Bagi banyak orang, sampah identik dengan barang tidak bernilai dan kerap dianggap sebagai sumber masalah. Namun, di tangan pelaku usaha kreatif, limbah justru bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi dan diminati pasar luar negeri.
Hal itu dibuktikan oleh Robries dan Lumosh, dua UMKM yang mengubah sampah botol plastik serta limbah keramik menjadi produk desain fungsional. Dengan dukungan Indonesia Design Development Center, keduanya kini menembus pasar global sambil menjaga kualitas dan kesinambungan bahan baku.
Sampah Jadi Produk Bernilai
CEO dan Founder Robries, Syukriyatun Niamah, menjelaskan usahanya dibangun pada 2018 dengan fokus mengolah sampah botol plastik. Bahan tersebut disulap menjadi furniture dengan tampilan menarik dan nilai jual tinggi. Langkah ini juga diambil sebagai bentuk kontribusi terhadap pelestarian lingkungan.
Menurut Syukriyatun, produk berbahan dasar sampah masih tergolong unik di mata masyarakat. Kondisi itu membuat edukasi pasar menjadi tantangan penting yang tidak bisa diabaikan. Karena itu, promosi harus dilakukan secara konsisten agar konsumen memahami manfaat produknya.
Ia menegaskan bahwa produk daur ulang bukan sekadar barang alternatif, melainkan hasil inovasi yang memiliki standar desain. Di ajang Trade Expo Indonesia 2025, Robries tampil di booth Indonesia Design Development Center Kementerian Perdagangan. Kehadiran itu menjadi salah satu sarana untuk memperluas jangkauan pasar.
Selain menonjolkan unsur ramah lingkungan, Robries juga mengedepankan estetika agar produknya kompetitif. Strategi tersebut membuat produk tidak hanya relevan di pasar lokal, tetapi juga lebih siap bersaing di pasar ekspor. Dengan pendekatan itu, limbah plastik memperoleh nilai ekonomi baru.
Tantangan Pasokan Bahan Baku
Di balik pertumbuhan usaha daur ulang, pasokan bahan baku menjadi persoalan yang terus dihadapi Robries. Sampah tutup botol plastik tidak selalu tersedia dalam jumlah yang sama dari waktu ke waktu. Kondisi tersebut menuntut pelaku usaha untuk terus mencari sumber pasokan yang stabil.
Syukriyatun mengatakan konsistensi pasokan sangat penting agar kualitas produk tetap terjaga. Jika bahan baku berubah-ubah, hasil produksi juga berisiko tidak seragam. Karena itu, pengelolaan rantai pasok menjadi bagian penting dari strategi bisnis mereka.
Selain pasokan, edukasi konsumen juga menjadi tantangan yang tidak kalah besar. Banyak calon pembeli belum memahami bahwa produk dari limbah bisa memiliki kualitas tinggi dan daya tahan baik. Situasi ini membuat pelaku usaha perlu menjelaskan proses produksi secara lebih terbuka.
Meski begitu, Robries tetap berupaya mencari bahan baku sesuai kebutuhan desain dan standar produksi. Upaya ini dilakukan agar produk yang dihasilkan tetap konsisten dan layak masuk pasar yang lebih luas. Dengan pengelolaan yang tepat, tantangan bahan baku bisa diubah menjadi peluang.
IDDC Dorong Ekspor UMKM
Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag melalui Indonesia Design Development Center terus mendorong UMKM menembus pasar global. Salah satu perannya adalah memberikan fasilitasi kepada pelaku usaha yang telah lolos kurasi untuk mengikuti TEI 2025. Langkah ini membuka akses lebih luas ke pembeli internasional.
Trade Expo Indonesia 2025 menjadi ajang berskala internasional yang dihadiri 8.045 buyers dari 130 negara. Kehadiran ribuan pembeli tersebut memberi peluang besar bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk mereka. Bagi UMKM, forum ini menjadi pintu masuk penting menuju pasar ekspor.
Syukriyatun mengakui pendampingan IDDC membantu dirinya memahami cara mengemas produk agar lebih menarik di mata pembeli luar negeri. Pendampingan itu mencakup arahan desain, presentasi produk, hingga kesiapan mengikuti penilaian pasar global. Dukungan tersebut membuat proses ekspansi menjadi lebih terarah.
Ia juga menyebut pendampingan yang berkelanjutan memberi dampak besar terhadap pencapaian bisnisnya. Setelah empat tahun mengajukan Good Design Award, Robries akhirnya meraih Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan. Pengakuan itu memperkuat posisi produk mereka di pasar ekspor.
Keramik Daur Ulang Menembus Pasar
Selain Robries, Lumosh juga menunjukkan bahwa limbah dapat menjadi produk yang bernilai artistik dan komersial. Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, mengolah limbah keramik menjadi piring, gelas, dan berbagai perabot rumah tangga. Seluruh produk dirancang dengan sentuhan artistik agar terlihat modern dan representatif.
Raymond menuturkan, pengolahan limbah keramik tidak memiliki banyak referensi karena bidang ini masih jarang digarap. Kondisi itu membuat pencarian pengetahuan dan riset menjadi lebih sulit dibandingkan dengan material daur ulang lain. Meski demikian, tantangan tersebut justru mendorong timnya untuk berinovasi.
Dalam proses pengembangan, IDDC turut membantu Lumosh melalui riset dan masukan desain. Pendampingan itu membuat produk daur ulang mereka lebih mudah dikenali sebagai hasil olahan limbah keramik. Dengan tampilan yang lebih jelas, produk menjadi lebih siap dipasarkan.
Raymond menambahkan, IDDC juga menjadi wadah konsultasi untuk memahami pasar global yang potensial. Masukan yang diberikan membantu Lumosh menentukan segmen pembeli yang tepat. Dukungan seperti ini dinilai penting agar UMKM bisa tumbuh lebih cepat dan berdaya saing.
