Teknologi D2D Satelit Jadi Peluang Baru Industri Nasional

Teknologi Moh. Royhan Nahado 29 Mei 2026 22:47 WIB 3
Teknologi D2D Satelit Jadi Peluang Baru Industri Nasional

Teknologi direct-to-device atau D2D mulai menjadi sorotan global karena memungkinkan ponsel dan perangkat sensor terhubung langsung ke satelit tanpa infrastruktur tambahan. Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menilai perkembangan ini sebagai peluang besar bagi industri nasional, meski masih dibayangi tantangan regulasi dan kedaulatan data.

Ketua Umum ASSI Rusdianto Yuli Hermansyah menjelaskan, D2D pada dasarnya terbagi dalam dua model utama, yakni direct-to-cell untuk perangkat genggam dan direct IoT untuk sensor. Menurut dia, Indonesia perlu bergerak cepat agar tidak tertinggal dalam persaingan teknologi satelit yang semakin intens.

Teknologi D2D dan Peluang

Teknologi D2D memungkinkan ponsel terhubung langsung ke jaringan satelit tanpa perlu BTS di darat. Skema ini dinilai dapat memperluas konektivitas di wilayah terpencil yang sulit dijangkau jaringan seluler.

Selain untuk ponsel, model direct IoT juga membuka peluang besar bagi sektor maritim, industri, dan logistik. Sensor dapat mengirimkan data secara real-time langsung ke satelit, sehingga proses pemantauan menjadi lebih cepat dan efisien.

Rusdianto menyebut, selama ini sensor IoT umumnya mengirim data melalui pengumpul terlebih dahulu sebelum diteruskan ke satelit. Ke depan, alur tersebut berpotensi berubah menjadi koneksi langsung dari sensor ke satelit.

Perubahan ini menempatkan D2D sebagai salah satu teknologi penting dalam pengembangan ekosistem satelit nasional. Jika dimanfaatkan dengan tepat, layanan ini dapat memperkuat konektivitas sekaligus mendukung digitalisasi lintas sektor.

PNT dan Persaingan Global

Di sisi lain, kebutuhan terhadap layanan Positioning, Navigation, and Timing atau PNT juga terus meningkat. Kondisi geopolitik global mendorong banyak negara mengembangkan sistem navigasi sendiri sebagai alternatif GPS.

Rusdianto menilai persaingan itu sudah masuk ke ranah satelit, karena tiap negara ingin memiliki sistem navigasi yang mandiri. Menurut dia, aspek ini menjadi bagian penting dari kedaulatan teknologi di era modern.

Tekanan global tersebut membuat teknologi satelit tidak lagi sekadar soal konektivitas. Satelit kini menjadi instrumen strategis yang berkaitan langsung dengan keamanan data, navigasi, dan layanan publik.

Bagi Indonesia, tren ini menjadi sinyal bahwa pengembangan kapasitas satelit harus dipandang sebagai agenda jangka panjang. Tanpa kesiapan yang memadai, ketergantungan pada sistem luar negeri bisa semakin besar.

Regulasi D2D Masih Dikaji

Meski prospeknya besar, implementasi D2D di Indonesia masih menunggu kejelasan regulasi. Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi masih mengkaji model operasional dan penggunaan spektrum frekuensi.

Saat ini, layanan D2D dimungkinkan memakai spektrum Mobile Satellite Service atau MSS. Namun, kapasitas bandwidth yang tersedia masih terbatas untuk mendukung layanan dalam skala besar.

Di tingkat global, International Telecommunication Union atau ITU juga tengah membahas penambahan alokasi frekuensi. Pembahasan itu diperkirakan baru berdampak pada akhir 2027 atau awal 2028.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan D2D tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Kepastian aturan menjadi fondasi penting agar layanan ini berjalan aman, efisien, dan sesuai kepentingan nasional.

Kedaulatan Data Jadi Kunci

ASSI menegaskan pentingnya menjaga kedaulatan dalam implementasi teknologi D2D. Idealnya, seluruh infrastruktur satelit dikendalikan oleh entitas dalam negeri agar kendali strategis tetap berada di tangan nasional.

Namun, kebutuhan investasi besar dan waktu pengembangan yang panjang membuat skenario itu belum mudah diwujudkan. Karena itu, ASSI mendorong langkah bertahap yang tetap mengutamakan kepentingan Indonesia.

Rusdianto menekankan agar data dari layanan D2D tetap landing di Indonesia, meski infrastruktur satelit melibatkan pihak asing. Menurut dia, hal tersebut penting karena menyangkut data konsumen dan kedaulatan digital.

Di tengah persaingan pemain global seperti Starlink, Amazon, dan perusahaan asal China, kecepatan adaptasi menjadi faktor penentu. Pemerintah didorong sigap membaca arah perubahan agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga bagian dari ekosistem teknologi satelit masa depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!