Kolaborasi Swatch dan Audemars Piguet kembali menyita perhatian pecinta jam tangan dunia lewat peluncuran Royal Pop. Produk ini memadukan desain ikonik Royal Oak dengan sentuhan warna cerah ala Swatch, sehingga langsung memicu antrean di sejumlah negara. Peluncuran tersebut berlangsung sejak 16 Mei, dengan harga mulai dari 535 dolar AS hingga 570 dolar AS.
Antusiasme tinggi terlihat di Amerika Serikat, Singapura, hingga Indonesia, meski sebagian pembeli baru mengetahui detail koleksi saat mendekati loket penjualan. Di beberapa lokasi, antrean sudah terbentuk sejak sehari sebelumnya, lengkap dengan kursi lipat dan sistem nomor urut. Fenomena ini menunjukkan daya tarik besar dari jam saku yang hadir di tengah pasar aksesori mewah dan koleksi terbatas.
Royal Pop Curi Perhatian
Royal Pop hadir sebagai produk hasil perpaduan dua merek dengan karakter yang sangat berbeda. Swatch membawa nuansa pop yang berani, sementara Audemars Piguet mempertahankan citra mewah lewat desain Royal Oak. Kombinasi itu membuat koleksi ini terasa unik dan sulit diabaikan oleh penggemar jam tangan.
Koleksi ini terdiri atas delapan jam saku berbahan biokeramik dengan warna-warna cerah. Setiap unit juga dilengkapi tali pengikat yang menegaskan fungsi dan tampilan koleksi tersebut. Harga jualnya dipatok mulai 535 dolar AS atau sekitar Rp 9,4 juta hingga 570 dolar AS atau sekitar Rp 10 juta.
Model seperti ini dinilai berhasil membangkitkan kembali minat terhadap jam saku di pasar modern. Tidak hanya sebagai penunjuk waktu, produk tersebut juga diposisikan sebagai aksesori gaya hidup. Karena itu, Royal Pop cepat menjadi bahan pembicaraan di kalangan kolektor dan penggemar mode.
Antrean Panjang Di Amerika
Peluncuran Royal Pop di Amerika Serikat memunculkan antrean panjang sejak hari sebelumnya. Di Times Square, para penggemar bahkan datang dengan kursi lipat dan menunggu sambil makan siang. Situasi itu menunjukkan besarnya rasa penasaran terhadap koleksi terbaru Swatch dan Audemars Piguet.
Menurut Business Insider, sekitar 70 orang saling bergantian menjaga tempat dalam antrean sebelum toko dibuka. Sebagian pembeli bertahan tanpa mengetahui katalog yang akan ditawarkan. Setelah produk diperlihatkan, beberapa orang memilih mundur karena jam tangan saku tersebut tidak sesuai harapan mereka.
Kondisi itu menggambarkan bahwa antusiasme pasar tidak selalu berbanding lurus dengan ekspektasi setelah produk diluncurkan. Meski demikian, daya tarik nama besar kedua merek tetap mampu menciptakan kerumunan. Fenomena tersebut memperkuat posisi kolaborasi ini sebagai salah satu rilisan paling ramai dibicarakan.
Minat Besar Di Singapura
Antrean serupa juga terjadi di Singapura pada hari peluncuran 16 Mei. Di Ion Orchard, ratusan calon pembeli sudah diberi nomor antrean tidak resmi sejak pukul 7 pagi. Kondisi itu menandakan tingginya minat publik terhadap koleksi jam saku berwarna cerah tersebut.
Swatch disebut menerapkan batas pembelian satu jam tangan per orang per hari. Kebijakan ini dibuat untuk menjaga ketersediaan stok di tengah tingginya permintaan. Meski demikian, aturan tersebut tidak menyurutkan semangat para pemburu koleksi untuk datang lebih awal.
Lonjakan minat di Singapura menegaskan bahwa pasar Asia Tenggara juga sangat responsif terhadap produk kolaborasi premium. Kehadiran merek besar dengan desain berbeda sering kali menjadi pemicu antrean panjang. Dalam kasus Royal Pop, faktor kelangkaan turut memperkuat daya tarik di mata konsumen.
Respons Di Indonesia
Di Indonesia, antusiasme terhadap jam saku Swatch x Audemars Piguet juga terlihat di Grand Indonesia, Jakarta. Sejak pagi, sejumlah orang sudah mengantre sebelum pusat perbelanjaan dibuka. Situasi itu menunjukkan bahwa produk ini memiliki magnet kuat di pasar domestik.
Namun, antrean di lokasi tersebut sempat dibubarkan oleh petugas keamanan. Langkah itu diduga dilakukan untuk menjaga ketertiban di area mal dan menghindari kerumunan berlebih. Meski begitu, kehadiran calon pembeli sejak pagi menegaskan besarnya minat terhadap koleksi ini.
Fenomena antrean di Jakarta melengkapi tren yang sebelumnya terlihat di Amerika Serikat dan Singapura. Kolaborasi ini bukan hanya menjual produk, tetapi juga menghadirkan pengalaman berburu barang langka. Bagi banyak orang, Royal Pop menjadi simbol perpaduan antara mode, koleksi, dan eksklusivitas.
