Siva Aprilia Laporkan Dugaan Penipuan Berkedok Kerja Sama

Teknologi BRH 24 Mei 2026 13:28 WIB 6
Siva Aprilia Laporkan Dugaan Penipuan Berkedok Kerja Sama

Disc Jockey dan selebritas Siva Aprilia mendatangi Markas Besar Polri untuk melaporkan dugaan penipuan yang mencatut namanya. Laporan itu dibuat setelah ia menilai aksi pelaku telah merugikan banyak orang, terutama rekan-rekannya di bidang makeup artist atau MUA. Kasus ini diduga berlangsung dengan modus kerja sama palsu yang dikemas secara meyakinkan. Siva berharap langkah hukum ini dapat menghentikan praktik serupa yang terus memakan korban.

Pelaku diduga menyamar sebagai pihak manajemen, bagian keuangan, hingga mengatasnamakan klub malam besar untuk membangun kepercayaan korban. Dengan cara itu, para korban diyakinkan bahwa mereka akan terlibat dalam acara berskala besar bersama Siva. Setelah tertarik, korban kemudian diminta mentransfer uang dengan alasan dana talangan tiket pesawat dan hotel. Uang itu dijanjikan akan diganti, tetapi pada praktiknya justru menjadi bagian dari penipuan.

Penipuan Berkedok Kerja Sama

Siva Aprilia menjelaskan bahwa para pelaku menyusun modus dengan sangat rapi agar terlihat meyakinkan. Mereka membuat grup percakapan palsu dan menggunakan identitas berbeda untuk menipu calon korban. Skema itu membuat banyak orang percaya karena nama Siva ikut dicatut dalam komunikasi. Situasi tersebut kemudian mendorong dirinya menempuh jalur hukum.

Menurut Siva, para pelaku bahkan mengaku berasal dari pihak klub dan bagian keuangan yang bertugas mengatur kebutuhan acara. Penggunaan nama klub besar membuat tawaran kerja sama terlihat lebih nyata bagi para MUA. Karena berkaitan dengan dunia hiburan dan event, banyak korban disebut antusias sejak awal. Kondisi itu dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan permintaan transfer uang.

Ia menyebut para korban sempat percaya karena tawaran yang disampaikan terdengar profesional dan mendesak. Dalam sejumlah kasus, korban mengira pembayaran tersebut merupakan bagian dari prosedur kerja yang sah. Namun setelah uang dikirim, komunikasi diduga mulai tidak jelas dan sulit dihubungi. Dari situlah dugaan penipuan ini semakin menguat.

Kerugian Menimpa Para MUA

Kasus ini disebut telah menimbulkan kerugian materiil bagi sejumlah MUA yang menjadi sasaran. Besaran kerugian yang disampaikan berkisar antara Rp9 juta hingga Rp11 juta per orang. Angka itu dinilai cukup besar bagi pekerja lepas yang bergantung pada proyek harian. Tidak hanya uang, para korban juga disebut mengalami tekanan psikologis akibat tertipu.

Siva mengaku ikut merasa tidak tenang karena namanya terus dipakai untuk menjerat korban baru. Ia menyebut laporan dari berbagai pihak datang hampir setiap hari dan membuat dirinya ikut terpukul. Meski tidak mengenal para pelaku, ia merasa bersalah karena identitasnya dipakai sebagai alat tipu daya. Kondisi itu membuatnya memutuskan untuk bersikap tegas di jalur hukum.

Ia menegaskan bahwa para korban tidak seharusnya menanggung kerugian karena percaya pada nama publik figur. Menurutnya, kepercayaan yang dibangun pelaku terjadi karena pencatutan identitas yang sangat meyakinkan. Oleh sebab itu, ia berharap kasus ini menjadi perhatian serius aparat penegak hukum. Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran kerja sama yang tidak jelas sumbernya.

Laporan Resmi Ke Polisi

Siva telah menyelesaikan pemeriksaan berita acara pemeriksaan atau BAP di Mabes Polri. Ia juga menyerahkan barang bukti berupa tangkapan layar percakapan dan nomor rekening yang digunakan pelaku. Dokumen itu diharapkan dapat membantu penyidik menelusuri jejak para terlapor. Proses pelaporan tersebut menjadi langkah awal untuk mengungkap skema penipuan yang diduga terstruktur.

Laporan Siva tercatat dengan nomor LP/B/225/V/2026/SPKT/BARESKRIM POLRI. Adapun detail perkara yang dilaporkan berkaitan dengan dugaan manipulasi identitas dan informasi elektronik. Kasus ini mengacu pada Pasal 35 jo Pasal 51 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE. Ancaman hukumannya disebut mencapai 12 tahun penjara dan denda bernilai miliaran rupiah.

Menurut Siva, langkah hukum ini bukan semata untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia ingin agar kasus serupa tidak kembali menimpa orang lain, khususnya para pekerja di industri kreatif. Penindakan terhadap pelaku juga dinilai penting untuk memutus rantai penipuan digital yang semakin marak. Dengan begitu, masyarakat dapat lebih terlindungi dari modus yang memanfaatkan media komunikasi daring.

Harapan Siva Pada Aparat

Siva berharap kepolisian bergerak cepat mengusut tuntas kasus yang menyeret namanya. Ia meminta para pelaku segera ditangkap agar tidak ada korban baru yang jatuh. Menurutnya, penipuan digital seperti ini sudah berlangsung terlalu jauh dan harus dihentikan. Ia menilai tindakan tegas akan memberi efek jera kepada pelaku lain.

Ia juga membuka harapan bahwa kerugian para korban dapat dipulihkan apabila memungkinkan. Namun, bagi Siva, prioritas utama tetap penangkapan para pelaku dan pengungkapan jaringan yang terlibat. Ia menilai para penipu kini semakin pintar dalam membangun citra palsu. Karena itu, masyarakat diminta lebih cermat memeriksa setiap tawaran kerja sama yang masuk.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pencatutan nama publik figur dapat digunakan untuk menipu dengan sangat meyakinkan. Di era komunikasi digital, verifikasi identitas menjadi langkah penting sebelum mengirim uang atau menerima proyek. Masyarakat disarankan memastikan sumber informasi melalui kanal resmi dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kewaspadaan yang lebih tinggi, risiko menjadi korban scam dapat ditekan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!