Sarden Kalengan Viral, Benarkah Termasuk Ultra Processed Food?

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 15:23 WIB 2
Sarden Kalengan Viral, Benarkah Termasuk Ultra Processed Food?

Media sosial kembali diramaikan oleh perdebatan soal sarden kalengan dan produk sejenis yang dikaitkan dengan Ultra Processed Food atau UPF. Banyak warganet baru mengetahui bahwa sebagian produk tersebut ternyata tidak masuk kategori UPF, sehingga pandangan lama ikut berubah. Perbincangan ini memicu pertanyaan, apakah label UPF benar-benar selalu identik dengan makanan tidak sehat. Di sisi lain, apakah produk non-UPF otomatis lebih baik untuk dikonsumsi.

Faktanya, ikan kalengan memang melalui proses pengolahan agar lebih awet dan tahan simpan. Proses tersebut membuat sarden, makarel, tuna, dan produk serupa tetap masuk kategori processed food, meski tidak selalu tergolong UPF. Proses pengalengan juga membuat produk lebih praktis untuk kebutuhan harian, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan makanan siap saji. Namun, status olahan ini tetap perlu dipahami bersama komposisi dan cara produksinya.

Sarden Kalengan dan UPF

Istilah UPF kerap menjadi sorotan karena diasosiasikan dengan makanan yang sangat jauh dari bentuk aslinya. Dalam klasifikasi NOVA, makanan olahan dibedakan berdasarkan tingkat pemrosesan dan bahan tambahan yang digunakan. Sarden kalengan tidak otomatis masuk UPF hanya karena dikemas dalam kaleng. Penilaiannya perlu melihat komposisi, proses, serta jenis bahan tambahan yang dipakai.

Sejumlah produk sarden kalengan masih menampilkan bahan yang relatif sederhana, seperti ikan, air, minyak, saus tomat, garam, dan rempah. Pada beberapa merek, komposisi ikan bahkan mencapai porsi dominan, meski ada juga yang lebih kecil. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak semua produk kaleng memiliki formula yang sama. Karena itu, label pada kemasan menjadi sumber informasi penting bagi konsumen.

Pengolahan pada makanan kaleng bertujuan utama memperpanjang umur simpan dan menjaga keamanan pangan. Sterilisasi suhu tinggi membantu menekan pertumbuhan mikroorganisme yang bisa merusak produk. Dalam proses ini, penggunaan garam, saus, dan minyak juga berperan menjaga rasa serta tekstur. Dengan demikian, produk kalengan tidak dapat disamakan begitu saja dengan makanan ultra olahan.

Meski begitu, kategori UPF tetap relevan sebagai pengingat agar konsumen tidak abai terhadap komposisi. Produk yang mengandung banyak aditif industri memang lebih dekat dengan karakter UPF dibanding makanan rumahan. Karena itu, pemahaman yang utuh jauh lebih penting daripada sekadar melihat makanan berasal dari kaleng. Konsumen perlu menilai isi, bukan hanya bentuk kemasannya.

Komposisi dalam Kemasan

Pantauan pada sejumlah produk makanan kalengan menunjukkan komponen utama umumnya berupa ikan, baik sarden, makarel, maupun tuna. Persentase bahan utama tersebut bervariasi, dari sekitar 20 persen hingga mencapai 60 persen. Selisih ini menunjukkan adanya perbedaan formulasi antar merek. Semakin tinggi kandungan ikan, biasanya semakin dekat produk tersebut dengan bahan pangan utuh.

Selain ikan, produsen sering menambahkan air, minyak, saus tomat, gula, garam, cabai, bawang, dan rempah. Bahan-bahan itu tidak selalu bertujuan menciptakan produk ultra olahan, karena sebagian merupakan bahan masakan yang juga umum digunakan di rumah. Namun, komposisi tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kadar natrium dan gula. Dua komponen ini sering menjadi perhatian bagi konsumen yang menjaga pola makan.

Garam natrium memiliki fungsi penting dalam makanan kalengan karena membantu memperpanjang daya simpan dan memperkuat rasa. Saus tomat bukan hanya penambah cita rasa, tetapi juga membantu menjaga kestabilan produk selama penyimpanan. Sementara itu, minyak berfungsi mempertahankan tekstur ikan agar tetap lembut setelah proses sterilisasi. Kombinasi bahan tersebut membuat produk lebih stabil, praktis, dan mudah dikonsumsi.

Meski tampak sederhana, komposisi pada label tetap perlu dibaca dengan teliti. Daftar bahan memberi gambaran apakah produk masih mendekati makanan biasa atau sudah banyak menggunakan komponen industri. Dengan kebiasaan membaca label, konsumen dapat memilih produk sesuai kebutuhan gizi dan preferensi rasa. Langkah ini juga membantu menghindari kesalahpahaman soal istilah UPF.

Bahan Tambahan yang Dipakai

Pada beberapa produk, produsen menambahkan pengawet seperti natrium benzoat untuk membantu menghambat pertumbuhan mikroba. Bahan ini digunakan agar produk lebih stabil selama penyimpanan dan distribusi. Selain pengawet, ada pula MSG atau mononatrium L-glutamat yang berfungsi memperkuat rasa gurih. Dalam keseharian, bahan tersebut lebih dikenal sebagai penyedap rasa.

Beberapa merek juga memakai pati termodifikasi atau modified starch untuk mengentalkan saus agar tidak mudah terpisah. Ada pula pengatur keasaman seperti asam sitrat yang membantu menjaga kestabilan rasa dan kondisi produk. Penambahan bahan-bahan ini bertujuan memperbaiki tekstur sekaligus mempertahankan kualitas selama masa simpan. Pada titik tertentu, keberadaan aditif inilah yang membuat produk lebih dekat dengan ciri UPF.

Selain itu, pengemulsi atau pengental seperti gum sering digunakan untuk menjaga saus tetap homogen. Tanpa bahan tersebut, komponen cair dan padat bisa lebih mudah terpisah selama penyimpanan. Bagi industri pangan, stabilitas produk merupakan aspek penting agar mutu tetap konsisten. Namun, semakin banyak bahan tambahan, semakin penting pula konsumen mencermati label.

Penggunaan bahan tambahan makanan tetap diatur oleh regulasi keamanan pangan. Artinya, tidak semua bahan tambahan berbahaya hanya karena terdengar asing atau tidak digunakan di dapur rumahan. Selama berada dalam batas yang diizinkan, bahan tersebut dianggap aman dikonsumsi. Karena itu, kekhawatiran terhadap UPF sebaiknya dibarengi pemahaman tentang fungsi dan batas penggunaannya.

Cara Memilih yang Tepat

Bagi konsumen, langkah paling praktis adalah memeriksa daftar komposisi sebelum membeli. Produk dengan bahan yang lebih sederhana umumnya lebih mudah dipahami dan dinilai kualitasnya. Perhatikan pula kandungan natrium, gula, dan jenis minyak yang digunakan. Informasi tersebut dapat membantu menentukan apakah produk cocok dengan kebutuhan harian.

Jika tujuan utamanya adalah konsumsi yang lebih seimbang, produk dengan kandungan ikan lebih tinggi bisa menjadi pilihan yang lebih baik. Sarden kalengan tetap dapat menjadi sumber protein yang praktis, terutama saat waktu memasak terbatas. Namun, cara penyajian juga berpengaruh terhadap keseluruhan asupan gizi. Menambahkan sayur segar atau sumber karbohidrat kompleks bisa membuat menu lebih seimbang.

Penting juga untuk tidak terjebak pada anggapan bahwa semua makanan kaleng buruk bagi kesehatan. Sama seperti produk segar, makanan kalengan memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Yang paling menentukan adalah mutu bahan, proses produksi, dan frekuensi konsumsi. Dengan pemilihan yang tepat, produk kalengan masih dapat menjadi bagian dari pola makan yang wajar.

Perdebatan soal UPF seharusnya mendorong masyarakat lebih kritis dalam membaca label dan memahami proses pangan. Alih-alih sekadar viral, informasi yang benar dapat membantu konsumen membuat keputusan yang lebih bijak. Sarden kalengan bukan otomatis sehat, tetapi juga tidak otomatis buruk. Penilaian yang adil hanya bisa dilakukan jika komposisi dan prosesnya dilihat secara menyeluruh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!