Serat Daun Nanas Jadi Bisnis Ekspor Bernilai Tinggi

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 29 Mei 2026 19:58 WIB 5
Serat Daun Nanas Jadi Bisnis Ekspor Bernilai Tinggi

Bagi banyak petani, daun nanas selama ini hanya dianggap sisa panen yang tidak bernilai dan kerap berakhir dibakar. Namun bagi Alan Sahroni, limbah tersebut justru menjadi bahan baku bisnis yang mampu mengangkat ekonomi petani sekaligus menciptakan produk bernilai tinggi.

Melalui Alfiber, Alan mengolah daun nanas menjadi serat yang dipasarkan ke Singapura, Malaysia, Jerman, hingga Jepang. Produk ini digunakan sebagai bahan baku tekstil, fesyen, dan kerajinan, sehingga membuka peluang baru dari komoditas yang sebelumnya terabaikan.

Peluang Serat Daun Nanas

Perjalanan Alan dimulai pada 2013 saat ia mengikuti lomba business plan nasional sebagai syarat mengambil ijazah. Saat itu, ia menempuh pendidikan di STT Tekstil Bandung melalui beasiswa dari Kementerian Perindustrian.

Dari proses belajar tersebut, Alan melihat potensi besar Subang sebagai daerah penghasil nanas. Ia tidak hanya melihat buahnya yang sudah umum diolah, tetapi juga serat kuat yang tersembunyi di daunnya.

Menurut Alan, serat daun nanas memiliki karakter yang cocok untuk berbagai kebutuhan industri. Bahan itu dapat diolah menjadi kain, kerajinan, hingga produk fesyen yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Mesin Serat Daun Nanas

Kemenangan dalam lomba tersebut membuka jalan bagi Alan untuk mendapatkan fasilitas pembuatan mesin pengolah daun nanas menjadi serat. Karena belum ada mesin sejenis di pasaran, ia bersama dosen merancang sendiri alat bernama dekortikator.

Mesin itu kemudian menjadi fondasi produksi komersial Alfiber yang mulai berjalan pada 2013. Dengan alat tersebut, daun nanas dapat diproses lebih efisien menjadi serat siap olah.

Alan menyebut realisasi mesin itu menjadi titik penting dalam pengembangan usahanya. Tanpa inovasi tersebut, pengolahan daun nanas sulit dilakukan secara berkelanjutan dan bernilai komersial.

Pasar Serat Daun Nanas

Pada awal produksi, tantangan utama Alfiber adalah pasar yang belum mengenal serat daun nanas. Alan pun membangun pemasaran dari nol melalui blog gratis untuk memperkenalkan produk tersebut.

Upaya itu perlahan membuahkan hasil karena perhatian mulai datang dari akademisi, mahasiswa, dan media nasional. Pengenalan yang konsisten membantu memperluas pemahaman publik tentang potensi serat nanas.

Selain menjual serat siap olah, Alfiber juga menawarkan paket produksi lengkap. Paket tersebut terdiri atas mesin dekortikator dan alat tenun bukan mesin yang dibutuhkan pelaku usaha maupun laboratorium kampus.

Ekspor Serat Daun Nanas

Pada 2021, Alfiber berhasil menembus pasar ekspor ke Singapura di tengah pandemi COVID-19. Pengiriman dilakukan bertahap sesuai ketersediaan stok yang dimiliki perusahaan.

Alan menjelaskan, total serat daun nanas yang terjual ke Negeri Singa mencapai 1,2 ton. Harga jualnya berada di level Rp187 ribu per kilogram, menunjukkan nilai ekonomi yang tinggi dari limbah pertanian.

Keberhasilan itu menegaskan bahwa daun nanas bukan sekadar sisa panen. Dengan inovasi, bahan yang semula dibakar dapat berubah menjadi produk ekspor yang memberi manfaat bagi petani dan pelaku usaha.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!