Sarden Kalengan Bukan UPF, Ini Risiko yang Perlu Diperhatikan

Lifestyle Anindya Kirana Putri 29 Mei 2026 07:16 WIB 3
Sarden Kalengan Bukan UPF, Ini Risiko yang Perlu Diperhatikan

Sarden kalengan kembali menjadi sorotan setelah disebut tidak termasuk kategori ultra processed food atau UPF. Namun, label tersebut tidak otomatis membuat produk ini lebih sehat, karena penilaian pangan tidak hanya bergantung pada tingkat pemrosesan.

Sejumlah faktor lain, seperti kandungan natrium dan potensi paparan BPA, ikut menentukan apakah makanan itu aman dikonsumsi. Ahli kesehatan mengingatkan, konsumsi sarden kalengan tetap perlu dibatasi agar risiko bagi tubuh tidak meningkat.

Sarden Kalengan dan UPF

Perdebatan soal sarden kalengan muncul karena sebagian orang menganggap produk ini lebih aman setelah tidak masuk kategori UPF. Padahal, sistem klasifikasi NOVA hanya menilai tingkat pemrosesan, bukan seluruh aspek keamanan pangan.

Artinya, makanan yang bukan UPF tetap bisa memiliki risiko kesehatan tertentu. Kandungan gizi, jumlah garam, serta bahan kemasan tetap perlu menjadi perhatian utama.

Dalam konteks ini, sarden kalengan tidak bisa langsung diposisikan sebagai makanan sehat hanya karena status kategorinya. Penilaian harus melihat komposisi dan frekuensi konsumsi secara menyeluruh.

Risiko Natrium dan BPA

Salah satu sorotan utama pada sarden kalengan adalah kadar natrium yang relatif tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, asupan garam dapat berdampak pada tekanan darah dan kesehatan jantung.

Selain itu, kemasan kaleng juga dikaitkan dengan risiko paparan BPA atau Bisphenol A. Senyawa ini digunakan pada resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kaleng makanan, termasuk sarden.

Dalam kondisi tertentu, seperti pemanasan atau kerusakan lapisan, BPA dapat bermigrasi ke makanan. Jika paparan berlangsung tinggi, zat ini berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan.

Temuan Riset Terkini

Risiko migrasi BPA dari kemasan makanan telah diteliti dalam berbagai studi, termasuk riset yang dipublikasikan di Jurnal Keteknikan Pertanian pada 2023. Hasil penelitian tersebut menemukan migrasi BPA dalam kadar kecil.

Kadar yang terdeteksi masih berada di bawah Tolerable Daily Intake atau TDI sebesar 4 µg/kgBB/hari. Batas ini menunjukkan bahwa paparan yang tercatat belum melewati ambang yang diatur dalam regulasi.

Meski begitu, para ahli tetap menilai pengawasan perlu dilakukan karena paparan jangka panjang dapat menjadi perhatian. Risiko akumulasi bisa muncul bila konsumsi makanan kemasan dilakukan terus-menerus.

Dampak dan Batas Konsumsi

Dokter Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, menjelaskan bahwa paparan BPA yang terus terjadi dapat mengganggu kesehatan metabolik. Selain itu, zat tersebut juga berpotensi memengaruhi sistem hormonal tubuh.

Dalam kondisi tertentu, paparan berkepanjangan terhadap BPA bahkan dikaitkan dengan risiko penyakit yang lebih serius. Karena itu, masyarakat disarankan tidak menjadikan sarden kalengan sebagai menu utama harian.

Pilihan konsumsi yang lebih aman adalah membatasi frekuensi, memperhatikan komposisi gizi, dan memilih produk dengan kemasan yang baik. Dengan cara ini, manfaat praktis sarden kalengan tetap bisa diperoleh tanpa mengabaikan aspek kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!