Satelit Nusantara Lima Siap Komersial Usai Lolos ULO Komdigi

Teknologi Moh. Royhan Nahado 02 Juni 2026 03:07 WIB 6
Satelit Nusantara Lima Siap Komersial Usai Lolos ULO Komdigi

PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) semakin dekat mengoperasikan secara komersial Satelit Nusantara Lima atau Satelit N5 setelah mengantongi izin Jaringan Tetap Tertutup Berbasis Satelit (Jartupsat) dan Very Small Aperture Terminal (VSAT) dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Izin itu diberikan usai Satelit N5 lolos Uji Laik Operasi (ULO) di Gateway Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 23-24 April 2026. Dengan kapasitas 160 Gbps, satelit ini diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di Asia. Kehadirannya dipandang strategis untuk memperluas akses internet nasional, terutama di daerah 3T.

Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso menyebut kelulusan ULO menjadi fase penting sebelum satelit melayani masyarakat luas. Ia menegaskan bahwa PSN siap menjalankan misi pemerataan konektivitas dan mendukung agenda transformasi digital nasional. Satelit N5 juga diharapkan memperkecil kesenjangan akses internet di pelosok Nusantara. Pemerintah menilai infrastruktur ini dapat menjadi penguat layanan publik di wilayah yang masih terbatas secara digital.

Satelit N5 dan Izin Komdigi

ULO dilakukan oleh Tim Kelompok Kerja Layanan Telekomunikasi Komdigi untuk memastikan sarana dan prasarana Satelit N5 memenuhi standar keamanan dan fungsionalitas. Pengujian tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi. Proses ini juga memeriksa kepatuhan terhadap regulasi spektrum frekuensi di Indonesia. Hasilnya menjadi dasar pemberian izin operasional yang dibutuhkan PSN.

Pengujian mencakup validasi infrastruktur jaringan tetap tertutup berbasis satelit dan VSAT. Pemeriksaan dilakukan untuk menjamin kualitas layanan dan keandalan sistem. Komdigi menilai langkah ini penting agar layanan yang nantinya diterima pengguna tetap sesuai standar. Kelayakan teknis juga menjadi syarat utama sebelum satelit dioperasikan secara komersial.

Pelaksanaan ULO di Banjarbaru turut ditinjau Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah, bersama sejumlah pejabat lain. Kehadiran mereka menandai perhatian pemerintah terhadap kesiapan infrastruktur satelit nasional. Proses peninjauan dilakukan secara langsung untuk memastikan seluruh parameter berjalan sesuai ketentuan. Hal ini memperkuat legitimasi kesiapan Satelit N5 di mata regulator.

Kapasitas Besar untuk Internet

Satelit N5 memiliki kapasitas 160 Gbps, yang menempatkannya sebagai salah satu satelit berkapasitas terbesar di Asia. Dengan kemampuan itu, PSN menargetkan peningkatan pemerataan konektivitas internet di seluruh Indonesia. Infrastruktur ini diharapkan mampu mendukung kebutuhan komunikasi data dalam skala besar. Dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat, sektor bisnis, hingga layanan publik.

Edwin Hidayat Abdullah menilai Satelit N5 merupakan aset strategis dalam mendukung transformasi digital nasional. Menurut dia, pemerintah masih mengejar target kecepatan internet rata-rata Indonesia sebesar 100 Mbps pada 2029. Kehadiran kapasitas besar dari Satelit N5 dinilai dapat membantu mempercepat pencapaian target tersebut. Pemerataan akses digital juga dipandang sebagai fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi digital.

PSN menyebut seluruh infrastruktur ruas bumi telah terintegrasi dengan segmen luar angkasa. Integrasi itu mencakup tujuh stasiun bumi dari Aceh hingga Tarakan. Dengan jaringan yang sudah tersambung, distribusi layanan internet diharapkan lebih efisien. Kondisi ini juga memperkuat kesiapan operasional satelit untuk melayani wilayah yang sulit dijangkau jaringan terestrial.

Jangkauan Luas hingga ASEAN

Satelit N5 menggunakan platform Boeing 702MP dengan 101 spot beam Ka-band. Teknologi tersebut memungkinkan jangkauan layanan yang luas, termasuk ke kawasan ASEAN seperti Malaysia dan Filipina. Kapabilitas itu menjadikan N5 tidak hanya relevan bagi kebutuhan domestik, tetapi juga memiliki daya jangkau regional. Posisi orbitnya memperkuat fleksibilitas dalam menyediakan layanan komunikasi satelit.

Satelit ini diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat, pada September 2025. Setelah itu, Satelit N5 menjalani fase Electric Orbit Raising atau EOR sebelum menempati slot orbit 113 derajat Bujur Timur pada Januari 2026. Rangkaian proses tersebut menunjukkan tahapan teknis yang panjang sebelum satelit siap digunakan. Setiap fase menjadi bagian penting dari perjalanan menuju operasi komersial.

Dengan usia operasional lebih dari 15 tahun, Satelit N5 diproyeksikan memberi kontribusi jangka panjang bagi jaringan komunikasi nasional. PSN menilai satelit ini dapat mendukung internet cepat bagi masyarakat dan dunia usaha. Selain itu, keberadaannya dinilai penting untuk penguatan keamanan nasional. Pemerataan akses digital menjadi tujuan utama yang ingin didorong melalui kehadiran infrastruktur ini.

Dukungan untuk Wilayah Terpencil

PSN menegaskan Satelit N5 akan diarahkan untuk memperkuat layanan di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal. Kehadiran kapasitas besar diharapkan membantu menutup kesenjangan akses internet yang selama ini masih terjadi. Pemerintah juga melihat infrastruktur satelit sebagai solusi cepat untuk daerah yang sulit dijangkau jaringan serat optik. Dengan demikian, konektivitas dapat diperluas tanpa menunggu pembangunan darat yang panjang.

Adi Rahman Adiwoso menyampaikan apresiasi atas proses evaluasi yang telah dilalui Satelit N5. Ia menyebut kelulusan ULO menjadi bukti bahwa teknologi yang dibangun PSN juga patuh terhadap regulasi nasional. Menurut dia, kepatuhan terhadap standar menjadi bagian penting dari penyediaan layanan telekomunikasi. Hal ini menunjukkan kesiapan perusahaan dalam memasuki fase komersial berikutnya.

Komdigi berharap kapasitas 160 Gbps dapat segera dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat layanan publik. Pemerintah menilai konektivitas yang lebih merata akan membantu percepatan transformasi digital. Bagi masyarakat di daerah minim akses, kehadiran Satelit N5 dapat membuka peluang layanan yang lebih baik. Langkah ini dinilai sejalan dengan agenda pembangunan nasional berbasis pemerataan digital.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!