Mengenal Ultra-Processed Food, Tidak Semua Makanan Kemasan Buruk

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 18:19 WIB 2
Mengenal Ultra-Processed Food, Tidak Semua Makanan Kemasan Buruk

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial karena banyak makanan kemasan langsung dicap tidak sehat. Padahal, tidak semua pangan olahan memiliki kualitas dan kandungan gizi yang sama, sehingga penilaiannya perlu dilakukan secara lebih cermat.

Sejumlah produk yang kerap dianggap UPF justru masih bisa menyumbang protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, memahami komposisi dan tingkat pengolahan makanan menjadi penting agar masyarakat tidak salah menilai produk yang dikonsumsi sehari-hari.

Ultra-Processed Food dan Sarden

Sarden kalengan sering masuk dalam daftar makanan yang dicurigai sebagai ultra-processed food. Namun, statusnya sangat bergantung pada komposisi produk yang tercantum di label.

Jika isi sarden hanya berupa ikan, garam, minyak, atau saus tomat sederhana, produk tersebut cenderung lebih dekat ke processed foods. Sebaliknya, tambahan seperti perisa, pengental, pemanis, dan aditif lain dapat membuatnya lebih pantas disebut UPF.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa label kemasan perlu dibaca dengan teliti sebelum menilai suatu produk. Konsumen tidak sebaiknya hanya terpaku pada status makanan olahan tanpa melihat bahan penyusunnya.

Ultra-Processed Food dan Susu UHT

Susu UHT juga kerap diperdebatkan dalam klasifikasi ultra-processed food. Produk ini tidak selalu masuk kategori UPF, terutama bila bentuknya masih sederhana dan tidak banyak tambahan.

Susu UHT plain umumnya dianggap lebih dekat ke makanan olahan biasa oleh sebagian peneliti. Namun, produk susu yang sudah ditambah perisa, pemanis, atau formulasi yang lebih kompleks cenderung lebih mudah masuk kategori UPF.

Karena itu, memahami jenis susu yang dibeli menjadi langkah penting bagi konsumen. Informasi pada label komposisi dapat membantu membedakan produk yang relatif sederhana dan produk yang telah melalui pengolahan lebih jauh.

Ultra-Processed Food dan Gizi

Stigma terhadap ultra-processed food sering membuat masyarakat menganggap semua makanan kemasan buruk. Padahal, kandungan gizi tetap menjadi faktor utama dalam menilai manfaat atau risikonya bagi tubuh.

Beberapa produk olahan masih dapat menjadi sumber energi, protein, atau mikronutrien yang berguna. Oleh sebab itu, menilai makanan hanya dari proses pengolahannya tanpa melihat komposisi gizi dapat menimbulkan kesimpulan yang kurang tepat.

Pendekatan yang lebih seimbang diperlukan agar masyarakat tidak terjebak pada persepsi hitam putih. Pemilihan pangan sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan tubuh, frekuensi konsumsi, dan kualitas bahan yang digunakan.

Ultra-Processed Food dan Pilihan Bijak

Menilai makanan kemasan secara bijak dimulai dari kebiasaan membaca label. Daftar bahan, kandungan gizi, dan jumlah aditif dapat memberikan gambaran yang lebih akurat tentang produk tersebut.

Konsumen juga perlu memperhatikan porsi dan frekuensi konsumsi, bukan hanya kategori makanannya. Produk olahan tertentu masih dapat dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang seimbang jika dipilih dengan tepat.

Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat dapat membedakan mana pangan olahan yang masih wajar dan mana yang perlu dibatasi. Sikap ini membantu menjaga kesehatan tanpa perlu menghindari semua makanan kemasan secara berlebihan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!