Sarden Kalengan dan Risiko Makanan Olahan

Lifestyle Anindya Kirana Putri 31 Mei 2026 12:12 WIB 3
Sarden Kalengan dan Risiko Makanan Olahan

Sarden kalengan belakangan ramai dibicarakan karena sebagian orang menilai produk itu bukan ultra processed food atau UPF. Di tengah perdebatan tersebut, praktisi kesehatan menegaskan bahwa real food tetap menjadi pilihan paling sehat untuk dikonsumsi sehari-hari.

Praktisi kesehatan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, mengatakan makanan olahan memiliki proses pembuatan yang tidak selalu diketahui konsumen. Ia menyampaikan pandangan itu dalam perbincangan dengan detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026.

Sarden Kalengan dan Kesehatan

Menurut dr Aru, makanan yang paling aman dan menyehatkan tetap berasal dari bahan segar yang minim proses pengolahan. Ia menilai, semakin sedikit campur tangan industri, semakin kecil pula potensi risiko yang tidak terlihat oleh konsumen.

Ia menjelaskan bahwa makanan olahan biasanya mengandung campuran atau tambahan bahan yang tidak selalu mudah dipastikan keamanannya. Meski ada regulasi yang mengawasi, peluang terjadinya penyimpangan tetap ada dan dapat berdampak pada kesehatan.

Karena itu, sarden kalengan dan berbagai produk serupa sebaiknya dipahami sebagai pilihan praktis, bukan patokan utama pola makan sehat. Konsumen tetap perlu menyeimbangkan konsumsi makanan kemasan dengan asupan segar yang lebih alami.

Real Food Tetap Utama

Dr Aru menegaskan bahwa real food masih menjadi standar terbaik untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Ia menilai bahan makanan utuh memberi kontrol yang lebih baik terhadap kualitas nutrisi yang masuk ke tubuh.

Berbeda dengan makanan olahan, real food umumnya tidak melewati proses panjang yang melibatkan banyak bahan tambahan. Kondisi itu membuat konsumen lebih mudah mengetahui apa yang dikonsumsi setiap hari.

Menurutnya, kebiasaan memilih bahan makanan segar dapat membantu menjaga pola makan yang lebih seimbang. Langkah sederhana ini dinilai penting untuk menekan risiko gangguan kesehatan yang muncul akibat pola konsumsi modern.

Risiko Penyakit Modern

Dr Aru menyoroti tren meningkatnya penyakit metabolik pada usia muda, termasuk hipertensi dan diabetes. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai tanda bahwa pola hidup saat ini perlu dievaluasi lebih serius.

Ia mengatakan, saat ini ada banyak orang berusia sekitar 30 tahun yang sudah mengalami gangguan metabolik. Kondisi itu menunjukkan bahwa masalah kesehatan tidak lagi hanya dialami kelompok usia lanjut.

Menurutnya, angka kesakitan pada anak muda juga cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Karena itu, pilihan makanan sehari-hari menjadi salah satu faktor yang patut mendapat perhatian lebih besar.

Praktis Tapi Tetap Waspada

Di sisi lain, dr Aru mengakui tidak semua orang mudah menjalani pola makan berbasis real food setiap hari. Kesibukan membuat banyak orang tidak sempat berbelanja dan memasak sendiri di rumah.

Situasi tersebut akhirnya mendorong masyarakat memilih makanan olahan yang lebih praktis dan cepat dikonsumsi. Menurutnya, kondisi itu memang sulit dihindari dalam ritme kehidupan modern.

Meski demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tetap waspada dan tidak menjadikan makanan olahan sebagai kebiasaan utama. Kombinasi antara kepraktisan dan kesadaran gizi dinilai penting agar kesehatan tetap terjaga.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!