Sarden Kalengan, Benarkah Termasuk UPF?

Lifestyle Clara Monica 24 Mei 2026 22:26 WIB 6
Sarden Kalengan, Benarkah Termasuk UPF?

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial, seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kualitas makanan sehari-hari. Di tengah perdebatan itu, sarden kalengan ikut menjadi sorotan setelah muncul klaim bahwa makanan tersebut belum tentu masuk kategori UPF.

Perbincangan tersebut memicu banyak pertanyaan, sebab selama ini makanan kalengan kerap diasosiasikan dengan produk industri yang dianggap kurang sehat. Lantas, apakah sarden kalengan benar-benar termasuk UPF, atau justru masuk kelompok lain dalam klasifikasi pangan?

Sarden Kalengan dan UPF

Sarden kalengan tidak otomatis termasuk UPF, karena penentu utamanya adalah komposisi dan tingkat pemrosesan produk. Dalam banyak kasus, sarden kalengan justru masuk kategori makanan olahan, bukan makanan ultra-olahan.

Perbedaan ini penting dipahami agar masyarakat tidak menyamaratakan semua makanan kemasan sebagai produk yang sama. Proses pengalengan sendiri bertujuan memperpanjang daya simpan dan menjaga mutu ikan, bukan selalu menciptakan formulasi industri yang kompleks.

Jika produk hanya berisi ikan sarden, garam, minyak, dan bahan pengawet yang umum digunakan, maka posisinya cenderung lebih dekat ke processed food. Namun, bila ditambah banyak bahan tambahan seperti perisa, pengemulsi, pewarna, atau pemanis, kategorinya bisa bergeser menjadi UPF.

Karena itu, label pada kemasan menjadi acuan penting untuk menilai posisi produk dalam klasifikasi pangan. Konsumen perlu membaca daftar bahan, bukan hanya menilai makanan dari bentuk kemasannya saja.

Klasifikasi NOVA Makanan

UPF merupakan istilah yang berasal dari klasifikasi NOVA, sebuah sistem pengelompokan makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya. Sistem ini dikembangkan oleh para ilmuwan dari University of Sao Paulo di Brazil.

Dalam klasifikasi NOVA, makanan dibagi menjadi empat kelompok utama dengan karakteristik yang berbeda. Pembagian ini membantu membedakan bahan pangan segar, olahan sederhana, makanan olahan, dan produk ultra-olahan.

Kelompok pertama adalah unprocessed or minimally processed foods, seperti buah, sayur, telur, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok kedua adalah processed culinary ingredients, seperti garam, gula, mentega, dan minyak yang dipakai untuk memasak.

Kelompok ketiga mencakup processed foods yang dibuat dengan penambahan garam, gula, atau minyak untuk memperpanjang daya simpan. Sementara itu, kelompok keempat adalah UPF yang umumnya berisi banyak bahan tambahan industri dan formulasi yang lebih kompleks.

Ciri Makanan Ultraolahan

Makanan ultraolahan biasanya dirancang agar praktis, tahan lama, dan memiliki rasa yang sangat kuat. Produk seperti ini sering dibuat melalui serangkaian proses industri yang jauh lebih rumit daripada sekadar pengalengan atau pengeringan.

Ciri lainnya adalah penggunaan banyak bahan tambahan, mulai dari perisa, pewarna, pemanis, hingga emulsifier. Pada sejumlah produk, tambahan tersebut digunakan untuk meniru rasa, tekstur, dan tampilan makanan segar.

Minuman manis kemasan, snack tinggi gula atau garam, mi instan tertentu, serta makanan siap santap tertentu sering disebut sebagai contoh UPF. Produk-produk itu umumnya tidak lagi menyerupai bahan pangan aslinya secara utuh.

Karena itu, tidak semua makanan kemasan dapat langsung ditempatkan dalam kategori yang sama. Makanan kalengan, termasuk sarden, tetap harus dilihat dari formulasi dan tujuan pemrosesannya sebelum dinilai sebagai UPF atau bukan.

Memilih Sarden Lebih Cermat

Konsumen dapat memilih sarden kalengan dengan lebih cermat dengan memperhatikan daftar komposisi pada label. Produk dengan bahan yang lebih sederhana umumnya lebih mudah dipahami kandungan dan tingkat pemrosesannya.

Langkah berikutnya adalah membandingkan kadar garam, gula, dan minyak pada beberapa merek sebelum membeli. Informasi gizi dapat membantu menilai apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhan harian.

Jika memungkinkan, pilih produk yang mencantumkan bahan lebih ringkas dan tanpa banyak aditif yang tidak diperlukan. Kebiasaan membaca label dapat menjadi cara sederhana untuk mengurangi konsumsi makanan ultraolahan.

Di tengah ramainya diskusi soal UPF, sarden kalengan menjadi pengingat bahwa kemasan tidak selalu menentukan kualitas pangan. Pemahaman terhadap klasifikasi NOVA, serta isi produk di dalam kemasan, jauh lebih penting untuk membuat pilihan yang lebih bijak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!