Sarden Kalengan Ramai Dibahas, Real Food Tetap Dianggap Terbaik

Lifestyle Nadia Safira Putri 30 Mei 2026 11:16 WIB 2
Sarden Kalengan Ramai Dibahas, Real Food Tetap Dianggap Terbaik

Sarden kalengan belakangan ramai dibicarakan karena sebagian pihak menilai produk tersebut bukan termasuk ultra processed food atau UPF. Di tengah perdebatan itu, praktisi kesehatan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan menegaskan bahwa real food tetap menjadi pilihan paling sehat.

Menurut dr Aru, makanan olahan memiliki proses pembuatan yang tidak selalu diketahui secara pasti oleh konsumen. Ia menyampaikan pandangan itu dalam perbincangan dengan detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026, seraya menekankan bahwa risiko dari makanan olahan tetap perlu diwaspadai.

Real Food Masih Unggul

dr Aru menyebut bahwa jika tujuan utamanya adalah mencari makanan yang paling sehat, maka real food tetap berada di posisi teratas. Menurutnya, makanan segar memberi kepastian yang lebih baik karena bahan dan proses pengolahannya lebih mudah dikenali. Ia menilai hal itu penting untuk menjaga kualitas asupan sehari-hari.

Ia juga menegaskan bahwa makanan olahan kerap dibuat dengan campuran atau tambahan bahan yang tidak selalu sepenuhnya dapat dikontrol konsumen. Meski ada aturan yang mengawasi industri pangan, kemungkinan penyimpangan tetap ada. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih cermat saat memilih makanan.

Dalam pandangannya, konsumsi makanan yang prosesnya tidak jelas dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan jangka panjang. Karena itu, dr Aru mendorong masyarakat untuk lebih sering kembali ke bahan pangan yang minim proses. Ia menilai kebiasaan tersebut lebih aman bagi tubuh.

Risiko Kesehatan Meningkat

dr Aru mengaitkan maraknya makanan olahan dengan meningkatnya berbagai masalah kesehatan di usia muda. Ia menyebut saat ini tidak sedikit orang berusia 30 tahun yang sudah mengalami gangguan metabolik. Kondisi yang sering muncul antara lain hipertensi dan diabetes.

Ia menambahkan bahwa angka kesakitan pada anak muda juga terlihat semakin tinggi. Menurutnya, kasus diabetes usia muda dan hipertensi usia muda kini menjadi perhatian serius. Fenomena itu menunjukkan adanya perubahan pola kesehatan masyarakat.

Meski tidak menyebut makanan olahan sebagai satu-satunya penyebab, dr Aru menilai pola makan modern ikut berperan dalam situasi tersebut. Ia menekankan bahwa kebiasaan konsumsi harian perlu diperhatikan sejak dini. Langkah ini dinilai penting agar risiko penyakit tidak makin meluas.

Kendala Gaya Hidup Praktis

Di sisi lain, dr Aru mengakui tidak semua orang mudah menerapkan pola makan real food setiap hari. Kesibukan membuat banyak orang tidak sempat berbelanja atau memasak sendiri. Akhirnya, pilihan yang lebih praktis seperti makanan olahan pun lebih sering diambil.

Ia memahami bahwa kondisi tersebut bukan sekadar soal pilihan, melainkan juga soal keterbatasan waktu. Banyak masyarakat harus menyesuaikan asupan dengan ritme kerja dan aktivitas harian. Karena itu, makanan praktis menjadi solusi yang dianggap paling mungkin.

Meski demikian, dr Aru menilai masyarakat tetap bisa membuat penyesuaian sederhana. Misalnya, dengan memperbanyak bahan segar saat ada waktu dan mengurangi ketergantungan pada produk olahan. Menurutnya, langkah kecil seperti itu sudah memberi dampak positif bagi kesehatan.

Bijak Memilih Makanan Sehari-hari

Perdebatan soal sarden kalengan menunjukkan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara makanan praktis dan makanan yang benar-benar minim proses. Tidak semua produk olahan otomatis sama, tetapi kehati-hatian tetap diperlukan. Pemilihan makanan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing.

dr Aru menekankan pentingnya kebiasaan membaca komposisi dan memahami proses pengolahan makanan sebelum membeli. Dengan begitu, konsumen dapat lebih sadar terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh. Kesadaran ini menjadi bagian penting dari pencegahan penyakit sejak awal.

Pada akhirnya, ia menilai real food tetap menjadi standar terbaik untuk pola makan sehat. Meskipun makanan olahan membantu dalam situasi tertentu, pilihannya tidak sebaik bahan pangan segar. Karena itu, keseimbangan dan kehati-hatian menjadi kunci dalam menjaga kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!