Rupiah Tertekan ke Rp 17.949, Ini Pemicunya

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 02 Juni 2026 06:03 WIB 7
Rupiah Tertekan ke Rp 17.949, Ini Pemicunya

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada Kamis, 28 Mei 2026, ketika dolar AS sempat menyentuh level Rp 17.949 menurut data Investing. Pergerakan harian mata uang Negeri Paman Sam itu berada dalam rentang Rp 17.772 hingga Rp 17.995, menandakan volatilitas pasar yang masih tinggi.

Di data Google Finance, dolar AS juga sempat tercatat di level Rp 17.904 pada pukul 04.00 UTC, sebelum bergerak ke Rp 17.850 atau menguat 0,37 persen. Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang mendorong investor mencari aset aman.

Tekanan Rupiah Meningkat

Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah muncul dari faktor eksternal dan internal yang terjadi pada waktu bersamaan. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di aset berisiko. Akibatnya, dolar AS kembali diburu sebagai instrumen safe haven. Situasi ini menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Menurutnya, pasar global masih dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas menambah kekhawatiran akan stabilitas kawasan. Risiko gangguan distribusi energi global ikut meningkat, terutama di jalur perdagangan minyak Selat Hormuz. Hal itu membuat sentimen pasar terhadap aset berisiko semakin tertekan.

Ketidakpastian geopolitik biasanya mendorong investor mengurangi eksposur pada aset yang sensitif terhadap risiko. Mereka cenderung memindahkan dana ke dolar AS, obligasi pemerintah Amerika Serikat, atau emas. Pola tersebut memperkuat permintaan terhadap dolar di pasar internasional. Pada saat yang sama, tekanan terhadap rupiah ikut bertambah.

Ibrahim menilai kombinasi faktor global itu membuat ruang penguatan rupiah menjadi lebih sempit. Pasar menunggu arah yang lebih jelas dari perkembangan konflik dan respons kebijakan moneter global. Selama ketidakpastian masih tinggi, tekanan pada mata uang emerging market berpotensi berlanjut. Dalam kondisi seperti ini, volatilitas rupiah diperkirakan tetap tinggi.

The Fed Masih Jadi Sorotan

Selain geopolitik, ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve juga menjadi perhatian utama pasar. Ibrahim menyebut, pasar menilai The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Sikap itu dipandang negatif bagi mata uang emerging market. Imbal hasil dolar yang masih menarik membuat arus dana global cenderung bertahan di Amerika Serikat.

Jika suku bunga tinggi bertahan lebih lama, biaya pendanaan global juga akan tetap mahal. Kondisi tersebut menahan minat investor untuk masuk ke pasar berkembang. Selain itu, kekuatan dolar biasanya ikut terjaga ketika pasar memperkirakan kebijakan ketat masih berlanjut. Rupiah pun berada dalam posisi yang kurang menguntungkan.

Ibrahim mengatakan tingginya harga energi dapat memicu inflasi global yang lebih persisten. Tekanan inflasi itu berpotensi mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed. Dengan demikian, pasar tidak melihat adanya peluang besar untuk penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Sentimen ini ikut menekan mata uang kawasan Asia.

Arus modal asing yang keluar dari pasar negara berkembang menjadi salah satu konsekuensi yang paling dirasakan. Indonesia tidak luput dari dampak pergeseran dana tersebut. Ketika investor memilih bertahan di aset dolar, tekanan terhadap rupiah cenderung meningkat. Situasi ini menegaskan kuatnya pengaruh kebijakan The Fed terhadap pasar valas domestik.

Faktor Domestik Memperberat

Dari sisi dalam negeri, kebutuhan dolar AS untuk impor minyak menjadi salah satu pemicu pelemahan rupiah. Permintaan dolar juga meningkat untuk pembayaran dividen serta kewajiban utang yang jatuh tempo. Kondisi ini menciptakan tekanan tambahan di pasar valas domestik. Saat permintaan naik, rupiah cenderung bergerak melemah.

Ibrahim juga menyoroti perhatian pelaku pasar terhadap kondisi fiskal domestik. Selain itu, efektivitas sejumlah program pemerintah ikut dicermati karena dinilai dapat memengaruhi persepsi investor. Kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional sangat bergantung pada konsistensi kebijakan. Bila persepsi melemah, rupiah berisiko mendapat tekanan lanjutan.

Permintaan dolar yang tinggi di dalam negeri biasanya muncul saat kebutuhan pembayaran luar negeri meningkat. Hal itu dapat terjadi pada periode impor energi dan kewajiban korporasi yang besar. Dalam situasi seperti ini, pasokan dolar menjadi faktor penting bagi kestabilan nilai tukar. Tanpa dukungan yang memadai, tekanan pada rupiah sulit diredam.

Kombinasi faktor fiskal, kebutuhan dolar, dan persepsi investor membuat pasar bergerak lebih sensitif. Setiap perkembangan kebijakan ekonomi dapat langsung memengaruhi sentimen terhadap rupiah. Karena itu, pelaku pasar cenderung mencermati data dan pernyataan resmi pemerintah. Sikap hati-hati ini menandakan kondisi pasar masih rapuh.

BI Tetap Menahan Tekanan

Ibrahim menilai ruang stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia semakin terbatas karena tekanan datang dari dua arah sekaligus. Meski demikian, bank sentral dinilai tetap menjalankan intervensi di pasar valas secara aktif. Langkah itu bertujuan meredam gejolak agar pergerakan rupiah tidak terlalu liar. Namun, hasilnya belum cukup untuk membalik arah tekanan pasar.

Ia mengatakan BI sudah melakukan intervensi semaksimal mungkin. Akan tetapi, tekanan pasar dinilai masih cukup besar sehingga intervensi tidak selalu langsung terlihat hasilnya. Dalam kondisi seperti ini, stabilisasi rupiah membutuhkan dukungan sentimen eksternal yang lebih kondusif. Tanpa itu, upaya bank sentral hanya dapat menahan laju pelemahan.

Pasar biasanya menilai efektivitas kebijakan moneter dari konsistensi dan ketepatan waktu intervensi. Ketika tekanan global dan domestik datang bersamaan, beban stabilisasi menjadi lebih berat. BI perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan likuiditas pasar. Tantangan tersebut membuat arah rupiah masih rentan terhadap perubahan sentimen.

Ke depan, pelaku pasar akan memantau perkembangan geopolitik, kebijakan The Fed, dan kebutuhan dolar domestik secara bersamaan. Tiga faktor itu berpotensi menentukan apakah rupiah mampu menemukan titik stabil dalam waktu dekat. Selama tekanan eksternal belum mereda, rupiah masih menghadapi risiko pelemahan lanjutan. Pasar pun menunggu sinyal yang lebih kuat dari bank sentral dan arah kebijakan global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!