Studi: Bawang Bombay Berpotensi Bantu Kendalikan Gula Darah

Lifestyle Clara Monica 23 Mei 2026 15:11 WIB 6
Studi: Bawang Bombay Berpotensi Bantu Kendalikan Gula Darah

Diabetes tipe 2 ditandai oleh fluktuasi kadar gula darah yang dapat memicu kerusakan serius pada tubuh bila tidak dikendalikan dengan baik. Di tengah upaya mencari cara pendamping pengelolaan diabetes, penelitian terbaru menyoroti potensi bawang bombay dalam membantu menurunkan gula darah.

Temuan itu datang dari penelitian yang dipresentasikan di San Diego dan dikutip dari Surrey Live. Dalam uji pada tikus diabetes, ekstrak umbi Allium cepa dilaporkan mampu menurunkan kadar gula darah tinggi ketika diberikan bersama obat antidiabetes metformin.

Bawang bombay untuk gula darah

Peneliti utama Anthony Ojieh dari Delta State University di Abraka, Nigeria, menyebut bawang bombay murah, mudah didapat, dan telah lama dimanfaatkan sebagai suplemen nutrisi. Ia menilai bahan pangan tersebut berpotensi dikembangkan sebagai terapi pendamping bagi pasien diabetes.

Dalam penelitian itu, tim memberikan metformin bersama ekstrak bawang bombay dengan dosis 200 mg, 400 mg, dan 600 mg per kilogram berat badan tikus setiap hari. Tiga kelompok tikus diabetes diinduksi secara medis untuk melihat apakah bawang bombay dapat meningkatkan efek obat.

Peneliti juga menyertakan tiga kelompok tikus non-diabetes sebagai pembanding, masing-masing menerima metformin dan ekstrak bawang atau tanpa perlakuan sama sekali. Dua kelompok kontrol lainnya, satu diabetes dan satu non-diabetes, tidak mendapat metformin maupun ekstrak bawang.

Setiap kelompok terdiri dari lima tikus, sehingga peneliti dapat membandingkan perubahan kadar gula darah secara lebih terukur. Hasil awal menunjukkan adanya perbedaan yang mencolok pada kelompok yang menerima dosis ekstrak tertentu.

Hasil penelitian pada tikus

Ekstrak bawang bombay pada dosis 400 mg dan 600 mg terbukti menurunkan kadar gula darah puasa tikus diabetes secara signifikan. Penurunan yang tercatat masing-masing mencapai 50 persen dan 35 persen dibandingkan nilai awal penelitian.

Meski demikian, pemberian ekstrak bawang bombay justru memicu kenaikan berat badan rata-rata pada tikus non-diabetes. Efek itu tidak terlihat pada tikus diabetes, sehingga peneliti menilai respons tubuh terhadap bawang bombay bisa berbeda tergantung kondisi metabolik.

Ojieh menjelaskan bahwa bawang bombay sebenarnya tidak tinggi kalori. Namun, menurutnya, bahan tersebut diduga meningkatkan laju metabolisme dan nafsu makan, sehingga konsumsi makanan ikut bertambah.

Ia menegaskan masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memahami mekanisme bawang bombay dalam menurunkan kadar glukosa darah. Ekstrak yang digunakan dalam studi ini dibuat dari umbi bawang yang banyak dijual di supermarket lokal.

Potensi terapi pendamping diabetes

Jika kelak diuji pada manusia, umbi bawang bombay umumnya harus melalui proses pemurnian terlebih dahulu. Langkah itu diperlukan agar kandungan aktifnya dapat dihitung secara tepat sebelum ditentukan dosis yang aman.

Karena itu, hasil penelitian ini belum dapat langsung dijadikan acuan terapi bagi pasien diabetes. Namun, temuan tersebut memberi sinyal bahwa bahan pangan sehari-hari bisa memiliki potensi farmakologis yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Para peneliti menilai pendekatan berbasis bahan alami tetap harus melalui uji ilmiah yang ketat. Hal itu penting agar manfaat yang ditemukan tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.

Di sisi lain, penderita diabetes tetap perlu mengandalkan pengobatan yang diresepkan tenaga medis. Pola makan, aktivitas fisik, dan pemantauan kadar gula darah tetap menjadi fondasi utama pengendalian penyakit ini.

Cara jaga gula darah

Kementerian Kesehatan RI menyarankan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak maksimal 50 gram per hari atau setara empat sendok makan. Anjuran ini menjadi salah satu langkah dasar untuk menekan risiko gula darah meningkat.

Olahraga fisik juga dinilai penting dalam menjaga sensitivitas insulin dan membantu metabolisme tubuh. Masyarakat dianjurkan berolahraga tiga hingga lima kali seminggu dengan durasi 30 menit hingga 45 menit.

Spesialis penyakit dalam dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD, menyarankan total aktivitas fisik setidaknya 150 menit per minggu. Ia juga mengingatkan agar olahraga tidak dilakukan dengan jeda terlalu panjang, idealnya tidak dua hari berturut-turut tanpa aktivitas.

Skrining kesehatan tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi gula darah sejak dini. Pemeriksaan seperti gula darah puasa dan HbA1c membantu dokter menilai apakah seseorang masih aman, masuk prediabetes, atau sudah mengalami diabetes melitus.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!