Rupiah Tertekan, Analis Prediksi Tembus Rp 18.000

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 01 Juni 2026 13:27 WIB 4
Rupiah Tertekan, Analis Prediksi Tembus Rp 18.000

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih melanjutkan tren pelemahan pada pekan depan. Sejumlah analis menilai mata uang Garuda berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar AS jika tekanan pasar terus berlanjut.

Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor teknikal, tetapi juga persoalan struktural dalam ekonomi nasional. Ia menyebut tekanan dari impor energi, kebutuhan dolar untuk dividen, hingga sentimen kebijakan pemerintah ikut memperburuk pergerakan rupiah.

Tekanan Rupiah Kian Besar

Ibrahim menilai rupiah masih berada dalam fase rentan karena tekanan eksternal dan domestik berjalan bersamaan. Menurut dia, pasar kini semakin sensitif terhadap setiap perubahan arah kebijakan dan kondisi global.

Ia memperkirakan level Rp 18.000 menjadi batas psikologis yang mudah ditembus jika tekanan berlanjut. Setelah itu, menurut dia, rupiah berisiko bergerak lebih lemah ke area Rp 18.200.

Dalam pandangannya, pelemahan ini menunjukkan bahwa pasar belum menemukan katalis kuat untuk memulihkan kepercayaan terhadap rupiah. Ketidakpastian yang tinggi membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.

Impor Energi Menambah Beban

Ibrahim menyoroti defisit transaksi berjalan yang masih dipengaruhi kebutuhan impor energi, terutama minyak mentah. Kondisi itu membuat permintaan dolar di dalam negeri tetap tinggi.

Ia menjelaskan, harga minyak yang lebih mahal dari asumsi APBN turut menekan posisi fiskal pemerintah. Di saat yang sama, rupiah yang melemah membuat biaya impor semakin berat.

Menurut dia, beban impor energi menjadi salah satu faktor struktural yang sulit diatasi dalam waktu singkat. Hal ini membuat tekanan terhadap rupiah berpotensi bertahan lebih lama.

Dividen Asing Dorong Dolar

Selain impor energi, permintaan dolar juga naik karena kewajiban pembagian dividen oleh perusahaan asing di Indonesia. Kebutuhan tersebut membuat arus dolar keluar dari pasar domestik semakin besar.

Ibrahim mengatakan kondisi ini ikut memicu kegaduhan di pasar valuta asing. Saat pasokan dolar terbatas, tekanan terhadap rupiah menjadi lebih mudah terjadi.

Ia menilai kombinasi antara kebutuhan dividen dan lemahnya pasokan dolar menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung mencari aset yang lebih aman.

Kebijakan Baru Picu Kekhawatiran

Di sisi lain, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI ikut menekan sentimen investor. Menurut dia, perubahan yang berlangsung cepat memunculkan ketidakpastian regulasi.

Bhima menilai kebijakan tersebut memang bertujuan baik untuk menekan praktik transfer pricing dan under invoicing. Namun, minimnya sosialisasi membuat pelaku usaha dan investor meragukan kepastian aturan di Indonesia.

Ia juga menyoroti kekhawatiran pasar terhadap defisit APBN dan beban program pemerintah yang dinilai cukup besar. Jika sentimen negatif ini berlanjut, pelemahan rupiah dikhawatirkan bergerak lebih cepat menuju Rp 19.000 per dolar AS.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!