Stres Bisa Memicu Kembung, Ini Penjelasan Ahli

Lifestyle Nadia Safira Putri 29 Mei 2026 07:45 WIB 4
Stres Bisa Memicu Kembung, Ini Penjelasan Ahli

Stres dan emosi yang memuncak ternyata tidak hanya berdampak pada pikiran, tetapi juga pada tubuh. Salah satu keluhan yang kerap muncul adalah perut terasa kembung, begah, hingga tidak nyaman meski pola makan tidak berubah. Para ahli menjelaskan, kondisi ini berkaitan erat dengan hubungan antara sistem saraf dan pencernaan. Saat tubuh berada dalam tekanan, fungsi cerna dapat melambat dan memicu penumpukan gas.

Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menyebut usus sebagai otak kedua manusia. Menurut dia, sistem pencernaan sangat dipengaruhi oleh kondisi saraf dan emosional seseorang. Karena itu, stres dapat berdampak langsung pada perut dan memunculkan gejala yang berbeda pada tiap orang. Dalam sejumlah kasus, tubuh merespons dengan kembung, kram, diare, atau bahkan mual.

Kembung Saat Stres

Saat stres meningkat, tubuh masuk ke mode fight-or-flight yang mempersiapkan diri menghadapi ancaman. Pada fase ini, hormon stres seperti kortisol, adrenalin, dan noradrenalin dilepaskan oleh kelenjar adrenal. Respons tersebut sebenarnya membantu manusia bertahan dalam situasi berbahaya. Namun, efek sampingnya, sistem pencernaan ikut melambat.

Aliran darah kemudian lebih banyak diarahkan ke otot agar tubuh siap bergerak cepat. Di saat yang sama, kontraksi otot pencernaan berkurang dan produksi sekresi pencernaan menurun. Akibatnya, makanan tidak dipecah secara optimal dan bertahan lebih lama di saluran cerna. Kondisi inilah yang membuat perut terasa penuh dan begah.

Menurut Ditkoff, makanan yang tertahan lebih lama di dalam pencernaan lebih mudah memerangkap gas. Gas yang terperangkap itu kemudian memunculkan sensasi kembung yang tidak nyaman. Pada sebagian orang, reaksi ini juga disertai gangguan perut lain, seperti kram atau perubahan pola buang air besar. Respons tubuh terhadap stres pun bisa berbeda antara satu orang dan orang lainnya.

Respons Saraf Pencernaan

Sistem saraf enterik berperan penting dalam mengatur fungsi saluran pencernaan. Sistem ini merupakan bagian dari sistem saraf otonom yang bekerja menghubungkan otak, saraf, dan organ cerna. Karena terhubung erat, kondisi emosional dapat memengaruhi cara usus bekerja. Itulah sebabnya stres sering terasa langsung pada perut.

Melissa Groves Azzaro, RDN, menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya berada dalam dua kondisi saraf utama. Kondisi pertama adalah fight-or-flight, sedangkan kondisi kedua adalah rest-and-digest. Saat tubuh masuk ke mode siaga, prioritasnya adalah bertahan hidup, bukan mencerna makanan. Proses cerna pun sementara waktu menjadi kurang optimal.

Dalam keadaan tenang, tubuh lebih mudah mengalihkan energi untuk mencerna dan menyerap makanan. Sebaliknya, ketika tekanan emosional meningkat, fungsi cerna justru ikut menurun. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian orang kehilangan nafsu makan saat stres, sementara yang lain justru makan berlebihan. Reaksi tersebut dipengaruhi oleh cara tubuh masing-masing merespons tekanan.

Perut Begah Karena Stres

Perut begah dapat muncul ketika makanan tidak terurai dengan baik di dalam saluran pencernaan. Makanan yang tertahan lebih lama di lambung atau usus membuat proses fermentasi berlangsung lebih lama. Dari situ, gas lebih mudah terbentuk dan menambah rasa tidak nyaman. Pada akhirnya, perut terasa penuh, sesak, dan sulit rileks.

Stres juga dapat memperburuk keluhan pencernaan yang sudah ada sebelumnya. Pada orang dengan gangguan pencernaan kronis, gejala bisa kambuh ketika tekanan emosional meningkat. Situasi seperti tenggat waktu yang terlewat atau konflik pribadi dapat menjadi pemicunya. Dalam kondisi ekstrem, tubuh bahkan bisa bereaksi dengan gejala fisik yang lebih kuat.

Ditkoff menegaskan, reaksi semacam ini sangat umum dan hampir pernah dialami banyak orang. Ada yang menjadi sulit makan saat stres, ada pula yang justru terus mengunyah tanpa henti. Sebagian orang juga merasakan mual dan tubuh terasa lebih sensitif. Perbedaan ini menunjukkan bahwa stres memengaruhi sistem tubuh secara kompleks.

Cara Mengurangi Kembung

Langkah utama untuk mengurangi kembung akibat stres adalah mengembalikan tubuh ke fase rest-and-digest. Dalam kondisi ini, hormon stres tidak melonjak dan aliran darah dapat kembali lancar ke seluruh tubuh. Otot pencernaan pun bekerja lebih baik untuk memproses makanan. Tubuh menjadi lebih mampu mencerna secara normal saat suasana hati lebih tenang.

Ditkoff menyarankan agar makan dilakukan dalam kondisi yang tenang dan tidak terburu-buru. Menurut dia, makan saat benar-benar stres sebaiknya dihindari karena dapat membuat pencernaan bekerja lebih berat. Namun, melewatkan makan juga bukan pilihan yang dianjurkan. Yang dibutuhkan adalah pola makan teratur dengan suasana yang lebih nyaman.

Selain itu, mengenali pemicu stres juga penting agar keluhan tidak berulang. Istirahat cukup, mengatur napas, dan memberi jeda sebelum makan dapat membantu tubuh lebih siap mencerna. Jika kembung kerap terjadi disertai gejala lain yang mengganggu, pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan. Dengan begitu, penyebabnya bisa diketahui dan penanganannya lebih tepat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!