Sarden kalengan belakangan ramai dibicarakan karena dinilai bukan ultra processed food (UPF). Di tengah perdebatan itu, praktisi kesehatan menegaskan bahwa real food tetap menjadi pilihan paling sehat bagi tubuh. Pandangan ini disampaikan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (21/5/2026).
Menurut dr Aru, makanan olahan umumnya dibuat dengan campuran atau tambahan bahan yang tidak selalu bisa dipastikan keamanannya secara utuh. Meski ada regulasi yang mengatur, potensi penyimpangan tetap dapat terjadi dan berisiko memengaruhi kesehatan. Kondisi inilah yang membuat perhatian terhadap pola makan sehat semakin penting di tengah tingginya konsumsi makanan praktis.
Real food dan kesehatan
Dr Aru menilai, jika seseorang mencari pilihan yang paling sehat, maka real food masih unggul dibanding makanan olahan. Ia menekankan bahwa proses produksi pangan olahan sering kali tidak diketahui secara rinci oleh konsumen. Karena itu, semakin sedikit proses yang dialami makanan, semakin besar peluang makanan tersebut tetap aman dan bergizi.
Ia menjelaskan bahwa makanan olahan biasanya melibatkan bahan tambahan yang tidak selalu sepenuhnya bisa dikontrol dari sisi keamanan. Walaupun aturan telah dibuat untuk menjaga mutu produk, kemungkinan adanya penyimpangan tetap tidak dapat diabaikan. Dalam pandangannya, kehati-hatian menjadi penting saat masyarakat memilih pangan harian.
Dr Aru juga mengaitkan pola konsumsi modern dengan meningkatnya kasus penyakit metabolik. Ia menyebut, pada usia 30 tahun, banyak orang kini sudah mengalami hipertensi dan diabetes. Selain itu, angka kesakitan pada kelompok usia muda juga dinilai semakin tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.
Beban penyakit usia muda
Menurut dr Aru, tren penyakit metabolik pada usia muda tidak bisa dilepaskan dari perubahan gaya hidup dan pola makan. Konsumsi makanan praktis yang tinggi kalori, gula, garam, dan lemak dinilai ikut memperburuk kondisi tersebut. Situasi ini membuat upaya pencegahan perlu dimulai sejak dini, bukan saat gejala sudah muncul.
Ia menyebut, kasus diabetes usia muda dan hipertensi usia muda kini tercatat lebih tinggi. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan tidak lagi hanya menjadi milik kelompok usia lanjut. Karena itu, edukasi gizi dan kebiasaan makan sehat perlu diperkuat di masyarakat.
Di sisi lain, dr Aru menilai masyarakat perlu lebih memahami hubungan antara makanan olahan dan risiko kesehatan jangka panjang. Konsumsi yang terlalu sering tanpa kontrol dapat memperbesar peluang gangguan metabolik. Oleh sebab itu, pemilihan makanan sehari-hari sebaiknya dilakukan dengan lebih cermat.
Tantangan pola makan praktis
Meski begitu, dr Aru mengakui tidak semua orang mudah menjalani pola makan berbasis real food. Kesibukan kerja dan aktivitas harian membuat banyak orang tidak sempat berbelanja atau memasak sendiri. Dalam situasi seperti itu, makanan olahan sering menjadi pilihan paling praktis.
Ia memahami bahwa kebutuhan akan kecepatan dan kemudahan membuat masyarakat sulit sepenuhnya menghindari pangan kemasan. Karena itu, yang paling realistis adalah menjaga keseimbangan dan tidak menjadikan makanan olahan sebagai konsumsi utama. Dengan begitu, risiko kesehatan dapat ditekan tanpa mengabaikan tuntutan hidup modern.
Menurutnya, perubahan kecil seperti memperbanyak bahan segar dan mengurangi makanan proses tinggi dapat membantu menjaga kesehatan. Langkah sederhana itu lebih mudah diterapkan dibanding target perubahan besar yang sulit dipertahankan. Pada akhirnya, konsistensi menjadi kunci utama dalam membangun pola makan yang lebih baik.
Bijak memilih makanan harian
Di tengah maraknya perbincangan soal sarden kalengan, masyarakat diimbau untuk lebih kritis membaca label dan komposisi produk. Informasi pada kemasan dapat membantu menilai seberapa besar makanan tersebut masuk kategori olahan. Dengan pemahaman yang lebih baik, konsumen dapat membuat keputusan yang lebih bijak.
Pilihan makanan sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan kepraktisan, tetapi juga dampak jangka panjang terhadap tubuh. Mengutamakan bahan segar, memasak sederhana, dan membatasi pangan ultra proses dapat menjadi langkah yang masuk akal. Pendekatan ini dinilai lebih selaras dengan upaya menjaga kesehatan keluarga.
Meski makanan praktis sulit dihindari sepenuhnya, keseimbangan tetap dapat dijaga melalui kebiasaan makan yang lebih terencana. Dr Aru menegaskan bahwa real food tetap menjadi standar terbaik jika tujuannya adalah kesehatan jangka panjang. Karena itu, edukasi dan kesadaran konsumen menjadi faktor penting dalam memilih pangan sehari-hari.
