Satelit Nusantara Lima Siap Komersial, Perkuat Internet Indonesia

Teknologi Moh. Royhan Nahado 30 Mei 2026 07:36 WIB 5
Satelit Nusantara Lima Siap Komersial, Perkuat Internet Indonesia

PT Pasifik Satelit Nusantara atau PSN selangkah lagi mengoperasikan secara komersial Satelit Nusantara Lima, setelah mengantongi izin Jaringan Tetap Tertutup Berbasis Satelit dan VSAT dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Izin itu diterbitkan usai Satelit N5 lolos Uji Laik Operasi di Gateway Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 23-24 April 2026. Kehadiran satelit berkapasitas 160 Gbps ini disebut menjadi salah satu yang terbesar di Asia, sekaligus memperkuat pemerataan akses internet nasional. Operasi komersialnya diharapkan segera mendorong layanan digital yang lebih merata, terutama di wilayah 3T.

Direktur Utama PSN, Adi Rahman Adiwoso, menilai kelulusan ULO menjadi fase krusial sebelum satelit tersebut melayani masyarakat luas. Ia menyebut pencapaian itu sebagai bukti komitmen perusahaan dalam menghadirkan infrastruktur satelit yang canggih dan patuh pada regulasi nasional. Pemerintah juga menempatkan Satelit N5 sebagai bagian dari agenda besar transformasi digital dan pemerataan konektivitas. Dengan demikian, satelit ini diproyeksikan memberi dampak langsung pada layanan publik, dunia usaha, dan masyarakat di pelosok.

Satelit N5 dan Uji Laik Operasi

Proses ULO dilakukan oleh Tim Kelompok Kerja Layanan Telekomunikasi Komdigi untuk memastikan seluruh sarana dan prasarana memenuhi standar keamanan serta fungsionalitas. Pengujian tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi. Pemeriksaan juga mencakup validasi infrastruktur jaringan tetap tertutup berbasis satelit dan VSAT. Langkah ini penting untuk menjamin kualitas layanan, keandalan sistem, dan kepatuhan terhadap regulasi spektrum frekuensi.

Pelaksanaan pengujian di Gateway Banjarbaru turut ditinjau langsung oleh Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah. Hadir pula JF Penata dan Penyelenggara Pos dan Informatika Ahli Utama, Geryantika Kurnia, serta Ketua Kelompok Kerja Layanan Telekomunikasi, Falatehan. Kehadiran para pejabat itu menunjukkan pentingnya tahap verifikasi teknis bagi infrastruktur strategis nasional. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan sistem siap digunakan secara komersial tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan mutu layanan.

PSN menegaskan bahwa kelulusan ULO menjadi bukti kesiapan teknis Satelit N5 untuk masuk ke layanan publik. Perusahaan juga menilai kepastian kelayakan ini penting bagi perlindungan hak pengguna jasa telekomunikasi di masa depan. Dengan standar pengujian yang ketat, satelit diharapkan dapat memberikan layanan yang stabil dan andal. Pada tahap ini, seluruh hasil pemeriksaan menjadi dasar kuat sebelum komersialisasi resmi dimulai.

Kapabilitas Satelit Nusantara Lima

Satelit N5 menggunakan platform Boeing 702MP dengan 101 spot beam Ka-band. Kapasitasnya mencapai 160 Gbps dan menjangkau kawasan ASEAN, termasuk Malaysia serta Filipina. Dengan skala tersebut, Satelit N5 disebut sebagai salah satu satelit berkapasitas terbesar di Asia. Kekuatan ini menjadikannya aset penting dalam menopang kebutuhan konektivitas Indonesia.

Satelit ini diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat, pada September 2025. Setelah peluncuran, Satelit N5 menjalani fase Electric Orbit Raising sebelum menempati slot orbit 113 derajat Bujur Timur pada Januari 2026. Tahapan itu menunjukkan proses penempatan satelit dilakukan secara bertahap dan terukur. Setiap fase menjadi bagian penting untuk memastikan posisi orbit stabil dan siap melayani jaringan.

Seluruh infrastruktur ruas bumi PSN, termasuk tujuh stasiun bumi dari Aceh hingga Tarakan, telah terintegrasi dengan segmen luar angkasa. Integrasi itu memperkuat kesiapan layanan dari sisi teknis dan operasional. Dengan usia operasional lebih dari 15 tahun, Satelit N5 diproyeksikan menopang internet cepat untuk masyarakat dan sektor bisnis. Keberadaannya juga disebut relevan bagi penguatan keamanan nasional di seluruh Indonesia.

Dampak bagi transformasi digital

Edwin Hidayat Abdullah menilai kehadiran Satelit N5 sebagai aset strategis bagi transformasi digital nasional. Ia menekankan target kecepatan internet rata-rata Indonesia sebesar 100 Mbps pada 2029 membutuhkan dukungan infrastruktur yang kuat. Menurutnya, kelulusan ULO membuktikan satelit tersebut siap secara teknis untuk mengambil peran itu. Pemerintah berharap kapasitas 160 Gbps segera dimanfaatkan secara optimal untuk pelayanan publik di daerah dengan keterbatasan akses digital.

Pemerataan konektivitas menjadi salah satu tantangan utama dalam pembangunan digital Indonesia. Satelit N5 diharapkan dapat membantu menjawab kebutuhan internet di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal. Dengan jangkauan yang luas, layanan ini dapat memperkuat akses pendidikan, kesehatan, dan administrasi publik. Dampaknya tidak hanya terasa di masyarakat, tetapi juga pada efisiensi layanan pemerintahan.

Falatehan menambahkan bahwa seluruh proses pengujian telah dilakukan secara komprehensif dan ketat. Ia menyebut pemeriksaan mencakup berbagai parameter kritikal, mulai dari keandalan transmisi hingga keamanan jaringan VSAT. Hasil pengujian menunjukkan sistem Satelit N5 laik dioperasikan secara komersial. Kepastian ini dinilai penting agar pengguna jasa telekomunikasi mendapatkan layanan yang berkualitas dan andal.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!