Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibicarakan di media sosial, terutama saat banyak orang mulai lebih selektif memilih makanan sehari-hari. Di tengah perdebatan itu, sarden kalengan ikut menjadi sorotan setelah muncul klaim dari seorang influencer bahwa produk tersebut belum tentu termasuk UPF.
Klaim tersebut memicu rasa penasaran publik, karena selama ini makanan kalengan kerap dianggap identik dengan produk industri yang kurang sehat. Lalu, apakah sarden kalengan benar-benar masuk kategori UPF atau justru berada di kelompok lain dalam klasifikasi makanan?
Sarden Kalengan dan UPF
Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu dipahami terlebih dahulu bahwa UPF merupakan bagian dari klasifikasi NOVA. Sistem ini membagi makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya, bukan semata-mata berdasarkan status kemasan atau kalengnya.
Dalam klasifikasi tersebut, makanan yang diproses tidak selalu otomatis masuk kategori ultra-proses. Sarden kalengan, misalnya, dapat ditempatkan pada kelompok makanan olahan jika komposisinya masih sederhana dan tidak dipenuhi aditif industri.
Artinya, penilaian terhadap suatu produk harus melihat bahan yang digunakan, bukan hanya bentuk kemasannya. Karena itu, asumsi bahwa semua makanan kalengan pasti UPF tidak sepenuhnya tepat.
Perdebatan soal sarden kalengan menunjukkan bahwa literasi pangan masih perlu diperkuat di masyarakat. Pemahaman yang benar membantu konsumen menilai makanan secara lebih objektif dan tidak terjebak pada label yang menyesatkan.
Mengenal Klasifikasi NOVA
Klasifikasi NOVA dikembangkan oleh ilmuwan dari University of Sao Paulo, Brasil, untuk mengelompokkan makanan berdasarkan proses pembuatannya. Pendekatan ini banyak digunakan dalam kajian gizi karena memberikan gambaran yang lebih rinci tentang kualitas pangan.
Kelompok pertama dalam NOVA adalah unprocessed atau minimally processed foods, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok ini mencakup bahan pangan yang masih sangat dekat dengan bentuk alaminya.
Kelompok kedua adalah processed culinary ingredients, yaitu bahan seperti garam, gula, minyak, dan mentega yang biasanya dipakai untuk memasak. Bahan-bahan ini umumnya tidak dikonsumsi sendiri dalam jumlah besar, melainkan sebagai penunjang pengolahan makanan.
Kelompok ketiga adalah processed foods, yakni makanan yang dibuat dengan menambahkan garam, gula, atau minyak untuk memperpanjang daya simpan atau meningkatkan rasa. Contohnya ikan kalengan, keju, dan roti sederhana yang masih memiliki komposisi relatif mudah dikenali.
Ciri Makanan Ultra-Proses
UPF atau ultra-processed foods merupakan produk formulasi industri yang biasanya dibuat dari banyak bahan dengan teknik pemrosesan kompleks. Produk ini tidak hanya mengandalkan bahan dasar makanan, tetapi juga bahan tambahan untuk membentuk rasa, warna, dan tekstur tertentu.
Ciri utama UPF adalah keberadaan aneka aditif seperti perisa, pewarna, pemanis, emulsifier, dan pengawet. Karena itu, makanan dalam kategori ini sering kali memiliki profil rasa yang sangat kuat dan dirancang agar tahan lama di pasaran.
Contoh UPF yang umum ditemui antara lain minuman manis kemasan, snack tinggi gula atau garam, mi instan tertentu, dan makanan siap santap tertentu. Produk-produk ini biasanya diproduksi melalui proses industri berlapis dan tidak lagi menyerupai bahan aslinya.
Meski begitu, keberadaan makanan olahan tidak otomatis berarti buruk bagi kesehatan. Yang perlu diperhatikan adalah tingkat pemrosesan, kandungan gizi, serta frekuensi konsumsinya dalam pola makan harian.
Memilih Makanan Dengan Bijak
Sarden kalengan dapat menjadi pilihan praktis karena mudah disimpan dan disajikan. Namun, konsumen tetap disarankan memeriksa label komposisi, kadar garam, serta bahan tambahan yang digunakan pada produk tersebut.
Jika bahan yang tercantum masih sederhana, kemungkinan besar produk itu masuk kelompok makanan olahan, bukan UPF. Sebaliknya, bila komposisinya dipenuhi aditif dan formulasi industri yang kompleks, maka kategorinya bisa berubah.
Pemahaman seperti ini penting agar masyarakat tidak menilai makanan hanya dari kemasan atau persepsi umum di media sosial. Edukasi tentang klasifikasi pangan membantu publik membuat keputusan yang lebih cermat dan sesuai kebutuhan gizi.
Pada akhirnya, kunci utama bukan sekadar menghindari makanan kemasan, melainkan mengenali isi dan proses pembuatannya. Dengan begitu, konsumen dapat lebih bijak dalam memilih makanan yang praktis, aman, dan tetap seimbang.
