Sarden Kalengan, BPA, dan Risiko Kesehatan

Lifestyle Clara Monica 29 Mei 2026 21:54 WIB 6
Sarden Kalengan, BPA, dan Risiko Kesehatan

Sarden kalengan kembali menjadi perhatian publik setelah disebut bukan termasuk ultra processed food atau UPF. Anggapan tersebut memunculkan kesan bahwa produk ini jauh lebih sehat, padahal penilaiannya tidak sesederhana itu.

Risiko kesehatan dari sarden kalengan tidak hanya ditentukan oleh tingkat pemrosesan, melainkan juga kandungan natrium dan potensi paparan BPA. Sejumlah pakar mengingatkan, label non-UPF tidak otomatis membuat produk tersebut aman dikonsumsi tanpa batas.

Sarden Kalengan dan BPA

Sarden kalengan kerap dinilai dari klasifikasi NOVA, namun pendekatan itu tidak cukup untuk menilai keamanan pangan secara menyeluruh. Faktor seperti komposisi gizi, bahan tambahan, dan cara pengemasan juga harus diperhitungkan.

Selain kandungan garam yang tinggi, sarden kalengan juga disorot karena berpotensi terpapar BPA. Senyawa ini digunakan sebagai resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kaleng makanan agar isi produk tetap terlindungi.

Dalam kondisi tertentu, seperti pemanasan atau kerusakan lapisan, BPA dapat bermigrasi ke makanan. Jika paparan ini berlangsung terus-menerus dan melebihi batas aman, risikonya terhadap kesehatan perlu diwaspadai.

Temuan Riset Tentang BPA

Sejumlah penelitian telah meneliti migrasi BPA dari kemasan makanan kaleng, termasuk pada produk ikan dalam kaleng. Salah satunya dimuat dalam Jurnal Keteknikan Pertanian tahun 2023.

Hasil riset tersebut menunjukkan migrasi BPA memang ditemukan, tetapi masih dalam kadar kecil. Angkanya berada di bawah Tolerable Daily Intake atau TDI sebesar 4 μg/kgBB/hari.

Meski demikian, temuan di bawah ambang regulasi tidak sepenuhnya menutup kekhawatiran publik. Paparan kecil yang terjadi berulang dalam jangka panjang tetap dinilai perlu diperhatikan.

Dampak Kesehatan Yang Diwaspadai

Praktisi kesehatan dr Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, menjelaskan bahwa paparan BPA yang terus-menerus dapat berdampak pada kesehatan. Menurutnya, gangguan metabolik menjadi salah satu efek yang patut diwaspadai.

Ia juga menyoroti kemungkinan terganggunya sistem hormonal akibat akumulasi paparan dalam jangka panjang. Dalam kondisi tertentu, risiko tersebut dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.

Selain gangguan metabolik dan hormonal, paparan BPA juga dikaitkan dengan potensi peningkatan risiko kanker. Karena itu, masyarakat disarankan tidak hanya melihat label produk, tetapi juga memahami faktor risiko yang menyertainya.

Cara Bijak Konsumsi Sarden

Sarden kalengan tetap bisa dikonsumsi, tetapi porsinya perlu dijaga agar tidak berlebihan. Konsumen juga disarankan memperhatikan kandungan natrium yang umumnya cukup tinggi pada produk olahan ini.

Memilih produk dengan informasi gizi yang jelas, serta tidak sering memanaskan makanan dalam kaleng, dapat membantu mengurangi risiko paparan. Langkah sederhana ini penting untuk menjaga kualitas konsumsi harian.

Dengan memahami risiko dari natrium dan BPA, masyarakat dapat lebih bijak dalam memilih makanan kemasan. Label non-UPF sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya ukuran aman atau tidaknya sebuah produk.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!