Studi: Kopi Sedang Dapat Bantu Jaga Mood

Lifestyle Nadia Safira Putri 30 Mei 2026 10:52 WIB 2
Studi: Kopi Sedang Dapat Bantu Jaga Mood

Bagi banyak orang, kopi bukan hanya minuman pagi, tetapi juga penopang suasana hati sebelum memulai aktivitas. Penelitian terbaru kini menambah alasan bagi para pencinta kopi, karena konsumsi yang tepat disebut berpotensi membantu menjaga stres dan kecemasan tetap terkendali.

Temuan ini berasal dari studi yang dipublikasikan dalam Journal of Affective Disorders dengan memanfaatkan data UK Biobank, basis data kesehatan yang memuat informasi hampir 500 ribu orang. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah sedang berkaitan dengan risiko stres dan gangguan suasana hati yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak minum kopi sama sekali.

Kopi dan kesehatan mental

Studi tersebut menyoroti adanya hubungan antara kebiasaan minum kopi dan kesehatan mental, meski bukan berarti kopi menjadi satu-satunya penentu kondisi psikologis seseorang. Para peneliti menemukan pola yang konsisten pada responden yang mengonsumsi kopi dalam batas wajar.

Orang yang minum kopi secara sedang cenderung melaporkan tingkat stres yang lebih rendah dan suasana hati yang lebih stabil. Temuan itu memperkuat pandangan bahwa kopi dapat memberi efek positif, selama dikonsumsi dengan takaran yang tepat.

Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa manfaat tersebut tidak muncul jika konsumsi dilakukan secara berlebihan. Pada titik tertentu, efek menenangkan kopi dapat berubah menjadi pemicu ketidaknyamanan fisik maupun psikologis.

Takaran konsumsi yang pas

Menurut studi tersebut, manfaat optimal bagi kesehatan mental dapat diperoleh dari sekitar dua cangkir kopi per hari. Batas maksimal yang disarankan adalah tiga cangkir, agar tubuh tetap mendapatkan efek yang diharapkan tanpa memicu gangguan lain.

Satu cangkir dalam penelitian ini setara dengan sekitar 8 ons atau kurang lebih 240 mililiter. Artinya, satu gelas kopi ukuran besar yang umum dijual di kedai bisa saja sudah mendekati porsi harian yang dimaksud.

Konsumsi yang melampaui batas dapat menimbulkan detak jantung meningkat, rasa gelisah, mudah marah, hingga gangguan tidur. Kondisi tersebut justru berpotensi memperburuk suasana hati dan meningkatkan stres.

Efek kopi tanpa kafein

Menariknya, manfaat kopi dalam studi ini tidak hanya dikaitkan dengan kandungan kafein. Kopi tanpa kafein atau decaf juga menunjukkan efek yang serupa terhadap kesehatan mental.

Temuan ini memberi ruang bagi mereka yang sensitif terhadap kafein, tetapi tetap ingin menikmati kopi. Dengan begitu, pilihan minuman bisa disesuaikan tanpa harus mengabaikan potensi manfaatnya.

Peneliti menduga efek tersebut tidak semata-mata berasal dari kafein, melainkan juga dari senyawa lain dalam kopi. Hal ini membuka peluang penelitian lanjutan mengenai komponen kopi yang berperan dalam menjaga kondisi emosional.

Hubungan usus dan otak

Studi lain yang dimuat dalam Nature Communications pada April lalu turut memberi petunjuk mengenai kemungkinan penyebabnya. Penelitian itu menemukan adanya hubungan antara konsumsi kopi dan komposisi mikrobioma usus.

Baik peminum kopi berkafein maupun tanpa kafein diketahui memiliki komposisi mikrobioma usus yang berbeda dibandingkan orang yang tidak minum kopi. Pada kelompok tersebut juga ditemukan skor stres, depresi, dan impulsivitas yang lebih rendah.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kopi memengaruhi kesehatan mental melalui koneksi usus dan otak yang belakangan banyak disorot dunia kesehatan. Namun, para ahli tetap mengingatkan bahwa keseimbangan konsumsi menjadi kunci utama agar manfaatnya tetap terasa.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!