Sarden Kalengan dan UPF, Ini Penjelasannya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 27 Mei 2026 20:40 WIB 2
Sarden Kalengan dan UPF, Ini Penjelasannya

Istilah ultra-processed food atau UPF kembali ramai diperbincangkan di media sosial, seiring meningkatnya perhatian publik terhadap makanan kemasan dan kalengan. Dalam perdebatan itu, sarden kalengan ikut disorot setelah muncul klaim bahwa produk tersebut belum tentu masuk kategori UPF. Perbincangan ini memicu pertanyaan penting, apakah sarden kalengan benar-benar tergolong makanan ultra-proses atau justru hanya makanan olahan biasa.

Untuk menjawabnya, publik perlu memahami bahwa tidak semua makanan kemasan otomatis masuk dalam kelompok UPF. Klasifikasi makanan, khususnya NOVA, menilai produk berdasarkan tingkat pemrosesan dan bahan yang digunakan. Dengan memahami perbedaannya, konsumen dapat menilai produk secara lebih tepat, termasuk saat memilih sarden kalengan.

UPF dan sarden kalengan

UPF adalah istilah yang digunakan untuk menyebut makanan hasil formulasi industri dengan tingkat pemrosesan tinggi. Produk seperti ini umumnya memiliki banyak bahan tambahan, mulai dari perisa, pewarna, pemanis, hingga emulsifier. Karena itu, label kemasan tidak cukup untuk menentukan apakah suatu makanan masuk UPF atau tidak.

Sarden kalengan sering dianggap sama dengan UPF karena dikemas dalam produk industri. Namun, status tersebut tidak bisa dipukul rata tanpa melihat komposisi dan proses pengolahannya. Dalam banyak kasus, ikan kalengan justru masuk kategori makanan olahan, bukan ultra-olahan.

Perbedaan ini penting karena masyarakat kerap menyamakan semua makanan kalengan dengan makanan ultra-proses. Padahal, proses pengalengan dapat dilakukan hanya untuk memperpanjang daya simpan tanpa mengubah produk menjadi formulasi industri yang kompleks. Dengan demikian, penilaian harus dilakukan secara lebih cermat.

Pakar gizi umumnya menekankan bahwa kunci utama ada pada bahan dan tingkat modifikasi produk. Jika sarden hanya ditambah garam, minyak, atau saus sederhana, kategorinya berbeda dari makanan yang penuh aditif. Karena itu, pembacaan label menjadi langkah yang tidak boleh diabaikan.

Klasifikasi NOVA makanan

Klasifikasi NOVA membagi makanan ke dalam empat kelompok berdasarkan tingkat pemrosesannya. Sistem ini dikembangkan oleh para ilmuwan dari University of Sao Paulo di Brasil. Tujuannya adalah membantu publik memahami perbedaan antara makanan segar, olahan, dan ultra-olahan.

Kelompok pertama mencakup makanan tanpa proses atau hanya diproses minimal, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok kedua berisi bahan kuliner, misalnya gula, garam, mentega, dan minyak. Dua kelompok ini umumnya digunakan sebagai bahan dasar memasak di rumah.

Kelompok ketiga adalah processed foods atau makanan olahan sederhana. Produk dalam kelompok ini dibuat dengan menambahkan garam, gula, atau minyak untuk memperpanjang daya simpan atau meningkatkan rasa. Contohnya antara lain ikan kalengan, keju, dan roti sederhana.

Kelompok keempat adalah ultra-processed foods, yaitu produk formulasi industri yang cenderung lebih kompleks. Makanan di kategori ini biasanya mengandung berbagai aditif yang tidak lazim digunakan dalam masakan rumah. Contohnya minuman manis kemasan, camilan tinggi gula atau garam, mi instan tertentu, dan makanan siap santap tertentu.

Mengapa sarden bukan UPF

Berdasarkan klasifikasi NOVA, sarden kalengan pada umumnya lebih dekat ke kelompok processed foods. Hal ini karena produk tersebut biasanya hanya melalui proses pengalengan dan penambahan bahan sederhana. Dengan kata lain, sarden tidak otomatis berubah menjadi UPF hanya karena dikemas dalam kaleng.

Perbedaan utama terletak pada formulasi. UPF cenderung dibuat dari campuran bahan olahan yang rumit, lalu ditambah aditif untuk menciptakan rasa, tekstur, dan tampilan tertentu. Sarden kalengan, jika komposisinya sederhana, tidak memiliki karakter tersebut.

Namun, konsumen tetap perlu waspada terhadap variasi produk di pasaran. Ada sarden kalengan yang mengandung saus, penguat rasa, atau tambahan lain dalam jumlah lebih banyak. Semakin panjang daftar bahan, semakin penting untuk memeriksa apakah produk tersebut masih berada dalam kategori makanan olahan biasa atau sudah mendekati UPF.

Penjelasan ini sekaligus menunjukkan bahwa stigma terhadap makanan kalengan tidak selalu tepat. Makanan kalengan bisa menjadi pilihan praktis selama komposisinya jelas dan tidak berlebihan dalam penggunaan aditif. Pemahaman ini membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih bijak saat berbelanja.

Cara memilih makanan kalengan

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membaca label komposisi dengan teliti. Konsumen sebaiknya memperhatikan jumlah bahan tambahan yang tercantum pada kemasan. Jika isinya sederhana, produk tersebut cenderung lebih dekat ke makanan olahan biasa.

Langkah berikutnya adalah menilai kandungan garam, gula, dan lemak pada produk. Produk kalengan tetap bisa dikonsumsi, tetapi porsinya perlu diperhatikan agar tidak berlebihan. Kebiasaan ini penting bagi masyarakat yang ingin menjaga pola makan sehat.

Selain itu, konsumen disarankan membandingkan beberapa merek sebelum membeli. Pilih produk dengan daftar bahan yang lebih singkat dan mudah dipahami. Cara ini membantu mengurangi risiko memilih makanan yang terlalu banyak diproses.

Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat tidak mudah terjebak pada asumsi bahwa semua makanan kemasan pasti buruk. Sarden kalengan, dalam banyak kasus, dapat menjadi pilihan yang praktis dan tetap sesuai dengan prinsip makanan olahan sederhana. Kuncinya adalah mengenali komposisi, memahami klasifikasi, dan mengonsumsinya secara wajar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!