Manfaat Suplemen Kolagen untuk Kulit, Ini Kata Dokter

Lifestyle Anindya Kirana Putri 30 Mei 2026 22:48 WIB 2
Manfaat Suplemen Kolagen untuk Kulit, Ini Kata Dokter

Suplemen kolagen kembali menjadi sorotan di industri kecantikan karena diklaim mampu membuat kulit tampak lebih muda, segar, halus, dan glowing. Di pasar global, produk ini terus diminati, bahkan diperkirakan digunakan oleh sekitar 60 juta orang setiap hari.

Popularitas tersebut turut mendorong nilai pasar suplemen kolagen mencapai 2,6 miliar dolar AS pada 2025, setara sekitar Rp43,57 triliun. Meski begitu, efektivitasnya masih menjadi perdebatan karena hasil penelitian sejauh ini belum sepenuhnya seragam.

Kolagen dan kesehatan kulit

Ragam produk kolagen kini mudah ditemukan, mulai dari bentuk pil, bubuk seduh, hingga permen jeli. Namun, tidak semua studi menunjukkan hasil yang meyakinkan, sehingga sebagian ahli masih memandangnya sebagai pengeluaran yang belum tentu sepadan dengan manfaatnya.

Penelitian Johns Hopkins University pada 2013 yang berjudul Enough is Enough: Stop Wasting Money on Vitamin and Mineral Supplements sempat menyoroti potensi pemborosan pada berbagai suplemen. Kendati demikian, tinjauan terbaru terhadap 113 uji klinis menunjukkan adanya peluang manfaat kolagen bila dikonsumsi secara rutin dan konsisten.

Manfaat yang paling sering disebut berkaitan dengan kesehatan kulit, sistem muskuloskeletal, dan kesehatan mulut. Temuan ini membuat kolagen kembali dibicarakan sebagai suplemen yang mungkin memiliki nilai lebih dari sekadar tren kecantikan.

Penilaian dokter soal kolagen

Mona Gohara, dokter kulit sekaligus profesor klinis dermatologi di Yale School of Medicine, menyebut tinjauan terbaru itu sebagai salah satu studi paling komprehensif. Menurut dia, kolagen tampak memberi peningkatan kecil namun konsisten pada hidrasi dan elastisitas kulit.

Hadley King, dokter kulit bersertifikasi dari New York City, juga menilai bukti yang ada menunjukkan potensi manfaat yang cukup beragam. Ia menegaskan bahwa kolagen memang tidak dikategorikan sebagai obat, tetapi tetap layak dipertimbangkan dalam konteks perawatan kulit.

Daniel Belkin, dokter kulit lain dari New York City, mengaku lebih percaya diri merekomendasikan kolagen kepada pasien setelah membaca tinjauan tersebut. Meski demikian, para dokter tetap menilai data yang tersedia belum cukup untuk dijadikan dasar rekomendasi luas tanpa kehati-hatian.

Batasan bukti ilmiah

Di balik popularitasnya, hasil studi kolagen masih belum sepenuhnya konsisten. Kualitas analisis yang berbeda-beda juga membuat potensi bias tetap perlu diperhitungkan.

Dr. Gohara menilai tinjauan terbaru itu belum menunjukkan kemampuan kolagen dalam mengurangi tanda penuaan secara signifikan, termasuk kerutan halus. Padahal, hal tersebut justru menjadi alasan utama banyak orang mengonsumsi suplemen ini.

Ia menegaskan bahwa fokus manfaat kolagen lebih terlihat pada perbaikan skin barrier dan peningkatan hidrasi kulit. Bahkan secara pribadi, ia mengaku belum bersedia mengonsumsinya sebelum ada persetujuan dari Food and Drug Administration di Amerika Serikat.

Tips konsumsi kolagen

Dr. King memiliki pandangan sedikit berbeda karena ia sendiri mengonsumsi beberapa produk pendukung kolagen. Namun, ia tetap menekankan bahwa diperlukan lebih banyak data sebelum suplemen ini direkomendasikan secara luas kepada pasien.

Ia menyarankan masyarakat berkonsultasi dengan dokter kulit tepercaya sebelum memutuskan untuk mengonsumsi kolagen. Jika tetap ingin mencobanya, pilihlah produk yang memiliki bukti ilmiah memadai dan konsumsi secara teratur sesuai anjuran.

Selain mengandalkan suplemen, perawatan kulit dasar tetap tidak boleh diabaikan. Penggunaan sunscreen, retinoid, serta gaya hidup sehat dinilai lebih penting untuk menekan penuaan dini akibat paparan sinar UV, perubahan hormon, dan kebiasaan buruk sehari-hari.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!