Suplemen Kolagen Dinilai Punya Manfaat, Ini Kata Dokter

Lifestyle Nadia Safira Putri 30 Mei 2026 15:31 WIB 3
Suplemen Kolagen Dinilai Punya Manfaat, Ini Kata Dokter

Suplemen kolagen kembali menjadi sorotan di industri kecantikan karena banyak diklaim dapat membuat kulit tampak lebih muda, segar, halus, dan bercahaya. Popularitasnya terus meningkat seiring besarnya minat konsumen terhadap produk perawatan kulit dari dalam.

Secara global, sekitar 60 juta orang disebut mengonsumsi suplemen kolagen setiap hari, menurut data yang dikutip dari Allure. Kondisi itu mendorong pasar suplemen kolagen pada 2025 diperkirakan menembus 2,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 43,57 triliun.

Manfaat kolagen masih diteliti

Di pasaran, suplemen kolagen hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari pil, bubuk seduh, hingga permen jeli. Ragam produk ini membuat konsumen memiliki banyak pilihan sesuai preferensi masing-masing.

Meski begitu, sejumlah studi sebelumnya menunjukkan bahwa suplemen tidak selalu memberikan hasil yang nyata. Sebagian ahli bahkan menilai produk seperti ini kerap dianggap pemborosan karena harganya relatif mahal.

Salah satu penelitian yang sering dirujuk adalah studi Johns Hopkins University pada 2013 berjudul Enough is Enough: Stop Wasting Money on Vitamin and Mineral Supplements. Penelitian tersebut menjadi pengingat bahwa tidak semua suplemen otomatis membawa manfaat yang sepadan dengan biayanya.

Namun, tinjauan terbaru terhadap 113 uji klinis kolagen memberi gambaran yang lebih positif. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi rutin dan konsisten berpotensi memberi dampak pada kesehatan kulit, sistem muskuloskeletal, dan mulut.

Pendapat dokter soal kolagen

Dokter kulit sekaligus profesor klinis dermatologi Yale School of Medicine, Mona Gohara, menyebut tinjauan terbaru itu sebagai salah satu yang paling komprehensif. Menurut dia, kolagen tampak memberi peningkatan kecil tetapi konsisten pada hidrasi dan elastisitas kulit.

Pandangan serupa disampaikan Hadley King, dokter kulit bersertifikasi asal New York City. Ia menilai suplemen kolagen memang bukan obat, tetapi bukti yang tersedia menunjukkan potensi manfaat yang cukup beragam.

Daniel Belkin, dokter kulit lain dari New York City, juga mengaku lebih percaya diri merekomendasikan kolagen kepada pasien setelah membaca tinjauan tersebut. Meski demikian, ia tetap memandang hasil penelitian yang ada belum cukup untuk dijadikan dasar rekomendasi luas.

Para dokter tersebut sepakat bahwa kolagen belum bisa diposisikan sebagai solusi tunggal untuk semua masalah kulit. Mereka menekankan pentingnya membaca bukti ilmiah secara hati-hati sebelum memutuskan mengonsumsinya.

Bukti ilmiah belum sepenuhnya kuat

Meski ada sinyal positif, hasil studi yang tersedia belum sepenuhnya konsisten. Kualitas analisis di berbagai penelitian juga belum merata sehingga masih ada potensi bias.

Dr. Gohara menilai tinjauan terbaru itu bahkan belum menunjukkan bahwa kolagen mampu secara signifikan mengurangi tanda penuaan, seperti kerutan halus. Padahal, aspek itulah yang paling sering menjadi alasan utama orang mengonsumsi suplemen tersebut.

Menurutnya, studi lebih banyak menyoroti perbaikan skin barrier dan peningkatan hidrasi kulit. Ia juga mengaku belum tertarik mengonsumsi kolagen sebelum ada persetujuan dari Food and Drug Administration di Amerika Serikat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penelitian kolagen masih memerlukan data tambahan agar kesimpulannya lebih solid. Dengan demikian, klaim manfaat yang beredar di pasaran tidak bisa diterima begitu saja tanpa verifikasi ilmiah yang memadai.

Cara aman memilih kolagen

Berbeda dengan Gohara, Hadley King mengatakan dirinya mengonsumsi produk seperti Biosil Collagen Generator dan Body Health Perfect Amino. Namun, ia tetap menegaskan bahwa lebih banyak data masih dibutuhkan sebelum kolagen direkomendasikan secara luas kepada pasien.

King menyarankan masyarakat untuk berkonsultasi dengan dokter kulit tepercaya sebelum memilih suplemen kolagen. Jika ingin mengonsumsinya, pilih produk yang memiliki bukti ilmiah memadai dan jelas asal-usulnya.

Konsistensi konsumsi juga menjadi faktor penting agar hasilnya dapat dievaluasi dengan lebih baik. Penggunaan yang tidak teratur kerap membuat manfaat yang diharapkan sulit terlihat.

Selain mengandalkan suplemen, perawatan dasar kulit tetap harus diprioritaskan. Penggunaan sunscreen dan retinoid, disertai gaya hidup sehat, dinilai lebih efektif untuk membantu mencegah penuaan dini akibat paparan sinar UV, perubahan hormon, dan kebiasaan kurang sehat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!