Samanta Elsener Cerita Perjalanan Menjadi Mualaf

Lifestyle Anindya Kirana Putri 25 Mei 2026 08:35 WIB 4
Samanta Elsener Cerita Perjalanan Menjadi Mualaf

Samanta Elsener, adik pembawa acara Darius Sinathrya, mengungkap alasan personal di balik keputusannya menjadi mualaf. Psikolog dan penulis itu menuturkan, pilihannya lahir dari perjalanan batin panjang, bukan dorongan sesaat. Kisah tersebut ia sampaikan saat berbincang dengan Melaney Ricardo di kanal YouTube.

Dalam pengakuannya, Samanta menyebut pencarian itu berawal dari duka kehilangan ibu di usia balita. Ia kemudian menelusuri berbagai ajaran agama, sebelum akhirnya merasa tenang dan mantap memilih Islam. Perjalanan tersebut ia lihat sebagai proses penyembuhan diri yang membantunya berdamai dengan masa lalu.

Perjalanan Mualaf Samanta

Samanta mengaku keputusan memeluk Islam tidak datang dalam satu malam. Ia melewati fase pencarian yang panjang dan cukup intens. Semua itu berangkat dari kebutuhan akan ketenangan batin.

Di tengah proses tersebut, ia mulai memperhatikan rutinitas harian yang tampak sederhana. Setiap berangkat ke kampus, ia melewati sebuah masjid yang menghadirkan rasa damai. Sensasi itu, menurutnya, sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Yang paling membekas bagi Samanta adalah ketenangan yang muncul saat melihat gerakan salat. Ia merasakan ada energi positif yang menenangkan pikirannya. Pada saat itu, ia belum menjadi mualaf.

Dari pengalaman kecil itu, rasa ingin tahunya terhadap Islam semakin besar. Samanta kemudian mulai menelusuri makna yang lebih dalam dari ibadah dan kehidupan spiritual. Proses tersebut menjadi pintu awal perjalanannya menuju keyakinan baru.

Riset Agama dan Ketenangan

Samanta tidak langsung mengambil keputusan tanpa pertimbangan. Ia sempat mempelajari sejumlah agama untuk menemukan jawaban atas kegelisahan yang ia rasakan. Pendekatan itu ia jalani dengan pikiran terbuka.

Dalam pencarian itu, ia membandingkan nilai-nilai yang ia temui dari satu ajaran ke ajaran lain. Ia ingin mengetahui mana yang paling sesuai dengan kebutuhan jiwanya. Hasilnya, Islam justru memberi rasa damai yang paling kuat.

Ia juga menilai pandangan negatif tentang Islam yang pernah ia dengar tidak sesuai dengan kenyataan. Pengalaman berinteraksi dengan teman-teman Muslim membuatnya melihat sisi yang lebih hangat dan menenangkan. Dari situ, persepsinya mulai berubah.

Samanta menyebut bahwa kedamaian batin menjadi alasan utama yang menuntunnya. Ia merasa Islam mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mengganggu pikirannya. Karena itu, keyakinannya tumbuh secara perlahan namun pasti.

Keluarga dan Dukungan

Meski berpindah keyakinan, Samanta tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga. Ia menegaskan bahwa pilihannya tidak membuat ikatan dengan orang-orang terdekat menjadi renggang. Sebaliknya, keluarganya justru menunjukkan sikap saling menghormati.

Ayah Samanta memiliki latar belakang yang juga menarik dalam perjalanan keyakinan keluarga. Sang ayah pernah berpindah dari Islam ke Katolik demi pernikahan, sehingga pemahaman tentang perbedaan agama sudah ada sejak lama. Kondisi itu membuat suasana keluarga relatif terbuka.

Dukungan juga datang dari Darius Sinathrya dan Donna Agnesia. Keduanya disebut memberi ruang aman bagi Samanta untuk menjalani pilihannya. Sikap tersebut memperkuat kepercayaan dirinya dalam melangkah.

Menurut Samanta, dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam proses hidupnya. Ia tidak merasa sendirian saat menghadapi perubahan besar tersebut. Situasi itu membuatnya lebih tenang dalam menata ulang kehidupan spiritualnya.

Islam sebagai Proses Healing

Bagi Samanta, menjadi mualaf bukan bentuk pemberontakan terhadap masa lalu. Ia memandang keputusan itu sebagai cara untuk menyembuhkan luka batin. Perspektif tersebut membuat perjalanannya terasa lebih manusiawi.

Ia mengaitkan pencarian spiritualnya dengan proses healing yang ia butuhkan sejak kecil. Kehilangan ibu di usia sangat muda menyisakan ruang kosong yang lama ia bawa. Islam hadir sebagai jawaban yang memberinya ketenteraman.

Samanta kini merasa lebih damai setelah menjalani pilihan hidupnya. Ia juga mengaku lebih mampu berdamai dengan pengalaman pahit yang pernah ia lalui. Ketenangan itu menjadi hasil paling berharga dari perjalanan spiritualnya.

Kisah Samanta memperlihatkan bahwa pencarian iman bisa berlangsung sangat personal dan penuh pertimbangan. Ia menemukan makna melalui pengalaman, pengamatan, dan refleksi yang jujur. Dari sana, Islam menjadi jalan yang ia anggap paling selaras dengan jiwanya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!