Sarden Kalengan Masuk UPF atau Bukan? Ini Penjelasannya

Lifestyle Clara Monica 28 Mei 2026 03:50 WIB 2
Sarden Kalengan Masuk UPF atau Bukan? Ini Penjelasannya

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial, terutama saat publik mulai meneliti ulang makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Di tengah tren itu, sarden kalengan ikut menjadi sorotan setelah muncul klaim bahwa produk tersebut belum tentu tergolong UPF.

Perdebatan ini memunculkan pertanyaan penting, apakah makanan kalengan otomatis tidak sehat, atau justru masih bisa masuk kategori yang lebih ringan dalam klasifikasi pangan. Untuk menjawabnya, perlu melihat definisi UPF dan sistem klasifikasi NOVA yang digunakan para peneliti.

Memahami UPF pada Makanan

UPF merupakan singkatan dari ultra-processed food, yaitu kategori makanan dalam klasifikasi NOVA yang menilai tingkat pemrosesan pangan. Sistem ini dikembangkan oleh ilmuwan dari University of Sao Paulo di Brasil untuk membedakan makanan berdasarkan cara pengolahan dan komposisinya.

Dalam sistem tersebut, makanan tidak dinilai hanya dari bentuk akhirnya, tetapi juga dari bahan tambahan yang dipakai selama proses produksi. Karena itu, dua produk yang sama-sama dikemas belum tentu berada pada kategori yang sama.

Kelompok pertama dalam klasifikasi NOVA adalah makanan segar atau minim proses, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok kedua adalah bahan kuliner olahan, seperti gula, garam, mentega, dan minyak yang biasa dipakai untuk memasak.

Kelompok ketiga adalah makanan olahan, yakni produk yang ditambahkan garam, gula, atau minyak untuk membantu daya simpan dan rasa. Sementara itu, kelompok keempat adalah UPF, yaitu produk formulasi industri yang biasanya mengandung banyak bahan tambahan.

Sarden Kalengan dalam NOVA

Sarden kalengan umumnya tidak langsung masuk kategori UPF hanya karena berada dalam kemasan kaleng. Dalam banyak kasus, produk ini justru lebih dekat dengan kategori makanan olahan, selama bahan utamanya masih sederhana dan tidak banyak aditif.

Penilaian tersebut bergantung pada komposisi produk yang tercantum pada label kemasan. Jika sarden hanya berisi ikan, garam, minyak, atau saus sederhana, maka kategorinya cenderung bukan UPF.

Berbeda halnya jika sarden sudah ditambah perisa, pengental, pewarna, pemanis, emulsifier, atau pengawet dalam jumlah beragam. Semakin panjang daftar bahan tambahan, semakin besar kemungkinan produk tersebut mendekati UPF.

Karena itu, masyarakat perlu membaca label secara teliti sebelum menyimpulkan sebuah produk kalengan masuk kategori tertentu. Pendekatan ini lebih akurat dibandingkan menilai makanan hanya dari bentuk kemasannya.

Menilai Label dengan Cermat

Pemeriksaan label menjadi langkah utama untuk memahami apakah sebuah makanan termasuk UPF atau tidak. Informasi komposisi, takaran saji, dan jenis bahan tambahan dapat memberi gambaran yang lebih jelas tentang tingkat pemrosesan produk.

Masyarakat juga perlu membedakan istilah kalengan dengan ultra-proses, karena keduanya tidak selalu sama. Sebagian makanan kalengan hanya melalui proses pengawetan sederhana tanpa formulasi industri yang kompleks.

Jika sebuah produk mengandung banyak bahan yang sulit dikenali, maka kehati-hatian patut ditingkatkan. Sebaliknya, produk dengan komposisi singkat dan bahan yang umum dipakai biasanya lebih mudah dikategorikan.

Literasi label pangan menjadi penting di tengah derasnya informasi di media sosial. Dengan memahami komposisi, konsumen dapat menilai produk secara lebih objektif dan tidak terpancing klaim yang belum tentu tepat.

Peran Makanan Olahan Sehat

Tidak semua makanan olahan harus dihindari, karena sebagian masih dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang. Dalam konteks tertentu, makanan olahan justru membantu ketersediaan pangan yang praktis dan tahan lama.

Sarden kalengan, misalnya, bisa menjadi sumber protein hewani yang mudah diolah dan relatif ekonomis. Selama komposisinya sederhana, produk ini masih dapat dipertimbangkan sebagai pilihan yang wajar.

Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi konsumsi, porsi, dan keseluruhan pola makan harian. Makanan kemasan tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari menu yang beragam, bukan satu-satunya sumber nutrisi.

Dengan memahami perbedaan antara makanan olahan dan UPF, masyarakat dapat membuat pilihan yang lebih bijak. Penilaian yang tepat akan membantu menjaga kesehatan tanpa harus terjebak pada generalisasi terhadap semua produk kemasan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!