Telkom Catat Laba Bersih Rp17,8 Triliun pada 2025

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 23:26 WIB 2
Telkom Catat Laba Bersih Rp17,8 Triliun pada 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp17,8 triliun dengan margin laba bersih 12,1 persen, di tengah agenda transformasi dan tekanan makroekonomi sektor telekomunikasi. Kinerja itu ditopang oleh penguatan fundamental, efisiensi operasional, serta kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham.

Selain laba bersih, Telkom mencatat normalized net income sebesar Rp22,7 triliun dengan margin 15,4 persen. EBITDA konsolidasi tercatat Rp72,2 triliun, sedangkan normalized EBITDA mencapai Rp73,2 triliun. Total Shareholder Return perusahaan sepanjang 2025 juga mencapai 35,7 persen, yang terdiri atas capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.

Transformasi TLKM 30

Telkom menegaskan bahwa eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama sejak 2025. Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyebut strategi TLKM 30 dirancang untuk mempercepat visi perseroan sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global. Langkah itu juga diarahkan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Strategi TLKM 30 bertumpu pada empat pilar utama yang disusun secara lebih terstruktur. Pilar pertama adalah Operational & Service Excellence, yang menekankan tata kelola yang baik, disiplin organisasi, budaya kerja unggul, efisiensi proses, dan peningkatan kualitas layanan. Fokus ini diharapkan memperkuat pengalaman pelanggan di seluruh lini bisnis.

Pilar kedua adalah Streamlining, yakni penataan portofolio non-core business agar kontribusinya lebih optimal. Melalui langkah ini, Telkom ingin meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat daya saing di bisnis inti telekomunikasi dan digital. Penyesuaian portofolio juga menjadi bagian dari upaya mempercepat perbaikan struktur bisnis.

Pilar ketiga adalah Unlock Value, yang menitikberatkan pada penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Perseroan menilai langkah ini dapat meningkatkan utilisasi aset dan memaksimalkan Return on Assets. Di saat yang sama, strategi tersebut memperluas kontribusi Telkom terhadap konektivitas nasional.

Portofolio dan Tata Kelola

Implementasi streamlining tercermin dari proses divestasi AdMedika dan anak usahanya, TelkoMedika. Keduanya telah memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement atau CSPA menuju divestasi penuh pada akhir paruh pertama 2026. Langkah ini juga diharapkan memperkuat arus dividen perseroan.

Pada pilar keempat, Telkom menjalankan modus-operandi shift dari operating holding menjadi strategic holding. Perubahan ini dilakukan melalui delayering untuk memperkuat fokus bisnis pada empat segmen Operating Company, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International. Dengan struktur tersebut, operasional bisnis akan dijalankan lebih terfokus oleh masing-masing entitas.

Sebagai strategic holding, Telkom akan lebih menitikberatkan sinergi penciptaan nilai dan penguatan tata kelola antarsegmen. Perusahaan menilai model ini penting agar pengambilan keputusan bisnis lebih lincah dan terarah. Pada saat yang sama, portofolio usaha dapat dikelola dengan pendekatan yang lebih disiplin.

Sejalan dengan agenda total governance reset dari Danantara Indonesia, Telkom juga menyelaraskan kebijakan akuntansi. Penyesuaian ini dilakukan untuk meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan, termasuk penetapan masa manfaat dan klasifikasi aset yang lebih tepat. Akibat percepatan depresiasi, laba bersih perseroan terkoreksi 9,5 persen secara tahunan.

Segmen B2C dan Infrastruktur

Segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband tetap menjadi penopang utama pendapatan perseroan. Telkomsel sebagai OpCo di segmen ini membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun sepanjang 2025. Kinerja tersebut didukung meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital berkualitas.

Tren pemulihan juga terlihat pada trafik data yang naik 15 persen secara tahunan. Average Revenue Per User atau ARPU mulai membaik terutama sejak paruh kedua 2025, dan diperkirakan terus meningkat bertahap. Perseroan menilai perbaikan itu ditopang oleh kompetisi industri yang lebih sehat.

Pada 2026, Telkomsel akan menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran dan penguatan kualitas jaringan. Perusahaan juga berupaya menekan perpindahan pelanggan dengan layanan yang lebih andal. Di sisi lain, ekspansi internet rumah dilakukan lebih selektif agar pertumbuhan tetap sehat.

Di segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup terus mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional. Aset yang dikelola mencakup backbone serat optik lebih dari 210.000 kilometer, menara telekomunikasi, data center, cloud, dan konektivitas satelit. Pendapatan segmen ini mencapai Rp8,9 triliun, atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan.

Bisnis B2B dan Investasi

Pertumbuhan segmen B2B Infrastructure ditopang oleh bisnis data center dan ekspansi fiber. Pendapatan data center berasal dari fasilitas hyperscale di Cikarang dan Singapura, tiga enterprise data center di Serpong, Surabaya, dan Sentul, serta dua fasilitas co-location di Singapura yang dikelola NeutraDC. TelkomGroup juga mengoperasikan 28 edge data center NeuCentrIX dengan skala yang lebih kecil.

Pada bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower, Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun. Perseroan mencatat net income margin 22,2 persen dan EBITDA margin 82,2 persen. Kinerja tersebut didukung rasio jumlah penyewa 1,57 kali dari kepemilikan 40.230 menara telekomunikasi.

Sementara itu, bisnis Wholesale & International Service mencatat pendapatan Rp10,7 triliun. TelkomGroup melalui Telin kini terhubung dalam 27 sistem kabel laut internasional. Posisi ini memperkuat jangkauan layanan global perseroan di tengah meningkatnya kebutuhan konektivitas lintas negara.

Pada segmen B2B ICT, pendapatan Telkom mencapai Rp15,3 triliun dari bisnis konektivitas, Managed Solution, dan digital. Perseroan masih menghadapi tekanan dari kebijakan efisiensi pemerintah yang berdampak pada permintaan solusi korporasi. Meski begitu, Telkom tetap optimistis terhadap peluang pertumbuhan lewat Connectivity+, Cybersecurity, Artificial Intelligence, dan kemitraan strategis global.

Disiplin investasi juga menjadi salah satu penopang kinerja TelkomGroup sepanjang 2025. Belanja modal perseroan mencapai Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan. Sebanyak 93 persen dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International.

Telkom menilai strategi transformasi TLKM 30 telah menjaga kinerja tetap stabil sepanjang 2025. Pada 2026, perseroan memasuki fase penting untuk mengakselerasi eksekusi transformasi dan memperkuat daya saing. Manajemen optimistis langkah tersebut akan menghasilkan kinerja yang lebih solid dan berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!