Sarden Kalengan Disebut Bukan UPF, Ini Penjelasan Dokter

Lifestyle Clara Monica 31 Mei 2026 15:54 WIB 2
Sarden Kalengan Disebut Bukan UPF, Ini Penjelasan Dokter

Sarden kalengan belakangan ramai dibicarakan karena dianggap bukan Ultra Processed Food atau UPF. Namun, praktisi kesehatan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH menegaskan bahwa pilihan paling sehat tetap real food.

Dalam perbincangan dengan detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026, dr Aru menyebut makanan olahan tidak sepenuhnya bisa dianggap aman tanpa catatan. Menurutnya, proses pembuatan dan tambahan bahan dalam produk olahan tetap menyimpan risiko bagi kesehatan bila dikonsumsi berlebihan.

Sarden Kalengan dan UPF

Menurut dr Aru, real food tetap menjadi pilihan terbaik untuk kesehatan tubuh. Ia menilai makanan olahan, termasuk sarden kalengan, tidak selalu jelas proses pembuatannya.

Ketidakjelasan itu membuat konsumen sulit menilai keamanan bahan tambahan yang digunakan. Karena itu, ia menyarankan masyarakat lebih selektif saat memilih makanan kemasan.

Meski sarden kalengan sering dianggap praktis, statusnya tetap perlu dipahami secara kritis. Konsumen sebaiknya tidak langsung menganggap semua produk kalengan setara dengan bahan pangan segar.

Ia menekankan bahwa label processed food tetap harus dibaca dengan cermat. Informasi pada kemasan dapat membantu masyarakat mengenali komposisi dan potensi risiko produk.

Risiko Makanan Olahan

Dr Aru menjelaskan bahwa makanan olahan umumnya menggunakan campuran bahan tambahan yang tidak selalu bisa dikontrol keamanannya. Meski ada regulasi, tetap ada kemungkinan penyimpangan dalam proses produksi.

Menurutnya, kondisi itu dapat berdampak pada kesehatan jika berlangsung terus-menerus. Konsumsi jangka panjang makanan olahan tanpa pengaturan pola makan bisa memicu masalah metabolik.

Ia menilai temuan penyakit di usia muda kini semakin sering terjadi. Fenomena itu, kata dia, tidak lepas dari perubahan pola konsumsi masyarakat modern.

Hipertensi, diabetes, dan gangguan metabolik lain kini banyak ditemukan pada usia produktif. Hal tersebut menjadi alasan mengapa masyarakat perlu lebih memperhatikan kualitas makanan sehari-hari.

Kesehatan Usia Muda

Dr Aru menyebut banyak orang kini sudah mengalami gangguan metabolik saat berusia sekitar 30 tahun. Kondisi itu menunjukkan bahwa penyakit tidak lagi identik dengan usia lanjut.

Ia mencontohkan hipertensi dan diabetes yang semakin sering muncul pada anak muda. Angka kesakitan pada kelompok usia muda pun, menurutnya, cenderung meningkat.

Perubahan gaya hidup dinilai menjadi salah satu faktor yang mempercepat munculnya masalah kesehatan tersebut. Pola makan tinggi makanan olahan ikut memperburuk kondisi tubuh bila tidak diimbangi aktivitas fisik.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya pencegahan sejak dini. Pemeriksaan kesehatan rutin dan pengaturan konsumsi harian dapat membantu menekan risiko penyakit metabolik.

Solusi Praktis Sehari-hari

Meski real food dinilai paling sehat, dr Aru mengakui tidak semua orang bisa menjalankannya setiap hari. Kesibukan membuat banyak orang tidak sempat berbelanja dan memasak sendiri.

Situasi itu akhirnya mendorong masyarakat memilih makanan yang lebih praktis, termasuk makanan olahan. Ia memahami pilihan tersebut sebagai bagian dari tuntutan hidup modern.

Namun, ia menegaskan bahwa pilihan praktis sebaiknya tetap disertai kontrol porsi dan frekuensi konsumsi. Masyarakat juga perlu menyeimbangkan dengan sayur, buah, dan sumber protein segar.

Dengan pengaturan yang tepat, makanan praktis masih bisa menjadi bagian dari pola makan harian. Tetapi, real food tetap menjadi acuan utama untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!