaan secara jangka panjang. Ia menilai kinerja perusahaan pelat merah, terutama bank-bank Himbara, masih menunjukkan performa yang kuat.
Rosan menyebut sejumlah BUMN masih mencatat pertumbuhan positif dengan imbal hasil yang menarik. Ia bahkan menyinggung yield bank-bank Himbara yang disebut berada di atas 10 persen hingga 11 persen.
Menurut dia, data fundamental seperti itu penting untuk menilai prospek investasi secara lebih objektif. Pasar bisa berfluktuasi, tetapi kinerja perusahaan yang sehat tetap menjadi penopang utama valuasi saham.
Ia menegaskan, kondisi fundamental BUMN masih baik meski pasar sedang dilanda tekanan. Karena itu, investor diminta tidak hanya terpaku pada pergerakan harian indeks.
Prospek Pasar Jangka Panjang
Rosan optimistis pasar saham akan pulih dalam jangka menengah hingga panjang. Ia menilai tekanan yang terjadi saat ini bersifat sementara dan lebih dipengaruhi persepsi pasar.
Menurut dia, kondisi ekonomi dan fundamental perusahaan pelat merah tetap berada pada jalur yang sehat. Hal itu menjadi modal penting bagi pemulihan kepercayaan investor ke depan.
Ia menilai pasar memang sedang sensitif terhadap berbagai isu, sehingga tekanan jangka pendek sulit dihindari. Namun, selama fundamental tetap kuat, peluang perbaikan masih terbuka lebar.
Rosan menutup komentarnya dengan keyakinan bahwa arah jangka panjang pasar akan membaik. Ia meminta investor tetap melihat data, bukan hanya reaksi sesaat di layar perdagangan.
