Sampah Jadi Produk Ekspor, Robries Tembus Pasar Global

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 27 Mei 2026 06:02 WIB 3
Sampah Jadi Produk Ekspor, Robries Tembus Pasar Global

Di tangan pelaku usaha kreatif, sampah dapat berubah dari masalah lingkungan menjadi sumber ekonomi baru. Hal itu dibuktikan oleh Robries dan Lumosh, dua UMKM yang mengolah limbah menjadi produk bernilai jual tinggi. Lewat inovasi desain dan pendampingan ekspor, keduanya berhasil menembus pasar luar negeri. Langkah ini menunjukkan bahwa bisnis berbasis daur ulang punya peluang besar di pasar global.

CEO dan Founder Robries, Syukriyatun Niamah, bersama Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, menceritakan pengalaman mereka dalam mengembangkan produk dari bahan baku tak biasa. Robries memanfaatkan sampah tutup botol plastik menjadi furnitur, sementara Lumosh mengolah limbah keramik menjadi peralatan rumah tangga artistik. Keduanya tampil dalam ajang Trade Expo Indonesia 2025 dan mendapat dukungan dari Indonesia Design Development Center, Kementerian Perdagangan. Pendampingan tersebut dinilai penting untuk memperkuat kualitas produk dan membuka akses pasar ekspor.

Sampah Jadi Produk Bernilai

Robries berdiri pada 2018 dengan visi mengubah sampah botol plastik menjadi furnitur yang menarik. Syukriyatun mengatakan, ide itu lahir dari keinginan menjaga lingkungan sekaligus menciptakan produk bernilai jual. Produk yang dihasilkan tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki tampilan yang sesuai dengan selera pasar modern. Karena itu, sampah yang semula dianggap tidak berguna justru menjadi bahan baku utama bisnis mereka.

Menurut Syukriyatun, proses produksi dilakukan dengan memperhatikan kualitas dan estetika. Bahan baku yang digunakan berasal dari tutup botol plastik yang dikumpulkan secara konsisten. Produk yang dihasilkan kemudian diolah agar memiliki daya tarik visual dan daya tahan yang baik. Pendekatan ini membuat Robries memiliki posisi unik di tengah pasar produk furnitur kreatif.

Meski demikian, pengolahan sampah menjadi produk bernilai tidak berjalan tanpa tantangan. Salah satu kendala utama adalah memastikan pasokan sampah tetap tersedia secara berkelanjutan. Di sisi lain, tim juga harus menjaga standar kualitas agar produk tetap kompetitif. Kondisi itu membuat pengelolaan rantai pasok menjadi bagian penting dalam bisnis daur ulang.

Syukriyatun menilai, produk berbahan dasar sampah masih membutuhkan edukasi pasar yang lebih luas. Banyak calon pembeli yang belum memahami nilai dari produk daur ulang. Karena itu, promosi tidak hanya menonjolkan desain, tetapi juga pesan keberlanjutan. Strategi tersebut membantu Robries memperkenalkan produk mereka sebagai bagian dari gaya hidup ramah lingkungan.

Pasar Ekspor Menyambut Inovasi

Sejak 2018, Robries telah memproduksi sekitar 25 ribu produk berbahan dasar sampah. Total limbah yang berhasil diolah mencapai 145 ton, angka yang menunjukkan skala bisnis mereka terus berkembang. Produk tersebut tidak hanya beredar di pasar lokal, tetapi juga sudah merambah pasar global. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa produk daur ulang memiliki potensi ekonomi yang besar.

Pasar ekspor yang berhasil ditembus Robries meliputi Singapura, Malaysia, dan Uni Eropa. Perusahaan juga memiliki distributor resmi di Singapura dan Malaysia. Untuk Uni Eropa, proses penguatan pasar masih terus berjalan. Ekspansi ini memperlihatkan bahwa produk ramah lingkungan semakin mendapat tempat di pasar internasional.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari upaya menjaga kualitas dan konsistensi pasokan bahan baku. Robries terus mencari sumber sampah yang sesuai dengan kebutuhan produksi. Mereka juga memastikan desain produk tetap relevan dengan permintaan pasar. Kombinasi itu menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan pembeli luar negeri.

Syukriyatun menyebut, pengakuan pasar ekspor memberi dampak besar bagi keberlanjutan usaha. Produk yang semula dipandang sebagai hasil olahan limbah kini memiliki nilai tambah tinggi. Kondisi ini membuka peluang bagi pelaku UMKM lain untuk mengikuti jejak serupa. Dengan inovasi yang tepat, sampah dapat menjadi komoditas bisnis yang kompetitif.

IDDC Perkuat UMKM Kreatif

Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag melalui Indonesia Design Development Center terus mendorong UMKM agar mampu bersaing di pasar global. Salah satu caranya adalah memberikan fasilitas bagi pelaku usaha yang telah lolos kurasi untuk tampil di TEI 2025. Ajang ini menjadi ruang pertemuan antara pelaku usaha lokal dan para pembeli dari berbagai negara. Kehadiran IDDC dinilai penting dalam menjembatani produk kreatif menuju pasar ekspor.

TEI 2025 sendiri diikuti setidaknya 8.045 pembeli dari 130 negara. Skala tersebut menunjukkan besarnya peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha Indonesia. Bagi UMKM, forum ini bukan hanya tempat memamerkan produk, tetapi juga sarana membangun jejaring bisnis. Melalui event itu, pelaku usaha dapat memahami kebutuhan pasar internasional secara langsung.

Syukriyatun mengaku mendapat banyak manfaat dari pendampingan IDDC. Menurutnya, bimbingan mengenai kemasan, desain, dan presentasi produk sangat membantu dalam menarik minat calon pembeli. Ia menilai pendampingan tersebut membuat produknya lebih siap masuk pasar ekspor. Dukungan itu juga memperkuat kepercayaan diri tim dalam bersaing di tingkat internasional.

Ia menyebut pencapaian penghargaan desain yang diraih tahun ini tidak terlepas dari proses pembinaan yang panjang. Setelah empat tahun mengajukan Good Design Award, Robries akhirnya meraih Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan. Capaian itu menjadi tonggak penting bagi penetrasi pasar, terutama di sektor ekspor. Dengan dukungan yang tepat, produk berbasis daur ulang bisa memperoleh pengakuan global.

Limbah Keramik Jadi Daya Tarik

Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, juga merasakan manfaat pendampingan IDDC dalam mengembangkan bisnisnya. Lumosh mengolah limbah keramik menjadi piring, gelas, dan berbagai perabot rumah tangga. Produk tersebut dibuat dengan desain artistik agar memiliki nilai estetika yang tinggi. Langkah ini menunjukkan bahwa limbah keras sekalipun dapat diubah menjadi produk bernilai komersial.

Raymond mengakui, riset mengenai daur ulang keramik tidak mudah dilakukan karena referensinya masih terbatas. Kondisi itu membuat tim membutuhkan banyak dukungan untuk memperkuat dasar pengembangan produk. IDDC kemudian membantu memberikan riset dan masukan yang relevan. Bantuan tersebut memudahkan Lumosh dalam menyusun produk yang lebih representatif di mata pasar.

Selain riset, IDDC juga membantu Lumosh dari sisi desain dan strategi pasar. Menurut Raymond, produk daur ulang harus tampil jelas sebagai barang recycle agar mudah dipahami pembeli. Pendekatan desain yang tepat membuat produk lebih menonjol tanpa menghilangkan identitas bahan bakunya. Dengan cara itu, nilai keberlanjutan dapat tersampaikan sekaligus meningkatkan daya tarik produk.

Raymond menilai IDDC juga berperan sebagai tempat konsultasi untuk memahami pasar global. Beragam masukan yang diberikan membantu Lumosh menentukan pasar mana yang paling potensial dimasuki. Dukungan ini penting karena ekspor membutuhkan kesiapan desain, produksi, dan pemasaran yang matang. Bagi pelaku UMKM kreatif, pendampingan seperti ini menjadi pintu penting untuk naik kelas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!