Telkom Catat Laba Bersih Rp17,8 Triliun di 2025

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 23 Mei 2026 19:25 WIB 7
Telkom Catat Laba Bersih Rp17,8 Triliun di 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp17,8 triliun, sementara normalized net income mencapai Rp22,7 triliun dengan margin 15,4 persen.

Kinerja tersebut ditopang EBITDA konsolidasi Rp72,2 triliun dan normalized EBITDA Rp73,2 triliun. Di tengah tekanan industri telekomunikasi dan perubahan makroekonomi, Telkom menegaskan transformasi bisnis menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan dan nilai bagi pemegang saham.

Transformasi Telkom

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyebut eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. Melalui strategi TLKM 30, Telkom mengarahkan perubahan secara lebih terstruktur untuk memperkuat posisi sebagai penggerak ekosistem digital nasional.

Strategi tersebut juga ditujukan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan. Dalam keterangan tertulis, Dian menegaskan perusahaan ingin semakin berdaya saing di level global.

Selama 2025, Telkom mencatat total shareholder return sebesar 35,7 persen. Angka itu terdiri atas capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.

Capaian tersebut turut didukung payout ratio sebesar 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024. Perseroan juga menjalankan program share buyback bernilai maksimal Rp3 triliun yang berlangsung hingga Mei 2026.

Pilar Operasional

Lewat TLKM 30, Telkom menempatkan empat pilar utama sebagai kerangka transformasi. Pilar pertama adalah Operational and Service Excellence yang menitikberatkan tata kelola, disiplin organisasi, budaya kerja unggul, dan efisiensi proses.

Pilar ini juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan. Dengan demikian, pengalaman pelanggan diharapkan menjadi lebih baik dan konsisten.

Pilar kedua adalah Streamlining, yakni penataan portofolio non-core business agar kontribusinya lebih optimal. Langkah ini juga ditujukan untuk memperkuat efisiensi operasional dan daya saing bisnis inti.

Implementasi pilar tersebut tercermin dari proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika. Keduanya telah memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement menuju divestasi penuh pada akhir paruh pertama 2026.

Penguatan Aset Digital

Pilar ketiga adalah Unlock Value, yang berfokus pada penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital. Salah satu fokus utamanya adalah konektivitas fiber untuk meningkatkan utilisasi aset dan return on assets.

Telkom juga memperluas kontribusi terhadap konektivitas nasional melalui langkah tersebut. Pada Desember 2025, perseroan menandatangani Conditional Spin-off Agreement untuk sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia.

Langkah itu menjadi fase carve-out tahap pertama dalam transformasi menuju strategic holding. Model ini dirancang agar perusahaan lebih fokus pada penciptaan nilai, pengelolaan portofolio bisnis, dan percepatan eksekusi strategi.

Pilar keempat adalah Modus-operandi shift, yakni pergeseran dari operating holding menjadi strategic holding. Melalui delayering, Telkom memperkuat fokus bisnis pada empat segmen Operating Company, yaitu B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Kinerja Segmen Usaha

Segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband masih menjadi penyumbang utama pendapatan. Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun pada tahun buku 2025.

Kebutuhan layanan digital yang meningkat mendorong trafik data naik 15 persen secara tahunan. Average Revenue Per User juga mulai pulih sejak paruh kedua 2025 dan diperkirakan terus meningkat secara bertahap.

Pada segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup mencatat pendapatan Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang bisnis data center dan ekspansi fiber, dengan dukungan jaringan backbone serat optik lebih dari 210.000 kilometer.

Untuk segmen B2B ICT, perseroan membukukan pendapatan Rp15,3 triliun dari bisnis konektivitas, managed solution, dan digital. Sementara itu, bisnis Wholesale & International Service mencatat pendapatan Rp10,7 triliun dan Telin telah tergabung dalam 27 sistem kabel laut internasional.

Sepanjang 2025, Telkom juga merealisasikan belanja modal Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari pendapatan. Sebesar 93 persen belanja modal dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International.

Perseroan menilai disiplin investasi menjadi fondasi penting dalam menjaga pertumbuhan yang sehat. Dengan strategi TLKM 30, Telkom berharap dapat memperkuat daya saing sekaligus menjaga kinerja yang lebih solid pada 2026.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!