Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan dan Cara Mengatasinya

Lifestyle Clara Monica 26 Mei 2026 04:26 WIB 3
Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan dan Cara Mengatasinya

Stres dan emosi yang memuncak dapat memicu reaksi fisik pada tubuh, termasuk gangguan pencernaan. Salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah perut terasa kembung dan begah, meski pola makan tidak berubah.

Para ahli menjelaskan bahwa hubungan antara otak dan usus sangat erat, sehingga kondisi emosional bisa tercermin pada sistem pencernaan. Saat tubuh berada dalam tekanan, proses cerna dapat melambat dan gas lebih mudah terperangkap di perut.

Stres dan Kembung

Usus kerap disebut sebagai otak kedua karena sangat dipengaruhi oleh sistem saraf. Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menyebut pencernaan dapat mencerminkan kondisi emosional seseorang.

Ketika stres meningkat, tubuh merespons seolah sedang menghadapi ancaman. Respons ini dapat mengubah cara sistem pencernaan bekerja dan membuat perut terasa tidak nyaman.

Menurut para ahli, keluhan kembung akibat stres bisa muncul meski seseorang tetap menjaga pola makan dengan baik. Kondisi ini bukan semata-mata soal makanan, melainkan juga soal reaksi tubuh terhadap tekanan mental.

Dalam banyak kasus, keluhan tersebut bersifat sementara, tetapi tetap mengganggu aktivitas harian. Karena itu, memahami kaitan stres dan pencernaan menjadi langkah awal untuk mengatasinya.

Respons Pencernaan Saat Stres

Sistem saraf enterik berperan penting dalam saluran pencernaan dan mengatur proses cerna. Sistem ini menjadi penghubung antara kondisi saraf dan fungsi pencernaan di dalam tubuh.

Melissa Groves Azzaro, RDN, menjelaskan bahwa tubuh pada dasarnya berada dalam dua kondisi, yaitu fight-or-flight dan rest-and-digest. Saat ancaman muncul, baik nyata maupun dalam bentuk tekanan modern, tubuh masuk ke mode siaga.

Dalam kondisi fight-or-flight, kelenjar adrenal melepaskan hormon stres seperti kortisol, epinefrin, dan norepinefrin. Hormon-hormon ini membantu tubuh bersiap menghadapi bahaya dengan mempercepat respons fisik.

Akibatnya, aliran darah dialihkan dari sistem pencernaan ke otot-otot agar tubuh siap bergerak. Kontraksi otot pencernaan menurun, produksi sekresi pencernaan ikut berkurang, dan proses cerna menjadi tidak optimal.

Cara Meredakan Kembung

Ketika makanan tidak tercerna dengan baik, makanan akan bertahan lebih lama di perut. Kondisi ini membuat gas lebih mudah terperangkap dan memicu perut terasa penuh.

Ditkoff menjelaskan bahwa respons tubuh terhadap stres bisa berbeda pada setiap orang. Ada yang mengalami kram perut dan diare, sementara yang lain justru merasa mual atau makin tidak nyaman.

Untuk membantu meredakan kembung, tubuh perlu kembali ke fase rest-and-digest. Pada fase ini, hormon stres menurun, aliran darah lebih lancar, dan sistem pencernaan bisa bekerja lebih normal.

Ditkoff menyarankan agar seseorang makan dalam kondisi tenang. Namun, tidak makan sama sekali saat stres juga tidak disarankan karena justru dapat memperburuk kondisi tubuh.

Waspadai Gejala Berulang

Kembung akibat stres umumnya merupakan hal yang sering dialami banyak orang. Meski demikian, bila keluhan muncul berulang, kondisi ini patut diperhatikan lebih serius.

Dalam beberapa kasus, stres dapat memicu kambuhnya gangguan pencernaan kronis. Situasi ini membuat gejala seperti begah, nyeri perut, atau perubahan pola buang air besar terasa lebih berat.

Respons tubuh juga bisa berbeda saat seseorang berada dalam aktivitas tertentu, termasuk saat berlari. Pada kondisi itu, tubuh benar-benar masuk ke mode flight dan pencernaan dapat melambat sementara.

Karena itu, mengenali pemicu stres dan menjaga tubuh tetap tenang menjadi kunci penting. Jika keluhan kembung terus berlanjut atau disertai gejala lain, pemeriksaan medis sebaiknya segera dilakukan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!