IHSG Menguat, Saham Komoditas dan Emiten Jadi Sorotan

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 30 Mei 2026 21:21 WIB 2
IHSG Menguat, Saham Komoditas dan Emiten Jadi Sorotan

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 1,10 persen ke posisi 6.162,04 pada perdagangan Jumat, 22 Mei. Kenaikan ini terutama ditopang oleh saham-saham berbasis komoditas dan tambang, di tengah tekanan dari sejumlah saham berkapitalisasi besar dan aksi jual investor asing.

Sentimen pasar juga dipengaruhi kabar rebalancing indeks global, kebijakan ekspor komoditas strategis, serta dinamika pasar Amerika Serikat. Di sisi emiten, pasar mencermati rencana rights issue Singaraja Putra Tbk dan pembagian dividen tunai Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

IHSG Dan Saham Emiten

Penguatan IHSG pada perdagangan akhir pekan lalu ditopang oleh lonjakan beberapa saham komoditas dan tambang. Merdeka Copper Gold atau MDKA melesat 24,77 persen dan menjadi salah satu penopang utama indeks. Emas Antam Indonesia atau EMAS juga naik 19,67 persen, disusul Bumi Resources Minerals atau BRMS yang menguat 11,50 persen.

Meski demikian, sejumlah saham berkapitalisasi besar justru menahan laju penguatan indeks. Telkom Indonesia atau TLKM turun 2,67 persen, Astra International atau ASII terkoreksi 3,57 persen, dan Bayan Resources atau BYAN melemah 4,53 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan indeks masih belum merata di seluruh kelompok saham.

Dari sisi sektoral, mayoritas sektor bergerak di zona hijau dan menopang sentimen positif pasar. Sektor basic industry memimpin kenaikan dengan penguatan 6,85 persen, sedangkan sektor keuangan menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,28 persen. Pergerakan ini menegaskan bahwa minat investor masih terkonsentrasi pada saham-saham tertentu yang dianggap memiliki katalis kuat.

Sentimen Asing Dan MSCI

Aksi jual investor asing masih berlanjut dan memberi tekanan tambahan pada pasar domestik. Pada perdagangan reguler, investor asing mencatat jual bersih Rp1,07 triliun, sementara di seluruh pasar mencapai Rp309,45 miliar. Arus keluar dana asing tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan IHSG.

Sentimen global turut memberi arah pada pergerakan pasar Indonesia. Indeks Dow Jones naik 0,58 persen ke level 50.579, S&P 500 bertambah 0,37 persen menjadi 7.473, dan Nasdaq menguat 0,19 persen ke posisi 26.343. Kinerja bursa Amerika Serikat yang positif memberikan dukungan psikologis bagi pelaku pasar di kawasan Asia.

Pelaku pasar juga menanti dampak rebalancing indeks MSCI yang akan efektif mulai 1 Juni. ETF EIDO bergerak mendatar di level 0,08 persen, sedangkan MSCI Indonesia justru turun 0,95 persen. Di saat yang sama, pasar mencermati perkembangan kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT DSI.

Aksi Korporasi SINI

Singaraja Putra Tbk atau SINI berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui rights issue. Rencana tersebut akan dibahas dalam RUPS pada 26 Mei mendatang. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, perseroan berpotensi meraih dana segar dalam jumlah besar.

Dana hasil aksi korporasi itu rencananya digunakan untuk mendukung akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti atau KMS, anak usaha Petrosea. Nilai akuisisi disebut mencapai sekitar Rp1,73 triliun. Dalam skema transaksi tersebut, SINI akan membayar Rp1,51 triliun secara tunai saat penyelesaian akuisisi.

Sisa kewajiban sebesar Rp218,40 miliar akan dibayar bertahap hingga akhir 2028. Pembayaran itu disertai bunga 7,5 persen per tahun dan akan menggunakan kas internal perusahaan. Adapun posisi kas dan setara kas SINI per 2025 tercatat sebesar Rp33,56 miliar.

Dividen Dan Valuasi INTP

Indocement Tunggal Prakarsa Tbk atau INTP memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp468 per saham. Total dividen yang akan dibagikan mencapai Rp1,54 triliun atau setara 68,35 persen dari laba bersih. Keputusan ini menjadi perhatian investor yang memburu saham dengan imbal hasil dividen menarik.

Sepanjang 2025, pendapatan INTP turun 4,40 persen secara tahunan menjadi Rp17,73 triliun. Namun laba bersih perseroan justru naik 12,04 persen menjadi Rp2,25 triliun. Laba per saham juga meningkat menjadi Rp674,50 dari sebelumnya Rp591,49.

Pada penutupan perdagangan terakhir, saham INTP berada di level Rp4.900 per saham dengan dividend yield sekitar 9,55 persen. Dari sisi valuasi, saham ini diperdagangkan pada PBV 0,74 kali dan PER 7,64 kali trailing twelve months. Jadwal cum dividen ditetapkan pada 3 Juni, sedangkan pembayaran dividen akan dilakukan pada 19 Juni 2026.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!