Sampah Disulap Jadi Produk Bernilai Tinggi

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 31 Mei 2026 11:43 WIB 3
Sampah Disulap Jadi Produk Bernilai Tinggi

Bagi sebagian orang, sampah masih dipandang sebagai barang tak bernilai dan kerap menjadi sumber masalah. Namun, di tangan pelaku usaha kreatif, limbah justru bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi dan dilirik pasar luar negeri.

Gagasan itu dijalankan Robries dan Lumosh melalui produk berbahan baku sampah botol plastik serta limbah keramik. Keduanya memanfaatkan dukungan Indonesia Design Development Center, Kemendag, untuk memperkuat desain, kualitas, dan akses ke pasar ekspor.

Produk Daur Ulang Bernilai

CEO dan Founder Robries, Syukriyatun Niamah, menjelaskan usahanya dibangun pada 2018 dengan fokus mengolah sampah botol plastik. Bahan tersebut diubah menjadi furnitur dengan tampilan menarik. Langkah itu ditempuh sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan.

Menurut Syukriyatun, Robries sejak awal ingin membuktikan bahwa limbah dapat memiliki nilai ekonomi. Produk yang dihasilkan tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki unsur estetika. Konsep itu menjadi pembeda di tengah pasar furnitur yang kompetitif.

Pada saat yang sama, Lumosh yang didirikan Co Founder Raymond Tjiadi mengembangkan produk berbahan dasar limbah keramik. Material itu diolah menjadi piring, gelas, dan perabot rumah tangga lain dengan desain artistik. Pendekatan tersebut menonjolkan sisi kreatif dari proses daur ulang.

Kedua pelaku usaha ini menunjukkan bahwa sampah tidak selalu identik dengan masalah. Dengan proses pengolahan yang tepat, limbah dapat menjadi produk yang layak jual. Bahkan, produk tersebut berpeluang masuk ke pasar yang lebih luas.

Tantangan Pasar Daur Ulang

Syukriyatun menyebut pemasaran produk daur ulang bukan perkara mudah. Salah satu hambatannya adalah edukasi pasar yang masih terbatas. Masyarakat belum sepenuhnya akrab dengan material yang berasal dari sampah olahan.

Ia menilai produk berbahan baku sampah botol plastik masih tergolong unik. Karena itu, konsumen perlu memahami nilai fungsi, desain, dan dampak lingkungannya. Edukasi menjadi kunci agar pasar lebih terbuka.

Tantangan berikutnya adalah menjaga ketersediaan bahan baku secara konsisten. Robries membutuhkan suplai tutup botol plastik yang stabil untuk mendukung produksi. Kondisi itu menjadi penting agar kualitas produk tetap terjaga.

Syukriyatun menegaskan bahwa pasokan sampah yang tidak konsisten dapat memengaruhi proses produksi. Meski demikian, pihaknya terus mencari suplai yang sesuai dengan kebutuhan bahan baku. Upaya itu dilakukan agar standar produk tidak menurun.

Peran IDDC Untuk UMKM

Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag melalui Indonesia Design Development Center terus mendorong UMKM menembus pasar global. IDDC memberi fasilitasi bagi pelaku usaha yang lolos kurasi untuk tampil di Trade Expo Indonesia 2025. Ajang ini menjadi pintu pertemuan dengan pembeli mancanegara.

TEI 2025 tercatat diikuti setidaknya 8.045 buyers dari 130 negara. Skala tersebut membuat pameran ini menjadi ruang strategis bagi produk lokal untuk dikenal lebih luas. Kehadiran pembeli global juga membuka peluang transaksi ekspor yang lebih besar.

Syukriyatun mengakui pendampingan IDDC sangat membantu proses pengembangan produknya. Ia mendapatkan bimbingan soal pengemasan produk agar lebih menarik bagi calon pembeli. Dukungan itu juga membantu peningkatan kesiapan menuju pasar internasional.

Menurutnya, IDDC memberikan arah yang jelas dalam membangun citra produk. Pendampingan tersebut tidak hanya menyentuh aspek desain, tetapi juga strategi pemasaran. Hal ini membuat pelaku UMKM lebih percaya diri menghadapi pasar ekspor.

Langkah Menuju Pasar Global

Robries menyebut telah menghasilkan sekitar 25 ribu produk sejak 2018. Dalam periode yang sama, sekitar 145 ton sampah berhasil diolah menjadi produk bernilai tambah. Capaian itu memperlihatkan skala dampak ekonomi dan lingkungan yang cukup besar.

Produk Robries kini telah menembus pasar Singapura, Malaysia, dan Uni Eropa. Perusahaan juga memiliki distributor resmi di Singapura dan Malaysia. Ekspansi ke pasar Eropa tengah dipersiapkan untuk memperluas jangkauan penjualan.

Syukriyatun menyampaikan bahwa penghargaan Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan menjadi pencapaian penting. Pengakuan itu didapat setelah empat tahun mengikuti proses pengajuan dan pendampingan. Prestasi tersebut memperkuat posisi produk di pasar ekspor.

Sementara itu, Lumosh menilai IDDC sangat membantu dalam memahami pasar global. Pihaknya mendapat masukan mengenai negara mana yang berpotensi dimasuki. Dukungan riset dan desain membuat produk limbah keramik lebih siap bersaing di tingkat internasional.

Raymond menuturkan bahwa knowledge tentang daur ulang keramik masih sangat terbatas. Karena itu, bantuan riset dari IDDC menjadi nilai penting dalam pengembangan produk. Dengan strategi yang tepat, limbah dapat berubah menjadi komoditas kreatif yang diminati pasar dunia.

Bagi Robries dan Lumosh, perjalanan menuju pasar global tidak hanya soal penjualan. Proses itu juga menunjukkan bahwa inovasi, desain, dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan. Dari sampah, lahir produk yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing tinggi.

Keberhasilan tersebut memberi gambaran bahwa UMKM kreatif memiliki peluang besar di pasar ekspor. Dengan dukungan kelembagaan, akses riset, dan penguatan desain, produk daur ulang dapat naik kelas. Tren ini sekaligus mempertegas potensi ekonomi hijau di Indonesia.

Dalam konteks yang lebih luas, kisah kedua pelaku usaha ini menjadi bukti bahwa isu lingkungan dapat diolah menjadi peluang bisnis. Ketika sampah diperlakukan sebagai bahan baku, lahirlah solusi yang menguntungkan banyak pihak. Model usaha seperti ini berpotensi terus berkembang di masa mendatang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!